Psycho-Test dan On The Spot Essay Writing (Yang terlupakan dari SBK LPDP)

Beberapa waktu lalu ketika membahas pengalaman mengikuti tes SBK, saya hanya terfokus ke TPA yang berisikan soal aritmatika, logika penalaran dll, padahal ada lagi 2 tes setelahnya. Saking menjelaskan TPA nya aja udah panjang gitu ya, jadi kelupaan mau bahas 2 tes yang nggak kalah penting yaitu psycho-test dan on the spot essay writing.

Masih berbasis komputer, kedua tes ini akan dikerjakan setelah TPA selesai dan keluar skornya. Bedanya dengan TPA, pada psycho-test dan on the spot essay writing, tidak ada nilai yang akan keluar setelahnya.

Saya coba jelasin satu-satu ya..

Psycho-test berisikan kira-kira (agak lupa juga sih) 40 soal soal pilihan ganda. Pada tes ini, yang ingin dinilai seputar integritas, loyalitas, hmm..apalagi ya, intinya sih sepertinya ingin menilai personaliti kita dan kapabilitas soft skill. Tes ini waktunya jg terbatas, makanya nggak bisa pake bingung-bingung ngerjainnya karena soal dan jawaban pilihan gandanya itu panjang-panjang kalimatnya. Jadi, membaca soal dan jawabannya saja sudah cukup memakan waktu.

Tes ini juga nanti nilainya nggak menjadi dasar pertimbangan lolos tes SBK karena (dengar-dengar) yang menjadi patokan adalah skor TPA di sesi pertama. Namun, hasil tes ini katanya sih akan digunakan oleh para juri LPDP sebagai bahan wawancara kita nanti.

Setelah psycho test selesai, layar komputer langsung mengarahkan kita untuk lanjut mengerjakan soal on the spot essay writing.

Nah, bagi saya bagian on the spot essay writing tuh susah banget. Bukan hanya karena waktunya yang terbatas namun juga karena topiknya yang juga sulit. Kalau kamu melamar LPDP untuk kuliah di luar negeri, maka soal essay yang keluar di layar monitor adalah soal berbahasa Inggris dan harus kita buat essaynya dalam B. Inggris juga. Nah kebetulan saya memang tujuan kuliahnya ke LN jadilah harus ngisi essai ini pakai B. Inggris.

Saya berikan gambaran, jadi, nanti di layar kita ada wacana/artikel tentang suatu topik. Pada waktu itu, saya kebagian topik tentang Stunting. Perintahnya adalah, saya harus membuat rancangan yang komprehensif untuk mengatasi masalah stunting tersebut. Duh, saya nggak banyak baca soal stunting sebelumnya.. namun pernah sekali waktu baca tentang hal tsb di sosmed orang. Jadi sumpah ya, agak bingung juga mau nulis tentang stunting. Hiks..

Pada saat essay writing ini, kita akan mendapati suasana yang sangat berisik karena seisi ruangan akan serempak menulis dengan menggunakan keyboard. Jadi buat kamu yang hanya bisa mendapatkan fokus di suasana yang hening, kamu bakal struggle banget.

Tips untuk tes ini, kalau buat yang pernah ngalamin belajar untuk writing IELTS/TOEFL IBT, saya rasa akan lebih familiar dengan soal seperti ini. Tipenya memang mirip dengan writing IELTS dan TOEFL IBT. Karena saya pernah ikut kursus IELTS dan beberapa kali latihan menulis, jadi nggak yang kaget-kaget amat meskipun ya tetap kesulitan.Saya juga masih memakai trik yang sama ketika menulis yaitu, membuat dulu kerangka tulisan baru deh ditulis secara utuh di komputer. Nah untuk hasilnya, saya nggak tahu deh gimana.. karena waktu itu saya termasuk yang selesai di detik-detik terakhir.

Baiklah, sekian dulu, semoga bermanfaat 🙂

Please follow and like us:

A Stubborn Lover

I am gonna make a little mess in me

Like I am gonna feel the pain inside me

Like I am gonna sit still under the tree

Like I am gonna drink a sip of a bitter tea

And I am gonna capture you in my brain

feeling your gaze, trying to understand

speaking my love without any bargain

relish your abstain, again and again

And i know,

from the first time your eyes flashed mine, i was on fire

from the first time my heart told me so, i wasn’t a liar

from the first time i felt this ache, i felt admire

But then I wish,

you don’t mind,

Cause my heart, is already blind

can only capture you from behind

imagine our scene, and then rewind

Bandar Lampung, December 18, 2017

Please follow and like us:

What a beautiful Moment..

(Disclaimer: Tulisan ini saya buat pada tahun 2007 di blog pertama di blogspot yang saya sudah tidak tahu lagi passwordnya. Tulisan ini ceritanya lagi mengenang masa-masa indah kuliah di Malang. Namun ditulis setelah saya lulus dan sudah bekerja)

Waktu jaman-jamannya kerja kelompok untuk ngerjain tugas-tugas kuliah, secara alami terbentuklah sekelompok orang aneh yang nggak pernah bisa serius barang satu jam ajah.. sialnya lagi-lagi kami sekelompok hampir di tiap mata kuliah dan hampir di tiap semester! (bener-bener kutukan), saking ga ada lagi yang mau sekelompok sama kami ini.. hiks.

Tiap kali pulang kuliah dan berencana untuk kerja kelompok di tempat kos salah satu anggota kelompok (pokoknya yang kamarnya paling gede) nomor satu yang dicari pasti makanan, nomor 2, filem. Alhasil, sampe tempat tujuan, kami makan dan nonton VCD sewaan, abis itu semua cari-cari posisi untuk yah, apalagi kalo bukan molor! yah, memang begitu adanya.. tapi herannya prestasi kerjaan kami cukup memuaskan kok, walopun jadinya bener-bener mepetttttt banget sama deadline.

Kalo inget masa-masa kerja kelompok di kampus rasanya indah banget..

Saking solidnya nih kelompok belajar, kami sampe janjian foto bareng di studio dengan dresscode warna biru. Tapi, adaaaa aja kendala nya! pertama, waktu mau foto ceritanya janjian di himpunan jam 10, gue dan Brina (yang kebetulan satu kos) udah dateng dengan dandanan cantik (bener-bener niat foto dah) dateng ke kampus. Dan sesampainya di sana.. ga da orang!

Lama-lama terkumpul sedikit demi sedikit, Rahma, Nophe, Uut, Imel, Irma, dan Tita, dateng.. cewek nya doang nih yang baru dateng kecuali Nikie! nih anak emang susah banget dicari. Sedangkan kaum pria nya, humf… sama sekali blom ada yang dateng!

Ada yang masih tidur lah, ada yang bingung nyari baju warna biru, ada yang tidak terdeteksi keberadaanya.. pokoknya adaaaa ajah! sampe akhirnya cape nunggu, temen-temen cewek pada main ke kos gw untuk solat dzuhur.

Abis Dzuhur balik lagi ke kampus untuk tetep mengukuhkan niat pengen foto bareng, sampe akhirnya terkumpullah seluruh anggota “Cincong Community”.

Namun masalah belum usai sampai di sini.. Panitia foto bersama salah menghitung jumlah orang dan jumlah motor yang tersedia. Motor kurang satu lagi! alhasil temen-temen repot nyari pinjaman motor, namun akhirnya berhasil minjem salah satu motor yang diparkir di himpunan (ntah motor siapa)..

Gw kira masalah sudah usai nih ye.. ternyata cobaan untuk foto bersama adaaa ajah, helm kurang! waktu itu kayaknya tinggal Nikie yang blom pake helm.. agak lupa nih ceritanya, kayaknya waktu itu minjem helm yang lagi nagkring di himpunan tanpa ijin.

Fuh, akhirnya motor lengkap, personil lengkap, helm pun juga lengkap. Pergilah kami kayak konvoi (6 motor jalan beriringan) mencari studio foto. Dapet di sekitar jalan Kawi sebuah studio foto, maka berhentilah kami. Diutus Shofi dan Rahma nyamperin tuh studio untuk nanya harga, ternyata (bukannya mahal banget) tapi pada saat itu harga yang ditawarkan studio tdk sesuai dengan kemampuan finansial kami. Foto untuk 11 orang (waktu itu ber 11 sih) harganya sekitar 60-100.000 rupiah. Shofi dan Rahma liat-liatan dengan wajah agak aneh dan sepakat melirik ke arah sebrang jalan tempat teman-teman pada markirin motor.

Dilihat dari kejauhan, kok teman-temanku pada melas mukanya, tampang nggak punya duit udah mendominasi tampang mereka..yah maklumlah, tugas-tugas kuliah di sekolah Arsitektur sungguh menguras kantong kami, dari urusan beli kertas, ngeplot, benerin rapido, bikin maket, ngeprin tugas kelompok, tugas pribadi, ampun.. pokoknya pengeluaran mmg banyak benget! Akhirnya dengan tampang tak berdosa rahma mengakhiri proses penawaran keorang studio, dan shofi dengan sigap memberi kode ke sebrang jalan (tempat temen-temen parkir) dengan melambaikan tangan dan menggerakkan bibir berbentuk (GAK JADI, MAHAL), temen-temen dengan muka lemas menghidupkan kembali mesin motor dan kami siap mencari tempat lain.

Akhirnya dapet! studio yang lokasinya agak jauh dari wilayah kampus di daerah blimbing (deket rumah rahma). Namanya Else studio, tarifnya murah bo! foto ber 11 harganya 22.000 (urgghhh) dengan satu kali jepreeet… (itupun udah ditawar) dan outdoor, karena studio indoor ga ada yang muat menampung jumlah kami. yah, gapapa.. sing penting FOTO!! WIS NGELUUUUU…


Nah.. jadi deh foto kayak gini.. hm, benernya cuma satu kali jeprett, cuma pas waktu itu shofi bawa camera, dan temen-temen mulai merayu si photografer untuk jepretin lagi pake kamera Shofi.

dari kiri depan: Uut, Shofi, Nophe, Rahma, Nikie,
dari kiri belakang: Tita, Imel, Ipul, Dwi, Nanjar, Irma, Gembil, Brina
(dress code biru? hm, kayaknya nggak kesampe’an tuh)

Foto itu bener-bener foto kenangan yang paling indah deh, karena sekarang kami telah satu tahun kehilangan salah satu personil kami yaitu almarhumah uut.. kadang nggak percaya dia telah tiada. Tapi, yang namanya umur.. gada yang bisa nebak kan? we miss you Uut..

yang ini tambahan dari mas fotografer
dari depan: Nophe, Rahma
baris ke dua: Uut (alm), Irma, Imel, Brina
baris ke tiga: Shofi, Nikie dan Tita

Kalo yang ini waktu masih nyari motor dan helm (posisi di depan himpunan lama)
di foto ini alm uut di tengah, dia jadi vocal point di foto ini..

(Membaca kembali tulisan ini membuat hati miris. Di tulisan tersebut, ada seorang dari kami yang sudah “berpulang” ke Rahmatullah ketika kami sedang di tingkat akhir kuliah. Dan pada awal tahun 2018, Imel, satu lagi teman kami di foto itu “berpulang” juga. May you rest in peace, Uut dan Imel)

Please follow and like us:

Lolos seleksi berbasis komputer (SBK) LPDP BUDI LN 2019. Berapa skor minimal?

Tanggal 25 Oktober 2019, adalah tanggal pengumuman hasil seleksi berbasis komputer (SBK) yang diselenggarakan oleh LPDP pada tanggal 7 Oktober 2019. Alhamdulillah, hasilnya saya lulus. Artinya, dua tahap seleksi sudah saya lewati tinggal satu seleksi lagi yaitu seleksi wawancara yang akan dilaksanakan pada bulan November – Desember awal, dan saya kebagian jadwal Desember.

Di tulisan ini saya mau cerita tentang pengalaman mengikuti seleksi berbasis komputer (SBK) yang dilaksanakan di gedung BKN (Badan Kepegawaian Negara), Cililitan.

Apa sih SBK itu?

Jadi SBK ini sebenarnya nama teknisnya, yaitu semacam tes yang dilakukan secara langsung dan menggunakan komputer. Kontennya mirip dengan Tes Potensi Akademik yang memuat tentang kemampuan aritmatika, logika dan bahasa. Karena berbasis komputer, skor hasil tes akan langsung muncul ketika kita klik tombol selesai atau ketika waktu telah habis.

Bagi kalian yang sudah pernah ikut tes CPNS, kalian pasti akan lebih familiar dengan tes ini. Namun, biasanya jenis soal disesuaikan lagi dengan capaian yang telah ditarget oleh pihak yang berwenang.

Kebetulan saya mendapat lokasi tes di tempat yang memang sering digunakan untuk tes berbasis komputer. Jadi, semua elemen ruang itu terdesain untuk tes. Seperti:

  • ada banyak sekali locker untuk peserta ujian meletakkan barang-barangnya selama tes. Jadi ketika tes, nggak boleh bawa apa-apa sama sekali. Hanya bawa KTP dan kartu tanda peserta saja
  • ada ruang tunggu yang di dalamnya terdapat TV besar. TV tersebut menayangkan tata cara pengisian tes berbasis komputer. Mulai dari pengisian identitas, cara mengisi lembar jawaban di layar dan cara mengakhiri pengerjaan soal
  • ada toilet dengan jumlah yang cukup banyak
  • ruang tes yang sangat luas berisikan komputer

Seperti apa kira-kira soal SBK

Untuk SBK LPDP, ada 60 soal yang masing-masing soalnya jika kita jawab dengan benar maka skor yang akan diberikan adalah 5. Jadi kalau kalian menjawab semua soal benar semua maka akan mendapatkan skor 300.

Soal mirip sekali dengan soal tes potensi akademik,

  • ada soal tentang sinonim-antonim,
  • ada soal matematika dasar seperti deret, persamaan, bangun ruang, hitung diskon, hitung pecahan, desimal, soal cerita, dan soal-soal matematika yang sederhana
  • ada soal penalaran logika
  • ada juga soal “reading”. Jadi ada wacana/artikel dan pertanyaan

Berapa skor yang menjadi syarat lolos SBK LPDP

Jadi, sekalipun skor ini langsung keluar, namun pengumuman resmi baru akan dikeluarkan sesuai dengan jadwal yang tertera di pengumuman awal bukaan Beasiswa LPDP.

Skor minimal sepertinya tidak pernah dikomunikasikan secara terang-terangan oleh LPDP. Namun, seperti biasa, para peserta membuat mini research terhadap peserta lain yang lolos dan tidak lolos. Jadi, seperti sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk beasiswa reguler, minimal itu 185 dan untuk Afirmasi 150.

Kesimpulan ini didapat dari hasil survei ke sesama peserta LPDP. Saya juga berusaha melakukan riset sendiri soal skor ini melalui tulisan blog, video youtube, dan skor kenalan-kenalan yang sudah duluan ikut tes di gelombang pertama.

Namun, hasil yang saya dapat, di blog ada yang bilang kalau nilai SBK nya 145 dan ia tidak lulus. Ada juga kenalan yang lolos SBK dengan nilai 165. Saya belum mengetahui siapa orangnya jika benar 150 itu adalah standar bawah untuk beasiswa afirmasi. Fyi, saya ikut seleksi LPDP untuk program BUDI dan BUDI ini termasuk afirmasi.

Setelah menyelesaikan tes, saya mendapat skor 150. Jeng… jengg… antara senang tapi ragu. Senang karena katanya 150 ini passing grade, ragu karena kok mepet amat??? dan belum tahu pasti apakah skor 150 ini bisa meloloskan saya di tahap seleksi ini.

Namun semua kegundahan ini terjawab ketika tanggal pengumuman datang. Alhamdulillah saya lolos… rasanya jantung mau copot ketika membuka aplikasi online.. hehe.

Ini tampilan di laman aplikasi online

TIPS dan Persiapan apa saja yang perlu dilakukan

Tips dari saya sebenarnya standar aja..

  • Beli buku soal-soal TPA dan be familiar with it. Penting banget untuk kita supaya familiar dengan jenis-jenis soal. Terutama buat orang-orang yang interaksinya sama matematika terakhir itu SMA seperti saya.
  • Bisa juga langganan kursus TPA online melalui aplikasi di hp. Teman saya ada yang seperti itu dan dia lolos tes SBK
  • Jangan underestimate soal sinonim dan antonim, karena ternyata susah. haha… Saya banyak yang nggak bisa mengerjakan soal tersebut, akibat selama belajar terlalu fokus di soal matematika
  • Ketika tes, sensitiflah sama waktu. Jadi di layar nanti ada tampilan waktu berupa jam, menit, detik. Jangan terlalu lama di satu soal. Skip aja dulu kalau tidak bisa, karena kita bisa balik lagi ke soal tersebut kapanpun kita mau.
  • Soal yang sudah kita kerjakan, masih bisa kita koreksi jika waktu masih cukup
  • Jangan sampai kehabisan waktu karena asyik atau penasaran dengan 1 soal. Karena ketika waktu habis, layar langsung berubah sendiri ke tampilan hasil skor
  • Coba banyakin buka blog atau video youtube yang berisikan tentang pengalaman mengikuti tes SBK karena bisa jadi pengalaman orang beda-beda dan bisa bermanfaat untuk kita.

Oke, sekian sharing kali ini.. terimakasih yang sudah mampir ke blog ini. Semoga sukses meraih beasiswa. Doakan saya juga ya supaya bisa lolos seleksi wawancara. Amiiin…

Please follow and like us:

Cara Mendapatkan Supervisor untuk Studi Doktoral di Luar Negeri (Australia)

Setelah di postingan sebelumnya saya sudah berjanji untuk menceritakan pengalaman saya untuk mendapatkan profesor/supervisor, maka, di tulisan ini saya akan berikan penjelasan yang mendetail dari proses mapping profesor sampai ke surat-menyurat melalui email.

Proses pencarian profesor ini adalah tahap yang cukup menantang karena kita nggak kenal secara langsung dengan profesor tersebut, yang bisa kita lakukan sebagai langkah awal hanyalah mencari info sebanyak-banyaknya melalui web kampus tujuan dan kanal-kanal jurnal internasional. Namun, saya pribadi lebih banyak melakukan survei via web kampus tujuan karena detail deskripsi tentang profesor beserta link-link publikasinya juga tersedia di sana.

Pada tulisan ini, yang akan saya bahas hanyalah untuk profesor di kampus-kampus, khususnya yang ada jurusan Environmental Design/Architecture, dan di negara Australia. Karena saya hanya melamar profesor ke negara itu saja. Nah, di Australia, beberapa kampus (ada juga yang tidak) menyaratkan untuk kita kontak faculty member (istilah untuk dosen-dosen atau profesor yang bekerja di kampus bersangkutan) dulu baru bisa apply secara resmi ke website kampus. Nah, proses ini merupakan proses yg cukup panjang bagi saya karena ternyata susah! Susahnya yaitu alangkah terbatasnya dosen-dosen yang minat risetnya sehati sama kita.

Untuk mempermudah, saya melakukan mapping Profesor. Mapping ini maksudnya saya menyusun data terkait kampus mana saja yang punya program sesuai dengan bidang saya, profesornya yang kira-kira seminat sama saya dan persyaratan lain yang harus saya penuhi.

Saya data satu persatu nama profesor yg bidang risetnya sejalan dan saya catat alamat emailnya. Fyi, kalau website kampus-kampus yang bereputasi itu, data tentang dosennya sangat jelas dan rinci. Ada deskripsi minat dosen, topik riset, mata kuliah yang diampu, riwayat studi dan juga alamat email.

Seperti ini mapping yang saya buat

Sudah dapat daftar nama profesor yang akan dilamar, alamat email juga sudah, lalu bagaimana lagi?

Mulai dari tahap ini, fase real struggle dimulai. Karena kita harus menyusun dokumen yang cukup meyakinkan untuk memberi impresi pada profesor yg kita incar. Juga, proposal riset dan CV kita juga harus sudah jadi, tertulis rapi dan terstruktur sebaik mungkin. Sebenarnya proposal saya juga biasa-biasa aja sih, masih banyak kurangnya. Tapi yang penting adalah jadi dulu, daripada menunggu proposal sempurna. Anggap saja uji jimat, kalaupun misalnya nggak dapat respon dari profesor, ya berarti proposal kita memang jelek. Hahah

Proposal sudah, CV sudah, wah artinya kita sudah siap tempur! hehe. Namun, masih ada satu PR lagi. Kita harus mempersiapkan kata-kata “maut” untuk menyurati profesor incaran kita. Jadi, proses mencari profesor ini saja udah bikin saya evolve, rasanya luar biasa banget bisa memotivasi diri dengan senang hati, eh tanpa sadar, bisa mengembangkan potensi kita di luar dugaan.

Ok, kita serius ke bagian penulisan surat.

Saya dinasihati teman kalau profesor-profesor itu pasti menerima ratusan email setiap harinya. Jadi, buatlah judul email yg tidak standar dan “menggiurkan” walaupun ya baru janji manis saja. Seperti:

“PHD Supervisor for Fully-Funded Indonesian Lecturer”

Nah dari judul tersebut kan ada kandungan “janji manis” yaitu Fully-Funded, meskipun ya kita belum mendapatkan funding apapun tapi paling tidak kita menarget diri kita untuk mendapatkan beasiswa yang fully funded. Judul seperti itu cukup mempan mengundang respon profesor sekalipun responnya rata-rata menolak. hahaahha sabar.. sabar…

Badan surat : sebenarnya di badan surat ini saya banyak nyontoh emailnya temen saya sih ke profesornya. Hihi.. tp ternyata mempan! Makasih ya Tita. Awalnya dia marah sih, tapi kayaknya udah nggak sih karena akhirnya dia juga udah dapet profesor bahkan beasiswa sekaligus. Asekk..

Intinya dalam badan surat ini, kita harus mengungkapkan secara jelas kita siapa, latar belakang pendidikan kita, latar belakang pekerjaan kita dan benang merahnya terhadap riset yang mau kita kerjakan serta kenapa harus dia yang supervisi kita. Tunjukkan bahwa kita prospektif dalam mendapatkan beasiswa karena pihak kampus si profesor kan juga butuh mahasiswa yang bisa bayar ya…

Kita perlu menjelaskan bagaimana rencana kita untuk membiayai program doktoral ini, jadi perlu dicantumkan nama beasiswa yang akan kita lamar, peluang kita dan kapan kira-kira kita bisa mendapatkan beasiswa tsb.

Karena saya dosen, jadi saya menyebutkan kalau saya akan melamar beasiswa dari pemerintah Indonesia karena pemerintah Indonesia mempunyai beberapa program beasiswa yang dikhususkan untuk dosen. Jadi, dengan kata lain, status dosen saya adalah peluang keberhasilan dalam meraih beasiswa tersebut. Jangan lupa untuk sering-sering memeriksa tulisa kita di email. Jangan sampai ada kata-kata yang kurang sopan atau typo.

Nah, setelah draft surat sudah jadi, Nah tinggal disebar deh.. ke alamat email profesor yang sudah kita map di atas.

Kira-kira seperti ini email yg saya buat waktu itu:

Dalam proses penebaran lamaran ke profesor, kira-kira lebih dari 20 nama sudah saya email. Namun, yang merespon positif pada waktu itu hanya 1, yaitu profesor dari Canberra University, itupun saya harus mengganti topik riset saya jika ingin tetap dibimbing beliau. Sisanya menolak dan tidak merespon. 

Berusahalah untuk tetap sabar dan santai sambil ya.. tetap coba cari alamat email baru lagi.

Namun akhirnya, setelah 1 bulan proses tebar email ke profesor-profesor, akhirya saya dapat email balasan dari profesor di UNSW Sydney. Di surat yang saya jadikan contoh di atas, bisa terlihat kalau saya menyurati profesor tersebut pada tanggal 10 April, namun, baru dibalas pada tanggal 10 Mei. Agak kaget karena saya pikir kalau sudah terlalu lama mengemail seseorang, harapan akan dibaca semakin tipis. Tapi ternyata rejeki memang nggak kemana, Alhamdulillah, email saya dibalas.

Sejak itu, saya intense berkomunikasi dengan profesor tersebut sampai ke tahap skype, asistensi proposal dan malah, si profesor sudah nanya-nanya terus kapan saya pindah ke Sydney padahal saya belom pasti dapat beasiswa. Hehe

Begitulah pengalaman saya waktu mencari profesor sebagai salah satu tahap dalam mencari beasiswa. Semoga membantu dan bermanfaat.

Please follow and like us:

Pengalaman lolos seleksi administrasi beasiswa LPDP

Hai, ketemu lagi. Mumpung banget nih, yang punya blog lagi mood untuk nulis beberapa artikel sekaligus terkait beasiswa dan elemen-elemen pendukungnya. Nah karena baru-baru ini saya baru saja melalui tahap seleksi SBK (Seleksi Berbasis Komputer) LPDP, jadi, masih hangat-hangatnya nih di otak tentang pengalaman melalui dua seleksi yang disyaratkan LPDP yaitu seleksi administrasi dan seleksi berbasis komputer (SBK), Namun, di postingan ini, saya mau fokus ke seleksi administrasi dulu karena seleksi administrasi itu merupakan langkah awal yang sangat menentukan lanjut atau tidaknya kita ke tahapan seleksi berikutnya. Dan jangan anggap remeh, untuk seleksi administrasi, perjuangannya juga lumayan lho.. karena persyaratan dan dokumen yg diminta LPDP itu cukup banyak. Fyi, ini merupakan pengalaman pertama saya melamar beasiswa LPDP.

Hal yang paling penting untuk menaklukkan seleksi administrasi, menurut hemat saya adalah ketelitian dalam membaca dan memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan dan tertulis di booklet LPDP. (bisa diakses di sini)

Interface web LPDP juga sangat mudah dipelajari sehingga kita bisa langsung klik kolom “beasiswa” untuk dapat lebih lanjut mendapatkan informasi

Setelah kita mempelajari semua persyaratan, baik dari booklet maupun dari website LPDP, mulailah untuk mengisi aplikasi online sambil melengkapi dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan.

Dari web tersebut, kita akan di arahkan untuk membuat akun aplikasi online. Untuk Program BUDI 2019 yang saya lamar, info terkait deadline dan persyaratan, bisa dilihat di sini. Untuk link unduhan booklet pedoman, bisa diklik di sini

Tampilan awal aplikasi online lpdp adalah seperti ini:

Setelah login ke web online application tersebut, kita harus mengisi data seperti:

  1. Data pribadi (terkait alamat, ttl, no. telpon, nama kampus terakhir,dll)
  2. Riwayat pekerjaan
  3. Riwayat organisasi dari kita SMP
  4. Riwayat pelatihan yang pernah kita ikuti
  5. Riwayat studi
  6. Data suami/istri
  7. Data orang tua
  8. terakhir, berupa laman upload dokumen-dokumen yang diminta

Dokumen yang diminta agak banyak, seperti :

  1. Melampirkan surat izin mengikuti seleksi dari unit yang membidangi sumber daya manusia bagi yang sedang bekerja (format dapat diunduh pada aplikasi pendaftaran dibagian unggah dokumen);
  2. Melampirkan Surat Keterangan sehat yang masa berlakunya paling lama 6 (enam) bulan terhitung dari tanggal diterbitkannya sampai tanggal penutupan pendaftaran setiap periode, dengan ketentuan sebagai berikut: Surat Keterangan sehat jasmani yang dikeluarkan oleh dokter dari Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik;
    Surat Keterangan bebas dari narkoba yang dikeluarkan oleh dokter dari Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik/Badan/Lembaga yang diberikan kewenangan untuk pengujian zat narkoba;
    Surat Keterangan bebas dari TBC yang dikeluarkan oleh dokter dari Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik, khusus untuk pendaftar dengan tujuan perguruan tinggi luar negeri
  3. Melampirkan surat rekomendasi dari pimpinan, tokoh atau pakar di bidangnya (format dapat diunduh pada aplikasi pendaftaran dibagian unggah dokumen);
  4. LoA Unconditional dari Perguruan Tinggi Tujuan. (contoh, klik di sini)
  5. Melampirkan surat izin mendaftar beasiswa dari pemimpin Perguruan Tinggi Negeri bagidosen PTN, atau koordinator Kopertis Wilayah bagi dosen Perguruan Tinggi Swasta.
  6. Mendapatkan izin tertulis untuk melanjutkan studi doktoral dari pemimpin Perguruan Tinggi Negeri bagi dosen PTN, atau koordinator Kopertis Wilayah bagi dosen PerguruanTinggi
  7. Surat pernyataan (format dapat diunduh pada aplikasipendaftaran dibagian unggah dokumen)
  8. dokumen transklrip nilai 
  9. Dokumen skor B. Inggris (TOEFL IBT/IELTS/TOEIC)

(sumber: web LPDP)

Nah, semua persyaratan yang banyak ini memang tidak boleh ada yang terlewatkan. Jadi semua kolom di web aplikasi online harus terisi begitupun dengan persyaratan dokumen yang harus diunduh.

Bagi saya yang paling susah itu adalah mendapatkan surat keterangan bebas TBC. Karena harus melalui proses yang tidak singkat di rumah sakit. Tapi alhamdulillah akhirnya semua dokumen bisa saya lengkapi sebelum deadline submisi LPDP tahap 2 2019.

Selain itu, karena saya dosen kampus swasta, maka surat ijin harus dikeluarkan oleh LLDikti. Kalau dosen kampus negeri, cukup surat ijin dari Rektornya saja. Jadi saya harus menunggu beberapa waktu, mulai surat tersebut diajukan oleh pihak kampus saya ke LLDikti sampai akhirnya sampai hardcopynya ke tangan saya.

Setelah semuanya selesai.. tinggal pasrah dan berdoa sampai akhirnya saya dapat kabar pada tanggal yang dijanjikan sebagai tanggal pengumuman, bahwa saya lolos. Pengumumannya melalui web aplikasi online. Alhamdulillah.

Menurut saya, bukan hanya sekedar kelengkapan yang dinilai dalam seleksi administrasi ini, namun keabsahan dokumen. Misalnya, LoA, apakah sudah sesuai dengan standar yang diinginkan LPDP, Sertifikat B. Inggris, apakah masih berlaku atau sudah expired. Begitupun juga dengan surat kesehatan, narkoba, dan bebas TBC. Saya rasa semua itu dicek keabsahannya. Namun, LPDP tidak memberi konfirmasi mengapa seseorang ditolak dalam seleksi ini. Jadinya, saya sama teman-teman seperti membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri. Seperti, ada beberapa teman yang LoA nya dikeluarkan oleh jurusan/fakultas/profesor, mereka nggak lolos seleksi administrasi. Namun, yang pakai LoA keluaran Universitas, diterima. Jadi, bisa jadi karena LoAnya.. (tp ini hanya kesimpulan yang dibuat melalui obrolan bersama teman-teman). Kalau mau tahu bagaimana saya mendapatkan LoA, bisa klik di sini

Oya, perlu juga digaris-bawahi bahwa kita perlu cek kampus yang memang ditunjuk oleh LPDP untuk kita lamar. Karena nggak semua kampus masuk di listnya LPDP.

Berikutnya, dokumen-dokumen yang banyak itu juga jangan dibuang ya walaupun yang diminta di pendaftaran awal itu hanya versi scan. Jadi simpen deh yang rapi karena nanti dokumen tersebut akan diminta pada saat seleksi wawancara.

Tips saya, isilah aplikasi online jauh-jauh hari sebelum deadline karena isian form dan dokumen yang harus dilengkapi sangatlah banyak. Belum lagi ada beberapa dokumen yang nggak bisa langsung jadi seperti surat keterangan TBC dan surat rekomendasi LLDikti (bagi dosen swasta).

Jadi, kalau kamu baca artikel ini sekarang, kamu sangat beruntung karena masih punya waktu hampir 1 tahun untuk mempersiapkan diri.

Selamat mencoba and.. good luck 🙂

Please follow and like us:

Bagaimana Caranya Mendapatkan LOA?

Hai, Yg dateng ke blog ini pasti lagi galau banget pengen segera punya LoA atau lagi nungguin LoA yang belum keluar juga sampai saat ini untuk melamar beasiswa. Ya kan? Eh sok tau deh saya..hehe..

Buat yang belum tahu, kita bahas dulu ya LoA itu apa, LoA itu kependekan dari Letter of Acceptance. Dari namanya, sepertinya sudah bisa ditebak kira-kira isinya apa. Jadi, surat (letter) tersebut adalah surat pernyataan penerimaan dari kampus luar negeri tujuan studi. Namun, sebelum jauh ke LoA, ada yang namanya LoO atau Letter of Offer. Letter of Offer ini tahapnya sebelum LoA, jadi LoO ini surat menyatakan bahwa kita diterima di kampus tujuan namun masih ada syarat seperti pelunasan pembiayaan. Setelah pembiayaan beres, maka LoO otomatis berubah menjadi LoA. Namun, semua itu tergantung kebijakan kampus. Ada juga yang langsung kasih LoA. Di kasus saya dan beberapa teman, namanya masih Letter of Offer dulu sebelum jelas ada pihak beasiswa menjamin kita bisa bayar biaya kampusnya.

Sayangnya, yang terlanjur populer adalah LoA. Sehingga dalam persyaratan untuk melamar beasiswa, contohnya LPDP BUDI dan BPPLN, yang diminta adalah LoA plus yang unconditional. Jadi ada dua jenis LoA; Unconditional dan Conditional. Kedua jenis ini juga bikin pusing bedainnya kecuali ada tulisannya. Tapi kenyataannya, ada yang ada, ada yang nggak ada.

Beasiswa LPDP menyaratkan si pelamar skim BUDI untuk punya unconditional LoA. Namun, di beberapa kampus di luar negeri, Unconditional LoA hanya bisa keluar setelah ada surat pernyataan bahwa kita sudah mendapatkan beasiswa. Jadi, selama belum unconditional, artinya ya masih conditional dong? Pada saat itu, ya saya mikirnya begitu.

Tapi ternyata, ketahuannya setelah lolos seleksi administrasi beasiswa LPDP. Walapun yang saya upload itu adalah LoO atau Letter of Offer dan tidak ada tulisan “unconditional”nya, bisa lolos seleksi administrasi. LoO yang saya punya memuat beberapa point seperti:

  1. sudah ada pernyataan bahwa kampus yang kita tuju, baik secara implisit atau eksplisit, menerima kita. Misal ada kata “congratulations” atau ada kata “we are delighted to offer you…..”
  2. ada student number
  3. ada nama supervisor (dosen pembimbing) baik supervisor 1 atau 2. Di LoO saya sudah tertulis kedua nama calon supervisornya
  4. ada rincian biaya yang harus dilunasi
  5. ada tanggal, bulan, tahun kita dijadwakan masuk

Visualisasinya seperti ini

Jadi dari situ saya simpulkan bahwa, selama point-point tersebut ada di Letter of Offer, maka itu bisa dipakai untuk melamar beasiswa LPDP khususnya BUDI (Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia).

Nah cara dapetinnya gimana?

Jujur, mendapatkan LoA itu merupakan proses yang paling sulit dalam memenuhi persyaratan beasiswa selain memenuhi persyaratan skor IELTS (tips meningkatkan skor IELTS agar dapat memenuhi standar beasiswa, bisa diklik di sini). Menurut pengalaman saya, tahap untuk mendapat LoA adalah sebagai berikut:

  1. Do the research! yang kita riset di sini adalah kampus-kampus beserta program yang kita tuju. Dari proses mencari kampus sampai mendapatkan LoA, saya butuh waktu selama kurang lebih 5 bulan. Jadi awal tahun 2019 saya mulai riset kampus-kampus mana saja yang kira-kira punya program sesuai dengan bidang ilmu saya. Risetnya juga hanya bermodalkan kuota kok, browse website kampus-kampus yang dituju dan mempelajari apa saja program yang mereka punya dan apa saja requirenments-nya. Masing-masing kampus pastinya menawarkan program yang berbeda dan persyaratan yang juga berbeda-beda. Dalam proses ini, saya butuh membuat list seperti: berapa skor IELTS yang mereka terima, topik riset yang sedang dijalankan di kampus tsb, dan nama-nama dosen yang bisa saya prospek untuk menjadi supervisor.
  2. Mencari supervisor. Jadi, di beberapa kampus itu, LoO/LoA sangat bergantung dengan apa kata profesor. Artinya, selama kita sudah mendapatkan profesor, maka LoA bisa diproses. Namun ada juga yang tidak perlu profesor untuk bisa mendapatkan LoA. Sebagai contoh, kalau di Australia itu, UWA (University of Western Australia). Mereka tidak menyaratkan kita sudah mendapatkan profesor yang mau supervisi riset kita nanti, namun mereka yang akan pilihkan sendiri supervisornya. Dalam kasus ini, kita hanya perlu untuk melamar langsung ke universitas secara online dan mengapload semua persyaratan di laman online application kampus tanpa harus mencantumkan nama calon supervisor kita. (Fyi, tahap ini sudah pernah saya lalui namun langsung ditolak sama UWA. haha). Untuk detil bagaimana cara mendapatkan profesor, nanti saya tulis di postingan yang lain ya.. karna kalau diceritakan di sini semua, bakalan sangat panjang.
  3. Tahap berikutnya, setelah mendapatkan profesor, maka tahap yang akan kita lalui adalah seperti ini: – Apply online via email ke Fakultas (mengupload semua dokumen persyaratan) — menunggu hasil rapat komitee — mendapatkan rekomendasi sebagai hasil dari rapat komitee tersebut via email — membuat akun di aplikasi apply online kampus UNSW dan mengupload semua dokumen persyaratan — submit — tunggu— 1 bulan kemudian, LoO keluar. Alhamdulillah.. what a process!! (ini berdasarkan pengalaman saya. Bisa jadi pengalaman orang lain, beda lagi. Sekali lagi, semua proses ini tergantung dengan kebijakan kampus. Namun, bisa dibilang, proses tersebut mirip-mirip)

Memang LoA itu bagian yang sangat penting dalam proses mendapatkan beasiswa khususnya beasiswa dalam negeri untuk level Doktoral. Mengapa demikian? Karena beberapa jenis beasiswa sepertinya pengen praktis aja, nggak mau gambling sama kandidat yang belum jelas akan kuliah di mana. Namun nggak semua beasiswa itu menuntut adanya LoA, lhoo.. kalau kalian merasa terlalu sulit mencari LoA, baiknya lamarlah beasiswa-beasiswa yang sumbernya bukan dari dalam negeri seperti beasiswa Fulbright, Mombusho, Australian Awards dan lain-lain.

Oke, sekian sharing dari saya, semoga bisa memberi pencerahan. 🙂

Please follow and like us:

Bagaimana meningkatkan nilai IELTS?

Hai, buat kalian yang sedang berjuang meraih beasiswa untuk bisa sekolah ke luar negeri atau ingin sekolah ke luar negeri yang berbahasa Inggris atau yang ingin pindah domisili ke luar negeri, Nilai IELTS itu sangat penting. Namun, dalam tulisan ini, fokusnya pada nilai IELTS untuk keperluan beasiswa dan sekolah ke luar negeri.

Meningkatkan nilai IELTS berdasarkan pengalaman saya ada beberapa cara:

  1. Lakukanlah Pre tes

Perlu diketahui, biaya untuk ikut test IELTS ini lumayan mahal, jadi alangkah lebih bijak kalau kita lakukan Pre-Test dulu supaya tahu kira-kira nilai kita berapa. Pre test ini tujuannya supaya kita nggak overestimate atau underestimate kemampuan kita. Menurut pengalaman saya, orang-orang yang nggak familiar sama jenis soal IELTS, nilai pretest-nya biasanya kurang bagus sekalipun mereka memang orang jurusan B.Inggris atau yang B. Inggrisnya jago banget sekalipun. Saya punya teman bahkan sudah doktor dari bidang B. Inggris, namun dia tidak pernah punya pengalaman ikut tes IELTS, nilai pre-testnya hanya 6,5. Harapan kita kalau lihat orang jago B. Inggris gitu minimal dapetnya 7 lah yaa.. tp ya jago atau nggak jago, dalam urusan tes kadang nggak terlalu ngaruh. Yang ngaruh itu seberapa familiar kita dengan jenis soal.

Nilai saya sendiri pertama kali ikut pretes malah nggak sampai 5 overall nya, dengan rincian sebagai berikut:

Di simulasi ini nggak ada Speaking karena pihak tempat kursusnya nggak menyediakan simulasi Speaking di pretest.

2. Les

Tips untuk les ini penting banget menurut saya karena bagi saya there is no other way. Saya udah pernah ngalamin jungkir balik belajar Autodidak waktu saya masih mengejar nilai Toefl dan ternyata tidak berhasil. Oiya, fyi, sebelum memutuskan mau punya sertifikat IELTS, saya awalnya mengejar Toefl namun nilai nggak naik-naik. Singkat cerita, saya patah hati sama Toefl dan mencoba peruntungan ke IELTS. Kebetulan ada tempat kursus yang baru buka waktu itu dan mereka datang ke kampus untuk promosi termasuk memberikan fasilitas pretest bagi dosen-dosen yang berminat untuk kursus. Nah sejak itu saya niatin deh ikut kursus. Kursus ini bukan berarti kita downgrading harga diri (ih udah tua kok masih les aja), sumpah jangan mikir gitu.. les itu guru-gurunya dipilih yang memang sudah pernah menaklukkan tes IELTS dan banyak sekali materi yang bermanfaat yang nggak akan kita dapet jika kita belajar sendiri maupun belajar online. Tatap muka sama gurunya itu berharga banget buat kamu yang emang niat banget belajar. Enakan tanya-tanya sama manusial ternyata daripada sama om Google. hehe.. Tempat kursus saya waktu itu di Central Education Lampung, paket kursus IELTS 3 bulan dengan biaya 1,7 jt sudah dapet pre dan post test. Itu harga tahun 2018 ya.. kalo sekarang saya nggak update lagi harga kursusnya.

  1. Tes

Di tempat saya kursus, Central Education juga menyediakan tes IELTS dari IDP yang biayanya 2,9 jt. Oiya biaya kursus nggak termasuk biaya tes IELTS nya. Enaknya di Central Education ini jg kalau kita sudah memutuskan untuk ikut tes IELTS mereka akan kasih full simulasi sebelum tes beneran berlangsung.

Apakah nilai saya jadi naik setelah les? tentu!! di awal overall tidak sampai 5, setelah les, saya 2 kali ikut tes IELTS. Nilai pertama dapet overall 6,5 dan yang ke dua dapat overall 7 (Listening 7,5, Reading 7, Speaking 7 dan Writing 6). Nah ini hasilnya

IELTS pertama

IELTS ke 2

Jadi, buat kamu-kamu yang lagi berjuang meningkatkan nilai IELTS, semangat.. jangan putus asa karena sekalipun tes ini mahalnya sangat mencekik, tapi sifatnya bisa diulang. Maksudnya? ya nggak kayak IPK yang udah cuma bisa sekali aja tertulis di transkrip nilai. Kalo transkrip kan udah nggak akan bisa diulang lagi, kecuali kamu ngulang kuliah di tempat yang berbeda, hehe. Berita baiknya, IELTS masih sangat bisa diulang jika kamu tidak puas akan nilainya.

Satu lagi, jangan sayang sama uang untuk les. Sayanglah sama biaya kegagalan kamu kalo nggak ikut les.

Semoga bermanfaat 🙂

Please follow and like us:

PENGALAMAN MENGURUS PASSPORT ANAK

Jadi baru-baru ini saya mengurus passport untuk ke dua anak saya, Ilyasa (7 thn) dan Benjamin (3 thn) di Kantor Imigrasi Kota Bandar Lampung. Nah tahun 2019 katanya sudah harus daftar lewat Online, jadi perkiraan saya, wah sudah canggih dong ya? keren…keren.. malah kita bisa milih kapan kita akan datang ke kantor imigrasi. Kalau tidak sesuai datangnya dengan tanggal yang kita pilih di aplikasi, kita nggak akan dilayani.

Namun, sayangnya sesampainya di kantor imigrasi di hari yang sudah saya pilih, tidak banyak terdapat perubahan dari jaman di mana sistem pendaftaran masih manual. Hiks… ekspektasi saya ketinggian ternyata.

Ada beberapa hal yang menurut saya tetap saja merepotkan, seperti:

  1. Ketika kita masuk, kita diarahkan untuk mengisi form pendaftaran secara manual padahal kita sudah isi di aplikasi. Jadi kerja 2x dong.. apalagi anak saya ada dua, kemeng banget tangan ini nulis manual. Padahal ekspektasinya bakalan ada mesin scanner barcode yang bisa langsung ngeprint nomer antrian, trus tinggal duduk deh nunggu dipanggil nomer antriannya. Kenyataannya.. masih jauh, say… kita harus nulis tangan dulu dan banyak banget yang diisi sampai selesai baru deh kita dikasih nomer antrian. Hmm…
  2. Selain form pendaftaran, kita juga disuruh isi satu form lagi (blanko) yang isinya seperti surat pernyataan orang tua dan tujuan keberangkatan. Namun, yang saya takjub, form tersebut harus beli di fotokopian (w.o.w). Ini kenapa sistemnya sebegini repot di era 4.0?? dan lagi-lagi harus diisi dengan tulisan tangan 
  3. Barcode yang kita dapat melalui aplikasi, nggak ada yang kasih tau lho kalau itu harus diprin. Di aplikasipun nggak dibilang. Jadi merasa terjebak harus nyari tempat printer. Tp jangan khawatir, kesulitan ini pasti ada solusinya kan? lagi-lagi, mari kita datangi tempat fotokopian kantor imigrasi untuk ngeprin barcode tsb. Saya bingung, buat apa barcode diprin selain di mesin barcode? mau nangis deh… haha ya kan barcode itu fungsinya untuk discan ya sayang? dan diprinnya ya hanya di mesinnya dong? ya nggak sih? ini diprin di printer biasa, di tempat fotokopi dengan harga yang lumayan mahal hanya untuk menunjukkan tanggal kita datang sesuai apa tidak dengan di barcode. OMG.

Jadi, penggunaan aplikasi itu hanya untuk supaya kita punya barcode yang tertulis nama pendaftar passpor, lokasi pendaftaran dan tanggal kedatangan ke kantor imigrasi. Barcodenya sendiri sepertinya tidak terpakai. Correct me if I am wrong yah.. tp seingat saya memang nggak dipakai barcodenya karena nggak ada mesin pemindai (Scan) barcode di sana. hemmm

Oiya, untuk persyaratannya membuat passport anak, nggak jauh beda dengan dewasa. Bedanya kalau anak, ada surat pernyataan orang tua, melampirkan surat nikah dan KTP orang tua. Dokumen yang harus dibawa tertulis semua di aplikasi, seperti akte kelahiran, surat nikah ortu, KTP ortu, KK dll.. (baiknya dicek lagi di aplikasi siapa tau ada yang kelewat). Dan sebaiknya dokumen asli dibawa karena nanti ditanya ketika foto.

Biaya Passport dibayar langsung ke Bank Lampung seharga Rp. 350.000 per orang dan akan jadi selama 7 hari kerja. Untuk proses pengambilan, alhamdulillah sangat mudah, hanya menunjukkan bukti pembayaran saja dan passport bisa langsung diambil.

Tips: 

  • Supaya nggak terlalu capek nulis manual, ada baiknya sebelum waktu yang kita pilih di aplikasi, kita dateng aja ke kantor imigrasi (kalo deket rumah) kemudian minta form pendaftaran dan blanko pernyataan ortu dan tujuan keberangkatan. Setelah itu, tulis aja dulu di rumah sambil santai..
  • Bawa materai
  • Bawa dokumen asli dan kopiannya
  • Untuk anak di bawah 5 tahun, dapat antrian foto prioritas. Jadi lumayan lah ya nunggunya nggak lama buat si Benjamin yang usianya 3 thn. Tapi kakaknya, ya harus antri biasa karena sudah usia 7 tahun. Jadi harus siap-siap si anak bakal bosan dan lapar nunggu antrian. Hehe
  • Terakhir, jangan terlalu berharap banyak akan kepraktisan dengan adanya sistem online.

Semoga bermanfaat

Please follow and like us:

Architecture Studio Challenge: The Relevance of Heavy Assignment

In many years, architecture school has been facing reality which might confuse both lecturers and students such as, a great deal of school assignment-demand and the least yet low-paid job which future offers. This reality makes the architecture curriculum purposes bias since the hard work does not always contribute to the higher opportunity which students will get in the future. However, some of faculty members still believe that great deal of assignments are still needed in order to achieve particular standard of competency.  

Studio-based subjects, for a long time, are the greatest contributor of endless and heavy assignments. Like it or not, lecturers should be honest of the fact that not many students are well-motivated to finish studio-based subjects assignments in strictly limited of time. In our case, we face difficulties on finding the studio-learning formula since the one who achieve pleasing grade, let say, the successful student, is the one who is passionate of becoming architect while the others are easily losing motivation because of the exhaustion and the trauma of doing the work. Thus, this kind of success is not a result of a great studio formula; the well-motivated students will always be motivated while the low-motivated maintains low performance. Hence, the point of heavy assignments is questioned since they fail to motivate low-motivated students to make any improvement.

Another issue, the job which available in architecture field in recent days are no longer promising. The availability is limited so does the salary. As compensation, a big amount of alumni getting the job outside architecture field. 

As conclusion, the formula of studio program should be as to the reality in professional world. Perhaps, the studio formula needs to be unique each year in order to fit student’s potential. Or, lecturers need to map student’s strength first before planning assignment any further. It is not unlikely that a new studio formula will appear.

by: Shofia Islamia Ishar

Please follow and like us: