Balkrishna Doshi memenangkan Pritzker Prize di usianya yang ke-90 tahun

Balkrishna Doshi memenangkan Pritzker Prize di usianya yang ke-90 tahun

Awal Maret ini, dunia arsitektur dikejutkan dengan berita pemenang Pritzker Prize. Dia adalah Balkrishna Doshi, arsitek dari India. Berita ini merupakan fakta yang menarik mengingat ini pertama kalinya sepanjang sejarah Pritzker, pemenangnya berasal dari Asia Selatan yang sekaligus juga yang pertama bagi India.

Doshi membuktikan bahwa Age doesn’t matter! Walaupun sudah berusia lanjut yaitu 90 tahun, Doshi membuktikan bahwa ia layak memenangkan penghargaan paling tinggi di bidang arsitektur ini. Doshi juga menjadi pemenang Pritzker pertama yang tidak mempunyai proyek internasional (semua bangunan hasil desain Doshi berada di India)

Proyek – proyek Doshi sangat memerhatikan kontekstualitas terhadap tempat (tradisi orang India). Bagi Doshi, tradisi setempat harus tetap dipertahankan dan dieksplorasi sebagai ciri khas suatu karya arsitektur di mana pun karya tersebut berada. Walaupun demikian, proyek-proyek Doshi sangat relevan terhadap teknologi.

Berikut adalah desain-desain Balkrishna Doshi,

Institute of indology, 1962

kamala house, 1963

Premabhai hall, 1976

Kamala house, 1963

Centre for environmental planning & technology, 1966-2012

Indian institute of management, 1977-1992

(All pictures are taken from https://www.designboom.com/architecture/balkrishna-doshi-projects-pritzker-prize-round-up-03-12-2018/)

 

Dengan melihat karya-karya tersebut, saya langsung merasakan bahwa semua yang beliau katakan di video-videonya sangat tercermin dalam setiap desain yang dibuatnya. Berikut adalah salah satu video yang saya ambil dari Youtube dan ada beberapa pesan yang saya rasa cukup mengena yaitu,

“Young architect should understand technology..”

“Young architect should connect to the world”

Kesannya memang klise tapi itu pesan yang sangat pas di era manapun kita hidup. Bagi saya, pesan tersebut memberi saran betapa pentingnya being up-to-date sama jaman dan bidang yang kita geluti. Selain itu, kita sebagai arsitek muda juga harus bisa connect to the world yang berarti, harus bisa menembus “pergaulan” internasional supaya memiliki pengetahuan yang luas dan pola pikir yang terbuka.

Congratulation, Doshi..

 

Please follow and like us:

Pengalaman “Pindahan” dari Windows ke Apple 

Sekitar tahun lalu, saya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa kerja laptop saya setelah 9 tahun saya pakai. Kenapa diberhentikan? Tentu karena :

1. Sering ngadat

2. Sering kena virus

3. Adaptor sering rusak

4. Baterai tak lagi fungsional

5. Ya sudah lah ya..memang sudah waktunya.

Sy pakai laptop Lenovo sejak tahun 2009 dengan berbagai love-hate relationship sama laptop bersejarah ini. Dan akhirnya sayapun harus rela kerja ekstra keras untuk bisa beli laptop baru.

Pilihan saya jatuh pada The New Macbook (rose gold) tahun 2016. Berhubung pekerjaan saya sekarang lebih menuntut mobilitas yang tinggi, saya butuh laptop yg ekstra ringan. Karena lokasi antara gedung kantor dan gedung kelas, agak penuh rintangan. Naik ke bangunan 4 lantai dengan membawa laptop yg lama berukuran 15,4″ cukup merepotkan dan menyebabkan sakit pundak 😄. Maka, ketika lihat si Macbook yg tipis ini, sy jatuh hati. Berikut testimoni saya setelah menggunakan Macbook:

1. Tipis dan sangat ringkas. Ringan sekali dan bisa masuk ke dalam tote bag. Jd nggak perlu bawa 2 tas lagi. Karena bawa-bawa 2 tas itu somehow less fashion 😄😄😄. Ini penampakan tipisnya The New Macbook. Dia lebih tipis dari Macbook Air

20171120_082359.jpg
Penampakan dalam kondisi terbuka
20171120_082457.jpg
Penampakan dalam kondisi terbuka

2. Aplikasi-aplikasi bawaan yang super user friendly dan lecturer friendly. Aplikasi-aplikasi tsb jg bisa didapatkan di Macbook dengan jenis lain. Aplikasi tsb adalah : Keynote (aplikasi untuk presentasi), Pages (aplikasi untuk menulis), dan Number (Aplikasi perhitungan). Karena saya adalah pemula sebagai pengguna Mac, 3 aplikasi ini sangat membantu sekali dalam menjalankan tugas sebagai dosen dan peneliti. Terdapat template dengan desain yang lucu-lucu pada masing-masing aplikasi tersebut sehingga, kita tdk perlu lagi pusing-pusing memikirkan estetika layout saat bekerja. Tinggal ketik saja, dan..voilaaa.. presentasi materi kuliah menjadi cantik.

3. Waktu start up dan shut down yang cepat. Ini membantu sekali, mengingat laptop lama saya kalau sedang start up bisa saya tinggal mandi, sholat, makan, jalan-jalan, pergi umroh, baru deh nyala 😄

4. Kemudahan penggunaan aplikasi numbers untuk template penilaian. Ini refers ke poin ke dua. Numbers ini seperti MS Excel, namun dilengkapi fasilitas template yg banyak. Mulai dari simple table, perhitungan margin, rencana finansial, baby growth chart dan yang paling saya suka adalah Grade Book template. Yaitu template untuk dokumentasi dan penghitungan nilai murid. Mengingat saya selalu kelabakan ketika rekap nilai di akhir semester dengan bolak balik memasukkan rumus ke dalam tabel, maka template ini sangat menggiurkan. Tinggal masukin aja nilainya dan voila… hasil akhir A,B,C,D nya langsung keluar. Nggak perlu dihitung-hitung lagi. Plus, kalau kita buka tab di dalam template ini, ada each student report. Ini semacam raport per anak. Jd pada tab ini, kita tinggal ketik nama murid, dan keluarlah grafik proses pembelajaran dia dari awal sampai akhir. Aaah, Me likey….. 😄😄

Screen Shot 2017-11-20 at 8.27.32 AM
Template untuk penilaian (Grade book) pada Aplikasi Numbers
Screen Shot 2017-11-20 at 8.27.37 AM
Student Report pada template Grade Book

5. Kompatibilitas antara Pages dan Numbers. Pages adalah semacam Ms. Word kalau di Windows. Numbers adalah Ms. Excelnya. Enaknya, kedua app ini kompatibilitasnya juara sekali. Jd kalau kita bikin tabel di word, maka tabel tersebut bekerja sebagaimana dia bekerja di numbers. Kita bisa masukkan macam-macam rumus ke tabel tersebut. Jd nggak perlu buka dua aplikasi lagi.

6. Macbook minim peluang kena virus

7. Material yang bagus, bukan berbahan dasar plastik seperti laptop sebelumya. Jd pertimbangannya akan lebih awet.

Nah itu kelebihannya. Apakah tidak ada kekurangan? Ya tentu ada. Apa saja itu?

1. Macbook ini terasa sangat enak apabila kita kerja secara individu namun kurang enak kalau kerja tim. Mengingat mayoritas kolega masih memakai windows bahkan sistem web di kemenristekdikti untuk penelitian dosen, masih sangat berpihak pada windows. Duh. Saya agak repot ketika harus bolak balik pindah-pindahin file. Karena file dari macbook sekalipun bisa dikonvert misalnya ke format docx, namun di windows tampilannya akan tetap berbeda. Yg aman adalah ketika dalam kerja tim, yg dibutuhkan hanya format pdf.

2. Macbook keluaran baru, rata-rata hanya punya satu lubang colokan. Yaitu USB C. Ini sebenarnya bukan kekurangam juga sih karena memang Apple mau bikin yg tipis jadi konsekuensinya adlh meminimalisir port. Nah kekurangan dalam hal ini adalah extra budget. Kita harus beli kabel untuk sambung VGA dan kabel untuk sambung USB. Dan ini harganya lumayan sekali ya.. 😄. Berikut gambar untuk sambungan USB dan VGA.

3. Tidak ada Adobe Photoshop dan Corel draw. Buat orang yg sangat bergantung dgn kedua software ini, sy lumayan kerepotan. Namun, kerepotan ini membawa hikmah. Sy jadi lebih kreatif dlm mencari software-open source yg bisa diakses di Macbook. Dan untuk pengganti Photoshop saya pakai GIMP. Sedangkan untuk pengganti Corel Draw, saya pakai Inkscape. Kedua Software ini bisa diunduh gratis di internet (klik link pada ke dua nama tersebut di post ini)

4. Harga yang mahal. Ya memang harganya lumayan menguras kantong sampe nggak bersisa. Tapi, worth it sekali. Saya pemegang prinsip, selama barang tsb digunakan untuk sesuatu yang produktif, maka sah sah saja kalau kita pilih yang bagus. Dan harga nggak pernah bohong.

5. Tidak ada aplikasi maupun software yang setara dengam MS Access. Ini jg yang bikin saya kesusahan setiap mengisi laporan Beban Kerja Dosen di setiap akhir semester. Ini lah yg saya bingung, padahal untuk di Perguruan Tinggi Negeri, kemenristekdikti sudah buatkan sistem online untuk pengisian BKD. Langsung diisi diweb. Namun untuk di Perguruan Tinggi Swasta yang dikoordinir oleh Kopertis, mengapa pengisian BKD ini masih sangat begantung dgn MS Access??!! Kenapa nggak langsung isi di web saja? Sungguh ter..la…lu 😬

Nah, itu tadi pengalaman saya yang masih anak baru dalam memakai produk laptopnya Apple. Kalau ada yang punya masalah yang sama dan mau tanya lebih lanjut, don’t bother to comment below. ☺

~Shofia

Please follow and like us:

Enak nggak sih jadi dosen?

Karena sering sekali ditanya teman dan kerabat seputar profesi dosen dan beberapa kali mendapatkan pertanyaan “enak nggak sih jadi dosen?”, saya memutuskan menuliskan ini di blog. Tujuannya supaya kalau ada yang tanya lagi via Whatsapp, tinggal saya kasih aja linknya. Jadi nggak perlu nulis panjang lebar. Hehe.

Kalau ditanya enak atau nggak? Alhamdulillah jawaban saya “enak”. Ya masak mau dijawab nggak enak? Kesannya nggak bersyukur banget gitu. Tapi ya namanya pekerjaan, di mana pun nggak akan ada yang sempurna.

Supaya jawaban “enak” tersebut bisa masuk akal, kita perlu rinci dulu kriteria enak ini apa aja sih? Job desk yang ringan? Gaji yang besar? Fleksibilitas waktu kerja? Peluang peningkatan karir yang jelas?

Baiklah kita jabarkan masing-masing kriteria tersebut dari profesi dosen

Job desk

Seringkali ada miss – understanding di sini. Rumornya jadi dosen itu kerjanya hanya mengajar terus pulang, dapet gaji besar, kemudian kalau mahasiswa libur, kita ikutan libur.

Hehe..indah banget ya hidup kayak begitu?

Pernyataan di atas tidak sepenuhnya salah juga. Namun, ada beberapa pekerjaan yg tidak pernah terlintas di benak awam.

Jadi apa saja sih pekerjaan dosen itu? Secara garis besar, dosen harus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi:

1. Bidang Pendidikan dan pengajaran.

Pada bidang ini, dosen harus melakukan kegiatan pendidikan (sekolah ke jenjang yg lebih tinggi), dan bidang pengajaran yaitu mengajar seperti yg diketahui orang banyak. Nah ternyata, mengajar ini baru salah satu dari tupoksi dosen pada Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan pengajaran selain mengajar juga meliputi, mempersiapkan bahan ajar, membuat modul ajar, mengawas ujian, mengoreksi (tugas mingguan, tugas besar, UTS dan UAS), membimbing dan menguji Tugas Akhir. (Ngos-ngosan).

2. Bidang penelitian.

Karena dosen itu ilmunya harus terbarui terus, maka dosen diwajibkan melakukan penelitian dan setiap semester harus melaporkan kinerja tsb. Penelitian ini pun harus dipublikasikan. Terserah gimana caranya, penelitian dosen harus terpublikasi di jurnal. Tapi penelitian ini sifatnya beda dengan mengajar yg jadwalnya harian. Penelitian bisa dilakukan di sela-sela jam mengajar dan dilaporkan hanya satu kali dalam 1 semester (hanya? Bisa digaplok temen sesama dosen. ? )

3. Bidang pengabdian kepada masyarakat

Sama halnya dengan kegiatan penelitian, kegiatan ini juga diwajibkan dan dilaporkan setiap semesternya. Bagian ini susah-susah gampang karena kita harus berhadapan langsung dengan masyarakat dan memberikan servis untuk mereka sesuai dengan bidang kita.

4. Bidang penunjang

Belum cukup 3 poin di atas, dosen juga harus punya kegiatan lain. Mungkin maksudnya agar dosen2 nggak botak kepalanya ngoreksi tugas dan bikin laporan penelitian dan pengabdian kali ya? Jadi disuruhlah kami ini melakukan hal-hal lain yang sifatnya soft skill seperti bergaul. Bergaul ini dapat berupa berorganisasi, ikut serta dalam kepanitiaan kegiatan akademik maupun non akademik, menjadi juri, menjadi pejabat struktural, dan lain lain (selain 3 poin sebelumnya). Poin ini juga dilaporkan setiap semester 1 kali.

Gaji

Gaji ini sifatnya agak mistis ya. Standarnya beda-beda tiap kampus. Ada yang kecil banget, ada yang gede banget (yg ini yg maksud saya mistis. Semacam nggak nyata gitu, tapi ada).

Saya kasih kisi-kisi, kalau uang masuk ke kampus tersebut harganya selangit, bisa jadi bayaran dosennya jg tinggi. Namun ini berlaku untuk dosen PTS saja ya. Kalo dosen di PTN biasanya bayarannya sudah ikut standar pemerintah. Begitupun sebaliknya, kalau uang masuk kampus rendah, ya jangan harap bayaran dosennya besar. Jd kalau anda barusan mau jadi dosen, survei dulu berapa uang masuk untuk mahasiswa baru disana. Dari situ anda bisa mulai mengira-ngira, kira-kira anda nanti dibayar berapa.

Sama seperti kerja menjadi karyawan, gaji bulanan dosen terdiri dari beberapa komponen. Yaitu:

1. Gaji pokok

2. Uang makan dan transport

3. Honor mengajar

4. Tunjangan jenjang jabatan akademik (apabila sudah punya)

5. Tunjangan jabatan (apabila menjabat)

Itu yang pasti tiap bulannya walaupun jumlah honor mengajar bisa fluktuatif tergantung berapa kali kita masuk kelas dan berapa jumlah kelas yang kita ajar.

Selain gaji tersebut, pemerintah kita tanpa memandang bahwa seorang dosen itu dosen PTS atau PTN, dosen diberi tunjangan profesi (kalau sudah lulus tes sertifikasi).

Memang sih, kalau hanya dilihat dari besaran gaji yang didapat, penghasilan dosen mungkin tidak seberapa dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lain di perusahaan besar. Namun, dosen punya peluang pos pemasukan selain yang tersebut di atas, seperti mendapatkan hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hibah ini sifatnya kompetitif. Jadi kalau mau punya uang, harus siap berkompetisi untuk memenangkan hibah.

Fleksibilitas waktu kerja

Ini memang keunggulan profesi dosen dibanding profesi manapun. Dan ini pula yang bikin saya jatuh cinta pada profesi ini. Karena fleksibilitas waktu yang besar, saya bisa nonton film di jeda waktu antara mengajar mata kuliah satu dgn mata kuliah lainnya. Hahaha. Enak kaan? Jadi, bagian ini yang paling saya suka dari menjadi dosen. Kalau bagian kegiatan  lainnya, bacanya aja sudah ngos-ngosan, apalagi ngelakuinnya? ???

Tapi dosen itu butuh lho banyak-banyak nonton film. Apalagi dosen teknik, biar gaul gitu sama perkembangan teknologi. Dan biar bu guru juga nggak jenuh tenggelam dalam lembaran koreksian dan tumpukan file penelitian pengabdian. #alasan ?

Jenjang karir

Dosen itu jelas sekali akan mengalami peningkatan karir. Apabila si dosen rajin. Nah, jenjang karir ini yang menentukan bakalan naik atau enggaknya ya dosen itu sendiri. Dengan tertib melaksanakan 4 poin kinerja dosen yg saya tulis di atas dan mau mengurus kenaikan pangkat/jenjang akademik, maka jenjang karir ini insyaAllah akan naik. Sekali lagi, kalau kita mau ngurus. Banyak juga dosen yang jenjang akademiknya stuck karena alasan, “ribet ngurusnya”. ??

Tahapan jenjang akademik seorang dosen adalah sebagai berikut:

1. Asisten Ahli

2. Lektor

3. Lektor kepala

4. Guru besar

Nah untuk bisa naik, kita sendiri yang menentukan dengan keaktifan kita dalam melaksanakan 3 Dharma Perguruan Tinggi. Semakin naik jenjang akademik kita, semakin banyak pula beban pekerjaan kita. Berbanding lurus dengan hal tsb, penghasilan juga otomatis bertambah.

Bisa sekolah (lagi) gratisan

Karena dosen dituntut untuk bergelar doktor, maka peluang untuk sekolah lagi dengan beasiswa terbuka lebar. Tinggal gimana kitanya aja mengejar beasiswa tsb. Untuk di dalam negeri sendiri, dosen yang ber NIDN, dapat kemudahan untuk mendapatkan beasiswa dari Kemenristekdikti dan Kemenkeu yang dikenal dengan sebutan beasiswa BUDI.

Ilmu yang bermanfaat

Nah, ini nih the best part dari menjadi seorang dosen. Yang menurut saya inilah bayaran tertinggi yang tidak dapat dinilai dengan materi sebesar apapun. Bukan sok bijak tapi memang rasanya bangga sekali apabila melihat mahasiswa berhasil. Bangga melihat ilmu yang kita transfer, bisa mereka pakai untuk mengejar cita-cita.

Ilmu yang bermanfaat ini amalannya tidak akan putus selama ilmunya masih dipakai. Inilah tabungan akhiratnya. Karena ini jugalah saya selalu merasa berterimakasih kepada guru dan dosen-dosen saya. Karena ilmu dari mereka saya bisa menjadi seperti sekarang ini.

Please follow and like us:

Tipe Mahasiswa Ketika Berhadapan Dengan Deadline : Menurut Perspektif Dosen

Sebagai dosen yang kerap kali memberikan tugas kepada mahasiswa di setiap semesternya, pasti sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter mahasiswa ketika “tugas besar” dikumpul. Dalam beberapa tahun ini saya mulai menggolongkan karakter/ tipe-tipe mahasiswa ketika berhadapan dengan deadline.

Tipe-tipe tersebut nyata adanya. Lalu, masuk ke tipe manakah anda?

1. Tipe rajin dan tepat waktu

Tipe ini biasanya rajin asistensi. Setiap minggu mereka melaporkan progress report dari tugas yang mereka kerjakan dan hanya mengumpulkan tugas yang sudah disetujui sebelumnya oleh dosen dan mengumpulkan hanya yang sudah direvisi.

Mahasiswa tipe ini, bisa dipastikan mengumpulkan tugas tepat waktu. Malah sebelum deadline atau H-1. Sekalipun ketika deadline, datangnya pagi dan mengumpulkan pertama kali beserta tugas yang dijilid rapi, sempurna.

Mahasiswa seperti ini lah idaman para dosen karena tugas yang dikumpulkan sudah merupakan hasil terbaik selama proses pembelajaran dalam 1 semester. Mahasiswa tipe ini juga biasanya punya inisiasi yang tinggi. Contohnya, dengan memberikan lebih dari yang diminta. Misal yang diminta hanya 1 desain, mereka bikin beberapa desain alternatif. Misal lagi, yang diminta adalah membuat potongan minimal 2 sisi, mereka membuat 4 sisi. Namun sayangnya, mahasiswa tipe ini jarang sekali adanya. Entah memang punah bersama dinasaurus atau sedang berhibernasi sampai batas waktu yang tidak ditentukan. I don’t know.

Read More …

Please follow and like us: