The End Of The Story

Saya tidak tahu sudah berapa lama saya terpaku di atas kasur ini. Memandang nanar ke layar laptop itu, menunggu jawaban yang selama ini saya tunggu. Mungkin lebih tepatnya menunggu akhir dari cerita ini, cerita yang sudah larut dan membuat saya mengantuk.

Ya, kisah percintaan saya dengan Akbar

Saya harap begitu, paling tidak, cerita ini punya akhir seperti layaknya cerita lainnya. Sekalipun ada juga cerita yang dibiarkan koma, tapi saya ingin ini semua ada titiknya. Terserah mau manis atau pahit, saya tidak peduli. Cerita ini sudah terlalu lama terbang di udara. Saya ingin segera mendarat sekalipun berat.

Saya tidak mau lagi seperti sebelumnya, lagi-lagi memberinya kesempatan untuk mengulur-ngulur waktu. Memberinya ruang untuk membuat saya kecewa untuk ke sekian kalinya.

Paling tidak, begitu rencananya. 

Walaupun pada akhirnya saya selalu melanggarnya. Melanggar ikrar untuk pergi apabila dia tidak juga memberitahu orang tuanya tentang hubungan kami. Selalu, saya biarkan Akbar menunda lagi untuk bicara kepada ayahnya tentang hubungan kami. Hubungan yang telah berjalan selama tujuh tahun sepuluh bulan secara underground yang saat ini telah masuk ke fase serius.

Tunggu, Serius?

Pada saat ini saya kehilangan keahlian saya dalam mendefinisikan sesuatu. Lebih tepatnya, saya memang tidak ingin secara presisi menerjemahkan arti kata serius dengan menggunakan kamus akal sehat saya. 

Yang saya gunakan hanyalah kamus percintaan picisan usang yang selalu dia ucapkan. Saking usangnya saya sampai hapal kata-kata yang akan dikeluarkannya untuk menggambarkan keseriusannya kepada saya. Betapa cintanya dia pada saya. Betapa dia ingin menjadikan saya rumah untuk masa depannya.

“Kamu sabar ya ra, aku akan bilang sama ayahku tentang hubungan kita. Nanti kalau ayah pulang aku janji aku akan bicara. Aku akan bilang kalau aku cuma bisa sama kamu, aku nggak akan mau sama yang lain, aku cuma mau nikah sama kamu?”. Begitu dia biasa mengatakannya.

Dan saya cuma bisa menjawab, “ya”

Selama ini, saya mengartikan kata serius dengan cara mempercayainya saja. Mempercayai ucapannya bahwa dia serius menjalani hubungan ini meskipun diam-diam dari keluarganya. Sembunyi-sembunyi. Selama tujuh tahun sepuluh bulan 8 hari.

Seriously?

Lagu No Air – Jordin Sparks dan Chris Brown saya biarkan terulang-ulang pada mp3 player laptop ini bergantian dengan repetisi bunyi pop up notifikasi chat Yahoo Messanger. Saya biarkan laptop ini menampilkan tarian screensaver yang membuncahkan cahaya warna-warni kesana-kemari. Sesekali saya goyangkan mouse untuk membuka chatting window Akbar. Di sana tertulis :

Akbar is typing…..

Saya hanya terpaku menunggu beritanya karena hari ini adalah hari yang dijanjikan. Tepatnya, yang sekali lagi dijanjikan. Untuk ke sekian kalinya.  Bedanya, saya tidak tahu apakah setelah ini saya masih sanggup untuk membuat janji seperti ini lagi.

Senin lalu Akbar bilang ayahnya pulang dari berlayar. Kali ini pulangnya agak lama karena kapal tempat ayahnya bekerja akan sandar selama seminggu di Indonesia. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, lewat sudah. Hari ini sudah Sabtu. Hari terakhir ayahnya berada di rumah dan Akbar belum bicara sepatah katapun tentang hubungan kami kepada ayahnya.

Window chat room saya dan Akbar sudah terbuka sejak pagi tadi. Waktu menunjukkan pukul 11.00 sekarang dan saya belum sarapan. Satu minggu ini saya dibuatnya deg-degan sampai kehilangan nafsu makan. Tapi yang terjadi sejak tadi pagi hanyalah percakapan biasa. Percakapan default orang pacaran yang biasanya mempan membuat jiwa saya kenyang sementara. Namun hari ini, saya mati rasa. Tidak berselera membalas pertanyaan-pertanyaan standarnya.

“sayang..”

“sudah makan?

“sudah mandi?”

“gimana tugasnya? sudah selesai?”

“hari ini mau ngapain aja?”

Saya biarkan chat-chat itu bertanda delivered di window chat Akbar. Saya biarkan dia bertanya-tanya. Saya tau itu akan membunuhnya. Karena dia tahu bahwa diam bukanlah style saya. 

Saya selalu mengatakan apa yang saya rasakan, mendebatnya habis-habisan, mencacinya jika diperlukan. Diam seperti ini akan membuatnya menerka dan menyangka-nyangka tentang apa yang saya rasakan.

Desktop laptop saya berubah menjadi layar hitam lagi dengan tarian screensaver mengganti tampilan window chat room yang semula terbuka. Tidak lama, bunyi panggilan chat dari Akbar datang lagi.

“Buzz”

“Buzz”

“hei, masih di sana?”

Saya yakin dia juga tau apa yang paling saya ingin tahu saat ini. Percakapan yang selama satu minggu ini saya nanti. 

Dan akhirnya saya memberanikan diri.

“Gimana, bar?”

Kata itu keluar memecahkan suasana chatting yang mulai garing.

Lagi-lagi yang saya lihat:

 Akbar is typing…

Herannya, percakapan sepenting ini kenapa harus berlangsung secara online? selalu berlangsung seperti ini. Ujian hubungan saya dengan Akbar bukan hanya pada durasi hubungan yang terlalu lama untuk ukuran orang pacaran dan tidak direstui orang tua, tapi kami juga terkendala hubungan jarak jauh. Sehingga komunikasi selalu mengandalkan telefon dan media percakapan online.

Hubungan kami berawal saat kami sama-sama duduk di kelas 3 SMA. Tahun pertama kami habiskan bersama. Tahun ke dua sampai ke-lima, kami terpisah jarak karena saya menempuh kuliah di luar kota. Tahun ke-enam kami kembali bersama tepat setelah saya lulus kuliah. Saya dan Akbar sama-sama bekerja di satu kota. Tahun ke-tujuh yaitu saat ini, kami kembali terpisah jarak. Saya kembali melanjutkan studi di luar kota.

Dari kronologi tersebut, ada banyak sekali kesempatan yang bisa saya gunakan untuk meninggalkan Akbar. Tetapi saya memilih bertahan. Bertahan, dari jaman ibu saya panik saat tahu anaknya mulai pacaran sampai panik karena anak gadisnya masih juga lajang di saat anak tetangga silih berganti mengirim undangan. 

Kata orang, cinta saya ke Akbar itu buta. Namun rasanya bukan itu. Saya ini pemalas. Saya terlalu malas untuk membuka hati pada hubungan baru. Terlalu malas untuk menghapal lagi hari-hari penting dan mempelajari personalitas orang baru. Ganti pacar berarti akan banyak angka yang harus saya hapal dari awal lagi; tanggal jadi, nomor hand phone, nomor sepatu, takaran gula pada kopi kesukaannya, kadar asin yang dia suka dalam makanan dan camilannya. Dan masih banyak lagi

Dan saya terlalu malas untuk melakukan itu semua.

Ganti pacar juga berarti harus mengganti password email, sosial media dan kartu-kartu ATM saya karena semua password saya atur sesuai tanggal jadian kami yang merupakan tanggal cantik di tahun 2002. Yang demi tanggal tersebut, Akbar bersikeras untuk mengungkapkan perasaannya.

Via telefon.

Karena saat itu banjir bandang melanda Jakarta dan sekitarnya. Dan saya setuju begitu saja. 

Bodoh.

Tapi mungkin benar juga kata orang. Saya buta. Karena saya tidak mampu melihat apapun di pikiran saya jika Akbar tidak bersama saya lagi suatu hari nanti. Terlalu gelap untuk bisa saya terka bagaimana nantinya. Saya terlalu pengecut untuk berupaya mencari cahaya baru jika Akbar pergi. Saya tidak punya kemampuan untuk membayangkan bahwa akan ada seseorang yang mungkin bisa mencintai saya lagi.

Pemalas, buta dan satu lagi, rendah rasa percaya diri.

Saya seringkali menilai terlalu rendah diri sendiri untuk urusan yang berkaitan dengan laki-laki. Bagaimana tidak, laki-laki pertama yang saya suka malah naksir sahabat saya habis-habisan. Laki-laki ke dua, yang pada awalnya saya kira naksir saya juga, menghindar seribu langkah di saat salah satu teman membocorkan bahwa saya menyukainya. Laki-laki ketiga, adalah laki-laki yang terobsesi membuat saya merasa tidak berharga karena cintanya saya tolak. Balas dendam dengan melakukan PDA di depan saya dengan pacar barunya setiap hari di sekolah. Untuk membuat saya merasa bersalah telah menolak dia. Untuk membuat saya merasa tidak istimewa. Untuk membuat saya merasa kalau dia tidak benar-benar serius menyukai saya pada awalnya. Untuk membuat saya merasa bahwa saya tidak pantas dicintai.

Kemudian Akbar hadir ke dalam hidup saya dengan kesederhanaannya, kepintarannya, keluguannya, ketidak-peduliannya, ke-anti-mainstreem-annya. 

Akbar adalah antitesis dari tipologi remaja jaman itu yang berkiblat pada tren dan pemikiran-pemikiran dangkal tentang kehidupan. Dia kritis, sarkastis, tapi manis.

Dia dalam, tapi juga menyenangkan.

Namun Akbar terlalu lama saya biarkan mengendalikan hubungan. Kemana arahnya, saya hanya ikut saja. Dia yang pegang kendali tentang prioritas dalam hubungan ini. Dia juga yang memutuskan apa saja patut dan tidak patut dilakukan menurut standar norma yang diyakininya. Dan seperti biasa, saya setuju saja. Setuju dengan hampir semua pemikirannya.

Termasuk saat dia ingin saya setuju bahwa saya adalah orang yang paling istimewa di dunia. Juga di saat dia ingin sebaliknya.

Saat dia ingin saya percaya bahwa dia punya prioritas lain yang jauh lebih penting.

“Gimana apanya, Rara”

Akbar menjawab.

Sesuatu terasa seperti terdorong keras dari dalam perut dan membuncah di ujung kerongkongan saya. Membuat mulut ini tak kuasa meletupkan tawa. Saya pikir jawaban itu lucu. Tapi tunggu, bukan jawaban Akbar yang lucu. Tapi kebodohan saya.

Saya terpingkal sendirian di ujung kamar kos yang berantakan. Menertawai kehidupan. Bisa-bisanya dia tanya “gimana apanya?” bisa-bisanya saya menganggap serius sesuatu yang bagi Akbar tak penting diurus.

Dari chat room terdengar berkali-kali panggilan dari Akbar dan saya diamkan saja sampai dia paham. Sampai akhirnya dia pun mengerti,

“Ayah udah pergi, ra. Aku belum sempat bicara, timingnya nggak tepat”

Kali ini dia sedang membuat saya percaya kalau saya memang perempuan paling tidak berharga bagi hidup dia. Yang bisa seenak-enaknya diumpani janji untuk tidak ditepati. Yang bisa semena-mena disuruh menunggu tanpa batas waktu. 

Saya terpaku membaca pesan itu dan tidak tahu harus berbuat apa. Marah? apa gunanya? menangis? tidak akan digubris. Berdamai dengan keadaan dengan menjawab, “Ya udah nggak apa apa.. lain kali saja ngomongnya” seperti yang biasanya saya lakukan?

Tujuh tahun lamanya saya menikmati cerita yang tak berujung ini. Berupaya mengikuti kemanapun angin mendorong saya untuk berlari. 

Namun kali ini saya sadari, 

Ada saatnya untuk berhenti.

Saya biarkan screensaver laptop kembali mengganti window chat kami. Perlahan saya berjalan keluar kamar dan berupaya memahami. Bagi Akbar, saya pasti akan kembali. Kata maaf pasti akan membanjiri, tangis sesal akan dia hujani, untuk saya yang dia pikir akan datang lagi.

Namun tidak kali ini.

-END-

Please follow and like us:

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *