Psycho-Test dan On The Spot Essay Writing (Yang terlupakan dari SBK LPDP)

Beberapa waktu lalu ketika membahas pengalaman mengikuti tes SBK, saya hanya terfokus ke TPA yang berisikan soal aritmatika, logika penalaran dll, padahal ada lagi 2 tes setelahnya. Saking menjelaskan TPA nya aja udah panjang gitu ya, jadi kelupaan mau bahas 2 tes yang nggak kalah penting yaitu psycho-test dan on the spot essay writing.

Masih berbasis komputer, kedua tes ini akan dikerjakan setelah TPA selesai dan keluar skornya. Bedanya dengan TPA, pada psycho-test dan on the spot essay writing, tidak ada nilai yang akan keluar setelahnya.

Saya coba jelasin satu-satu ya..

Psycho-test berisikan kira-kira (agak lupa juga sih) 40 soal soal pilihan ganda. Pada tes ini, yang ingin dinilai seputar integritas, loyalitas, hmm..apalagi ya, intinya sih sepertinya ingin menilai personaliti kita dan kapabilitas soft skill. Tes ini waktunya jg terbatas, makanya nggak bisa pake bingung-bingung ngerjainnya karena soal dan jawaban pilihan gandanya itu panjang-panjang kalimatnya. Jadi, membaca soal dan jawabannya saja sudah cukup memakan waktu.

Tes ini juga nanti nilainya nggak menjadi dasar pertimbangan lolos tes SBK karena (dengar-dengar) yang menjadi patokan adalah skor TPA di sesi pertama. Namun, hasil tes ini katanya sih akan digunakan oleh para juri LPDP sebagai bahan wawancara kita nanti.

Setelah psycho test selesai, layar komputer langsung mengarahkan kita untuk lanjut mengerjakan soal on the spot essay writing.

Nah, bagi saya bagian on the spot essay writing tuh susah banget. Bukan hanya karena waktunya yang terbatas namun juga karena topiknya yang juga sulit. Kalau kamu melamar LPDP untuk kuliah di luar negeri, maka soal essay yang keluar di layar monitor adalah soal berbahasa Inggris dan harus kita buat essaynya dalam B. Inggris juga. Nah kebetulan saya memang tujuan kuliahnya ke LN jadilah harus ngisi essai ini pakai B. Inggris.

Saya berikan gambaran, jadi, nanti di layar kita ada wacana/artikel tentang suatu topik. Pada waktu itu, saya kebagian topik tentang Stunting. Perintahnya adalah, saya harus membuat rancangan yang komprehensif untuk mengatasi masalah stunting tersebut. Duh, saya nggak banyak baca soal stunting sebelumnya.. namun pernah sekali waktu baca tentang hal tsb di sosmed orang. Jadi sumpah ya, agak bingung juga mau nulis tentang stunting. Hiks..

Pada saat essay writing ini, kita akan mendapati suasana yang sangat berisik karena seisi ruangan akan serempak menulis dengan menggunakan keyboard. Jadi buat kamu yang hanya bisa mendapatkan fokus di suasana yang hening, kamu bakal struggle banget.

Tips untuk tes ini, kalau buat yang pernah ngalamin belajar untuk writing IELTS/TOEFL IBT, saya rasa akan lebih familiar dengan soal seperti ini. Tipenya memang mirip dengan writing IELTS dan TOEFL IBT. Karena saya pernah ikut kursus IELTS dan beberapa kali latihan menulis, jadi nggak yang kaget-kaget amat meskipun ya tetap kesulitan.Saya juga masih memakai trik yang sama ketika menulis yaitu, membuat dulu kerangka tulisan baru deh ditulis secara utuh di komputer. Nah untuk hasilnya, saya nggak tahu deh gimana.. karena waktu itu saya termasuk yang selesai di detik-detik terakhir.

Baiklah, sekian dulu, semoga bermanfaat 🙂

Please follow and like us:

Lolos seleksi berbasis komputer (SBK) LPDP BUDI LN 2019. Berapa skor minimal?

Tanggal 25 Oktober 2019, adalah tanggal pengumuman hasil seleksi berbasis komputer (SBK) yang diselenggarakan oleh LPDP pada tanggal 7 Oktober 2019. Alhamdulillah, hasilnya saya lulus. Artinya, dua tahap seleksi sudah saya lewati tinggal satu seleksi lagi yaitu seleksi wawancara yang akan dilaksanakan pada bulan November – Desember awal, dan saya kebagian jadwal Desember.

Di tulisan ini saya mau cerita tentang pengalaman mengikuti seleksi berbasis komputer (SBK) yang dilaksanakan di gedung BKN (Badan Kepegawaian Negara), Cililitan.

Apa sih SBK itu?

Jadi SBK ini sebenarnya nama teknisnya, yaitu semacam tes yang dilakukan secara langsung dan menggunakan komputer. Kontennya mirip dengan Tes Potensi Akademik yang memuat tentang kemampuan aritmatika, logika dan bahasa. Karena berbasis komputer, skor hasil tes akan langsung muncul ketika kita klik tombol selesai atau ketika waktu telah habis.

Bagi kalian yang sudah pernah ikut tes CPNS, kalian pasti akan lebih familiar dengan tes ini. Namun, biasanya jenis soal disesuaikan lagi dengan capaian yang telah ditarget oleh pihak yang berwenang.

Kebetulan saya mendapat lokasi tes di tempat yang memang sering digunakan untuk tes berbasis komputer. Jadi, semua elemen ruang itu terdesain untuk tes. Seperti:

  • ada banyak sekali locker untuk peserta ujian meletakkan barang-barangnya selama tes. Jadi ketika tes, nggak boleh bawa apa-apa sama sekali. Hanya bawa KTP dan kartu tanda peserta saja
  • ada ruang tunggu yang di dalamnya terdapat TV besar. TV tersebut menayangkan tata cara pengisian tes berbasis komputer. Mulai dari pengisian identitas, cara mengisi lembar jawaban di layar dan cara mengakhiri pengerjaan soal
  • ada toilet dengan jumlah yang cukup banyak
  • ruang tes yang sangat luas berisikan komputer

Seperti apa kira-kira soal SBK

Untuk SBK LPDP, ada 60 soal yang masing-masing soalnya jika kita jawab dengan benar maka skor yang akan diberikan adalah 5. Jadi kalau kalian menjawab semua soal benar semua maka akan mendapatkan skor 300.

Soal mirip sekali dengan soal tes potensi akademik,

  • ada soal tentang sinonim-antonim,
  • ada soal matematika dasar seperti deret, persamaan, bangun ruang, hitung diskon, hitung pecahan, desimal, soal cerita, dan soal-soal matematika yang sederhana
  • ada soal penalaran logika
  • ada juga soal “reading”. Jadi ada wacana/artikel dan pertanyaan

Berapa skor yang menjadi syarat lolos SBK LPDP

Jadi, sekalipun skor ini langsung keluar, namun pengumuman resmi baru akan dikeluarkan sesuai dengan jadwal yang tertera di pengumuman awal bukaan Beasiswa LPDP.

Skor minimal sepertinya tidak pernah dikomunikasikan secara terang-terangan oleh LPDP. Namun, seperti biasa, para peserta membuat mini research terhadap peserta lain yang lolos dan tidak lolos. Jadi, seperti sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk beasiswa reguler, minimal itu 185 dan untuk Afirmasi 150.

Kesimpulan ini didapat dari hasil survei ke sesama peserta LPDP. Saya juga berusaha melakukan riset sendiri soal skor ini melalui tulisan blog, video youtube, dan skor kenalan-kenalan yang sudah duluan ikut tes di gelombang pertama.

Namun, hasil yang saya dapat, di blog ada yang bilang kalau nilai SBK nya 145 dan ia tidak lulus. Ada juga kenalan yang lolos SBK dengan nilai 165. Saya belum mengetahui siapa orangnya jika benar 150 itu adalah standar bawah untuk beasiswa afirmasi. Fyi, saya ikut seleksi LPDP untuk program BUDI dan BUDI ini termasuk afirmasi.

Setelah menyelesaikan tes, saya mendapat skor 150. Jeng… jengg… antara senang tapi ragu. Senang karena katanya 150 ini passing grade, ragu karena kok mepet amat??? dan belum tahu pasti apakah skor 150 ini bisa meloloskan saya di tahap seleksi ini.

Namun semua kegundahan ini terjawab ketika tanggal pengumuman datang. Alhamdulillah saya lolos… rasanya jantung mau copot ketika membuka aplikasi online.. hehe.

Ini tampilan di laman aplikasi online

TIPS dan Persiapan apa saja yang perlu dilakukan

Tips dari saya sebenarnya standar aja..

  • Beli buku soal-soal TPA dan be familiar with it. Penting banget untuk kita supaya familiar dengan jenis-jenis soal. Terutama buat orang-orang yang interaksinya sama matematika terakhir itu SMA seperti saya.
  • Bisa juga langganan kursus TPA online melalui aplikasi di hp. Teman saya ada yang seperti itu dan dia lolos tes SBK
  • Jangan underestimate soal sinonim dan antonim, karena ternyata susah. haha… Saya banyak yang nggak bisa mengerjakan soal tersebut, akibat selama belajar terlalu fokus di soal matematika
  • Ketika tes, sensitiflah sama waktu. Jadi di layar nanti ada tampilan waktu berupa jam, menit, detik. Jangan terlalu lama di satu soal. Skip aja dulu kalau tidak bisa, karena kita bisa balik lagi ke soal tersebut kapanpun kita mau.
  • Soal yang sudah kita kerjakan, masih bisa kita koreksi jika waktu masih cukup
  • Jangan sampai kehabisan waktu karena asyik atau penasaran dengan 1 soal. Karena ketika waktu habis, layar langsung berubah sendiri ke tampilan hasil skor
  • Coba banyakin buka blog atau video youtube yang berisikan tentang pengalaman mengikuti tes SBK karena bisa jadi pengalaman orang beda-beda dan bisa bermanfaat untuk kita.

Oke, sekian sharing kali ini.. terimakasih yang sudah mampir ke blog ini. Semoga sukses meraih beasiswa. Doakan saya juga ya supaya bisa lolos seleksi wawancara. Amiiin…

Please follow and like us:

Cara Mendapatkan Supervisor untuk Studi Doktoral di Luar Negeri (Australia)

Setelah di postingan sebelumnya saya sudah berjanji untuk menceritakan pengalaman saya untuk mendapatkan profesor/supervisor, maka, di tulisan ini saya akan berikan penjelasan yang mendetail dari proses mapping profesor sampai ke surat-menyurat melalui email.

Proses pencarian profesor ini adalah tahap yang cukup menantang karena kita nggak kenal secara langsung dengan profesor tersebut, yang bisa kita lakukan sebagai langkah awal hanyalah mencari info sebanyak-banyaknya melalui web kampus tujuan dan kanal-kanal jurnal internasional. Namun, saya pribadi lebih banyak melakukan survei via web kampus tujuan karena detail deskripsi tentang profesor beserta link-link publikasinya juga tersedia di sana.

Pada tulisan ini, yang akan saya bahas hanyalah untuk profesor di kampus-kampus, khususnya yang ada jurusan Environmental Design/Architecture, dan di negara Australia. Karena saya hanya melamar profesor ke negara itu saja. Nah, di Australia, beberapa kampus (ada juga yang tidak) menyaratkan untuk kita kontak faculty member (istilah untuk dosen-dosen atau profesor yang bekerja di kampus bersangkutan) dulu baru bisa apply secara resmi ke website kampus. Nah, proses ini merupakan proses yg cukup panjang bagi saya karena ternyata susah! Susahnya yaitu alangkah terbatasnya dosen-dosen yang minat risetnya sehati sama kita.

Untuk mempermudah, saya melakukan mapping Profesor. Mapping ini maksudnya saya menyusun data terkait kampus mana saja yang punya program sesuai dengan bidang saya, profesornya yang kira-kira seminat sama saya dan persyaratan lain yang harus saya penuhi.

Saya data satu persatu nama profesor yg bidang risetnya sejalan dan saya catat alamat emailnya. Fyi, kalau website kampus-kampus yang bereputasi itu, data tentang dosennya sangat jelas dan rinci. Ada deskripsi minat dosen, topik riset, mata kuliah yang diampu, riwayat studi dan juga alamat email.

Seperti ini mapping yang saya buat

Sudah dapat daftar nama profesor yang akan dilamar, alamat email juga sudah, lalu bagaimana lagi?

Mulai dari tahap ini, fase real struggle dimulai. Karena kita harus menyusun dokumen yang cukup meyakinkan untuk memberi impresi pada profesor yg kita incar. Juga, proposal riset dan CV kita juga harus sudah jadi, tertulis rapi dan terstruktur sebaik mungkin. Sebenarnya proposal saya juga biasa-biasa aja sih, masih banyak kurangnya. Tapi yang penting adalah jadi dulu, daripada menunggu proposal sempurna. Anggap saja uji jimat, kalaupun misalnya nggak dapat respon dari profesor, ya berarti proposal kita memang jelek. Hahah

Proposal sudah, CV sudah, wah artinya kita sudah siap tempur! hehe. Namun, masih ada satu PR lagi. Kita harus mempersiapkan kata-kata “maut” untuk menyurati profesor incaran kita. Jadi, proses mencari profesor ini saja udah bikin saya evolve, rasanya luar biasa banget bisa memotivasi diri dengan senang hati, eh tanpa sadar, bisa mengembangkan potensi kita di luar dugaan.

Ok, kita serius ke bagian penulisan surat.

Saya dinasihati teman kalau profesor-profesor itu pasti menerima ratusan email setiap harinya. Jadi, buatlah judul email yg tidak standar dan “menggiurkan” walaupun ya baru janji manis saja. Seperti:

“PHD Supervisor for Fully-Funded Indonesian Lecturer”

Nah dari judul tersebut kan ada kandungan “janji manis” yaitu Fully-Funded, meskipun ya kita belum mendapatkan funding apapun tapi paling tidak kita menarget diri kita untuk mendapatkan beasiswa yang fully funded. Judul seperti itu cukup mempan mengundang respon profesor sekalipun responnya rata-rata menolak. hahaahha sabar.. sabar…

Badan surat : sebenarnya di badan surat ini saya banyak nyontoh emailnya temen saya sih ke profesornya. Hihi.. tp ternyata mempan! Makasih ya Tita. Awalnya dia marah sih, tapi kayaknya udah nggak sih karena akhirnya dia juga udah dapet profesor bahkan beasiswa sekaligus. Asekk..

Intinya dalam badan surat ini, kita harus mengungkapkan secara jelas kita siapa, latar belakang pendidikan kita, latar belakang pekerjaan kita dan benang merahnya terhadap riset yang mau kita kerjakan serta kenapa harus dia yang supervisi kita. Tunjukkan bahwa kita prospektif dalam mendapatkan beasiswa karena pihak kampus si profesor kan juga butuh mahasiswa yang bisa bayar ya…

Kita perlu menjelaskan bagaimana rencana kita untuk membiayai program doktoral ini, jadi perlu dicantumkan nama beasiswa yang akan kita lamar, peluang kita dan kapan kira-kira kita bisa mendapatkan beasiswa tsb.

Karena saya dosen, jadi saya menyebutkan kalau saya akan melamar beasiswa dari pemerintah Indonesia karena pemerintah Indonesia mempunyai beberapa program beasiswa yang dikhususkan untuk dosen. Jadi, dengan kata lain, status dosen saya adalah peluang keberhasilan dalam meraih beasiswa tersebut. Jangan lupa untuk sering-sering memeriksa tulisa kita di email. Jangan sampai ada kata-kata yang kurang sopan atau typo.

Nah, setelah draft surat sudah jadi, Nah tinggal disebar deh.. ke alamat email profesor yang sudah kita map di atas.

Kira-kira seperti ini email yg saya buat waktu itu:

Dalam proses penebaran lamaran ke profesor, kira-kira lebih dari 20 nama sudah saya email. Namun, yang merespon positif pada waktu itu hanya 1, yaitu profesor dari Canberra University, itupun saya harus mengganti topik riset saya jika ingin tetap dibimbing beliau. Sisanya menolak dan tidak merespon. 

Berusahalah untuk tetap sabar dan santai sambil ya.. tetap coba cari alamat email baru lagi.

Namun akhirnya, setelah 1 bulan proses tebar email ke profesor-profesor, akhirya saya dapat email balasan dari profesor di UNSW Sydney. Di surat yang saya jadikan contoh di atas, bisa terlihat kalau saya menyurati profesor tersebut pada tanggal 10 April, namun, baru dibalas pada tanggal 10 Mei. Agak kaget karena saya pikir kalau sudah terlalu lama mengemail seseorang, harapan akan dibaca semakin tipis. Tapi ternyata rejeki memang nggak kemana, Alhamdulillah, email saya dibalas.

Sejak itu, saya intense berkomunikasi dengan profesor tersebut sampai ke tahap skype, asistensi proposal dan malah, si profesor sudah nanya-nanya terus kapan saya pindah ke Sydney padahal saya belom pasti dapat beasiswa. Hehe

Begitulah pengalaman saya waktu mencari profesor sebagai salah satu tahap dalam mencari beasiswa. Semoga membantu dan bermanfaat.

Please follow and like us:

Pengalaman lolos seleksi administrasi beasiswa LPDP

Hai, ketemu lagi. Mumpung banget nih, yang punya blog lagi mood untuk nulis beberapa artikel sekaligus terkait beasiswa dan elemen-elemen pendukungnya. Nah karena baru-baru ini saya baru saja melalui tahap seleksi SBK (Seleksi Berbasis Komputer) LPDP, jadi, masih hangat-hangatnya nih di otak tentang pengalaman melalui dua seleksi yang disyaratkan LPDP yaitu seleksi administrasi dan seleksi berbasis komputer (SBK), Namun, di postingan ini, saya mau fokus ke seleksi administrasi dulu karena seleksi administrasi itu merupakan langkah awal yang sangat menentukan lanjut atau tidaknya kita ke tahapan seleksi berikutnya. Dan jangan anggap remeh, untuk seleksi administrasi, perjuangannya juga lumayan lho.. karena persyaratan dan dokumen yg diminta LPDP itu cukup banyak. Fyi, ini merupakan pengalaman pertama saya melamar beasiswa LPDP.

Hal yang paling penting untuk menaklukkan seleksi administrasi, menurut hemat saya adalah ketelitian dalam membaca dan memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan dan tertulis di booklet LPDP. (bisa diakses di sini)

Interface web LPDP juga sangat mudah dipelajari sehingga kita bisa langsung klik kolom “beasiswa” untuk dapat lebih lanjut mendapatkan informasi

Setelah kita mempelajari semua persyaratan, baik dari booklet maupun dari website LPDP, mulailah untuk mengisi aplikasi online sambil melengkapi dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan.

Dari web tersebut, kita akan di arahkan untuk membuat akun aplikasi online. Untuk Program BUDI 2019 yang saya lamar, info terkait deadline dan persyaratan, bisa dilihat di sini. Untuk link unduhan booklet pedoman, bisa diklik di sini

Tampilan awal aplikasi online lpdp adalah seperti ini:

Setelah login ke web online application tersebut, kita harus mengisi data seperti:

  1. Data pribadi (terkait alamat, ttl, no. telpon, nama kampus terakhir,dll)
  2. Riwayat pekerjaan
  3. Riwayat organisasi dari kita SMP
  4. Riwayat pelatihan yang pernah kita ikuti
  5. Riwayat studi
  6. Data suami/istri
  7. Data orang tua
  8. terakhir, berupa laman upload dokumen-dokumen yang diminta

Dokumen yang diminta agak banyak, seperti :

  1. Melampirkan surat izin mengikuti seleksi dari unit yang membidangi sumber daya manusia bagi yang sedang bekerja (format dapat diunduh pada aplikasi pendaftaran dibagian unggah dokumen);
  2. Melampirkan Surat Keterangan sehat yang masa berlakunya paling lama 6 (enam) bulan terhitung dari tanggal diterbitkannya sampai tanggal penutupan pendaftaran setiap periode, dengan ketentuan sebagai berikut: Surat Keterangan sehat jasmani yang dikeluarkan oleh dokter dari Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik;
    Surat Keterangan bebas dari narkoba yang dikeluarkan oleh dokter dari Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik/Badan/Lembaga yang diberikan kewenangan untuk pengujian zat narkoba;
    Surat Keterangan bebas dari TBC yang dikeluarkan oleh dokter dari Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik, khusus untuk pendaftar dengan tujuan perguruan tinggi luar negeri
  3. Melampirkan surat rekomendasi dari pimpinan, tokoh atau pakar di bidangnya (format dapat diunduh pada aplikasi pendaftaran dibagian unggah dokumen);
  4. LoA Unconditional dari Perguruan Tinggi Tujuan. (contoh, klik di sini)
  5. Melampirkan surat izin mendaftar beasiswa dari pemimpin Perguruan Tinggi Negeri bagidosen PTN, atau koordinator Kopertis Wilayah bagi dosen Perguruan Tinggi Swasta.
  6. Mendapatkan izin tertulis untuk melanjutkan studi doktoral dari pemimpin Perguruan Tinggi Negeri bagi dosen PTN, atau koordinator Kopertis Wilayah bagi dosen PerguruanTinggi
  7. Surat pernyataan (format dapat diunduh pada aplikasipendaftaran dibagian unggah dokumen)
  8. dokumen transklrip nilai 
  9. Dokumen skor B. Inggris (TOEFL IBT/IELTS/TOEIC)

(sumber: web LPDP)

Nah, semua persyaratan yang banyak ini memang tidak boleh ada yang terlewatkan. Jadi semua kolom di web aplikasi online harus terisi begitupun dengan persyaratan dokumen yang harus diunduh.

Bagi saya yang paling susah itu adalah mendapatkan surat keterangan bebas TBC. Karena harus melalui proses yang tidak singkat di rumah sakit. Tapi alhamdulillah akhirnya semua dokumen bisa saya lengkapi sebelum deadline submisi LPDP tahap 2 2019.

Selain itu, karena saya dosen kampus swasta, maka surat ijin harus dikeluarkan oleh LLDikti. Kalau dosen kampus negeri, cukup surat ijin dari Rektornya saja. Jadi saya harus menunggu beberapa waktu, mulai surat tersebut diajukan oleh pihak kampus saya ke LLDikti sampai akhirnya sampai hardcopynya ke tangan saya.

Setelah semuanya selesai.. tinggal pasrah dan berdoa sampai akhirnya saya dapat kabar pada tanggal yang dijanjikan sebagai tanggal pengumuman, bahwa saya lolos. Pengumumannya melalui web aplikasi online. Alhamdulillah.

Menurut saya, bukan hanya sekedar kelengkapan yang dinilai dalam seleksi administrasi ini, namun keabsahan dokumen. Misalnya, LoA, apakah sudah sesuai dengan standar yang diinginkan LPDP, Sertifikat B. Inggris, apakah masih berlaku atau sudah expired. Begitupun juga dengan surat kesehatan, narkoba, dan bebas TBC. Saya rasa semua itu dicek keabsahannya. Namun, LPDP tidak memberi konfirmasi mengapa seseorang ditolak dalam seleksi ini. Jadinya, saya sama teman-teman seperti membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri. Seperti, ada beberapa teman yang LoA nya dikeluarkan oleh jurusan/fakultas/profesor, mereka nggak lolos seleksi administrasi. Namun, yang pakai LoA keluaran Universitas, diterima. Jadi, bisa jadi karena LoAnya.. (tp ini hanya kesimpulan yang dibuat melalui obrolan bersama teman-teman). Kalau mau tahu bagaimana saya mendapatkan LoA, bisa klik di sini

Oya, perlu juga digaris-bawahi bahwa kita perlu cek kampus yang memang ditunjuk oleh LPDP untuk kita lamar. Karena nggak semua kampus masuk di listnya LPDP.

Berikutnya, dokumen-dokumen yang banyak itu juga jangan dibuang ya walaupun yang diminta di pendaftaran awal itu hanya versi scan. Jadi simpen deh yang rapi karena nanti dokumen tersebut akan diminta pada saat seleksi wawancara.

Tips saya, isilah aplikasi online jauh-jauh hari sebelum deadline karena isian form dan dokumen yang harus dilengkapi sangatlah banyak. Belum lagi ada beberapa dokumen yang nggak bisa langsung jadi seperti surat keterangan TBC dan surat rekomendasi LLDikti (bagi dosen swasta).

Jadi, kalau kamu baca artikel ini sekarang, kamu sangat beruntung karena masih punya waktu hampir 1 tahun untuk mempersiapkan diri.

Selamat mencoba and.. good luck 🙂

Please follow and like us:

Bagaimana Caranya Mendapatkan LOA?

Hai, Yg dateng ke blog ini pasti lagi galau banget pengen segera punya LoA atau lagi nungguin LoA yang belum keluar juga sampai saat ini untuk melamar beasiswa. Ya kan? Eh sok tau deh saya..hehe..

Buat yang belum tahu, kita bahas dulu ya LoA itu apa, LoA itu kependekan dari Letter of Acceptance. Dari namanya, sepertinya sudah bisa ditebak kira-kira isinya apa. Jadi, surat (letter) tersebut adalah surat pernyataan penerimaan dari kampus luar negeri tujuan studi. Namun, sebelum jauh ke LoA, ada yang namanya LoO atau Letter of Offer. Letter of Offer ini tahapnya sebelum LoA, jadi LoO ini surat menyatakan bahwa kita diterima di kampus tujuan namun masih ada syarat seperti pelunasan pembiayaan. Setelah pembiayaan beres, maka LoO otomatis berubah menjadi LoA. Namun, semua itu tergantung kebijakan kampus. Ada juga yang langsung kasih LoA. Di kasus saya dan beberapa teman, namanya masih Letter of Offer dulu sebelum jelas ada pihak beasiswa menjamin kita bisa bayar biaya kampusnya.

Sayangnya, yang terlanjur populer adalah LoA. Sehingga dalam persyaratan untuk melamar beasiswa, contohnya LPDP BUDI dan BPPLN, yang diminta adalah LoA plus yang unconditional. Jadi ada dua jenis LoA; Unconditional dan Conditional. Kedua jenis ini juga bikin pusing bedainnya kecuali ada tulisannya. Tapi kenyataannya, ada yang ada, ada yang nggak ada.

Beasiswa LPDP menyaratkan si pelamar skim BUDI untuk punya unconditional LoA. Namun, di beberapa kampus di luar negeri, Unconditional LoA hanya bisa keluar setelah ada surat pernyataan bahwa kita sudah mendapatkan beasiswa. Jadi, selama belum unconditional, artinya ya masih conditional dong? Pada saat itu, ya saya mikirnya begitu.

Tapi ternyata, ketahuannya setelah lolos seleksi administrasi beasiswa LPDP. Walapun yang saya upload itu adalah LoO atau Letter of Offer dan tidak ada tulisan “unconditional”nya, bisa lolos seleksi administrasi. LoO yang saya punya memuat beberapa point seperti:

  1. sudah ada pernyataan bahwa kampus yang kita tuju, baik secara implisit atau eksplisit, menerima kita. Misal ada kata “congratulations” atau ada kata “we are delighted to offer you…..”
  2. ada student number
  3. ada nama supervisor (dosen pembimbing) baik supervisor 1 atau 2. Di LoO saya sudah tertulis kedua nama calon supervisornya
  4. ada rincian biaya yang harus dilunasi
  5. ada tanggal, bulan, tahun kita dijadwakan masuk

Visualisasinya seperti ini

Jadi dari situ saya simpulkan bahwa, selama point-point tersebut ada di Letter of Offer, maka itu bisa dipakai untuk melamar beasiswa LPDP khususnya BUDI (Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia).

Nah cara dapetinnya gimana?

Jujur, mendapatkan LoA itu merupakan proses yang paling sulit dalam memenuhi persyaratan beasiswa selain memenuhi persyaratan skor IELTS (tips meningkatkan skor IELTS agar dapat memenuhi standar beasiswa, bisa diklik di sini). Menurut pengalaman saya, tahap untuk mendapat LoA adalah sebagai berikut:

  1. Do the research! yang kita riset di sini adalah kampus-kampus beserta program yang kita tuju. Dari proses mencari kampus sampai mendapatkan LoA, saya butuh waktu selama kurang lebih 5 bulan. Jadi awal tahun 2019 saya mulai riset kampus-kampus mana saja yang kira-kira punya program sesuai dengan bidang ilmu saya. Risetnya juga hanya bermodalkan kuota kok, browse website kampus-kampus yang dituju dan mempelajari apa saja program yang mereka punya dan apa saja requirenments-nya. Masing-masing kampus pastinya menawarkan program yang berbeda dan persyaratan yang juga berbeda-beda. Dalam proses ini, saya butuh membuat list seperti: berapa skor IELTS yang mereka terima, topik riset yang sedang dijalankan di kampus tsb, dan nama-nama dosen yang bisa saya prospek untuk menjadi supervisor.
  2. Mencari supervisor. Jadi, di beberapa kampus itu, LoO/LoA sangat bergantung dengan apa kata profesor. Artinya, selama kita sudah mendapatkan profesor, maka LoA bisa diproses. Namun ada juga yang tidak perlu profesor untuk bisa mendapatkan LoA. Sebagai contoh, kalau di Australia itu, UWA (University of Western Australia). Mereka tidak menyaratkan kita sudah mendapatkan profesor yang mau supervisi riset kita nanti, namun mereka yang akan pilihkan sendiri supervisornya. Dalam kasus ini, kita hanya perlu untuk melamar langsung ke universitas secara online dan mengapload semua persyaratan di laman online application kampus tanpa harus mencantumkan nama calon supervisor kita. (Fyi, tahap ini sudah pernah saya lalui namun langsung ditolak sama UWA. haha). Untuk detil bagaimana cara mendapatkan profesor, nanti saya tulis di postingan yang lain ya.. karna kalau diceritakan di sini semua, bakalan sangat panjang.
  3. Tahap berikutnya, setelah mendapatkan profesor, maka tahap yang akan kita lalui adalah seperti ini: – Apply online via email ke Fakultas (mengupload semua dokumen persyaratan) — menunggu hasil rapat komitee — mendapatkan rekomendasi sebagai hasil dari rapat komitee tersebut via email — membuat akun di aplikasi apply online kampus UNSW dan mengupload semua dokumen persyaratan — submit — tunggu— 1 bulan kemudian, LoO keluar. Alhamdulillah.. what a process!! (ini berdasarkan pengalaman saya. Bisa jadi pengalaman orang lain, beda lagi. Sekali lagi, semua proses ini tergantung dengan kebijakan kampus. Namun, bisa dibilang, proses tersebut mirip-mirip)

Memang LoA itu bagian yang sangat penting dalam proses mendapatkan beasiswa khususnya beasiswa dalam negeri untuk level Doktoral. Mengapa demikian? Karena beberapa jenis beasiswa sepertinya pengen praktis aja, nggak mau gambling sama kandidat yang belum jelas akan kuliah di mana. Namun nggak semua beasiswa itu menuntut adanya LoA, lhoo.. kalau kalian merasa terlalu sulit mencari LoA, baiknya lamarlah beasiswa-beasiswa yang sumbernya bukan dari dalam negeri seperti beasiswa Fulbright, Mombusho, Australian Awards dan lain-lain.

Oke, sekian sharing dari saya, semoga bisa memberi pencerahan. 🙂

Please follow and like us:

Bagaimana meningkatkan nilai IELTS?

Hai, buat kalian yang sedang berjuang meraih beasiswa untuk bisa sekolah ke luar negeri atau ingin sekolah ke luar negeri yang berbahasa Inggris atau yang ingin pindah domisili ke luar negeri, Nilai IELTS itu sangat penting. Namun, dalam tulisan ini, fokusnya pada nilai IELTS untuk keperluan beasiswa dan sekolah ke luar negeri.

Meningkatkan nilai IELTS berdasarkan pengalaman saya ada beberapa cara:

  1. Lakukanlah Pre tes

Perlu diketahui, biaya untuk ikut test IELTS ini lumayan mahal, jadi alangkah lebih bijak kalau kita lakukan Pre-Test dulu supaya tahu kira-kira nilai kita berapa. Pre test ini tujuannya supaya kita nggak overestimate atau underestimate kemampuan kita. Menurut pengalaman saya, orang-orang yang nggak familiar sama jenis soal IELTS, nilai pretest-nya biasanya kurang bagus sekalipun mereka memang orang jurusan B.Inggris atau yang B. Inggrisnya jago banget sekalipun. Saya punya teman bahkan sudah doktor dari bidang B. Inggris, namun dia tidak pernah punya pengalaman ikut tes IELTS, nilai pre-testnya hanya 6,5. Harapan kita kalau lihat orang jago B. Inggris gitu minimal dapetnya 7 lah yaa.. tp ya jago atau nggak jago, dalam urusan tes kadang nggak terlalu ngaruh. Yang ngaruh itu seberapa familiar kita dengan jenis soal.

Nilai saya sendiri pertama kali ikut pretes malah nggak sampai 5 overall nya, dengan rincian sebagai berikut:

Di simulasi ini nggak ada Speaking karena pihak tempat kursusnya nggak menyediakan simulasi Speaking di pretest.

2. Les

Tips untuk les ini penting banget menurut saya karena bagi saya there is no other way. Saya udah pernah ngalamin jungkir balik belajar Autodidak waktu saya masih mengejar nilai Toefl dan ternyata tidak berhasil. Oiya, fyi, sebelum memutuskan mau punya sertifikat IELTS, saya awalnya mengejar Toefl namun nilai nggak naik-naik. Singkat cerita, saya patah hati sama Toefl dan mencoba peruntungan ke IELTS. Kebetulan ada tempat kursus yang baru buka waktu itu dan mereka datang ke kampus untuk promosi termasuk memberikan fasilitas pretest bagi dosen-dosen yang berminat untuk kursus. Nah sejak itu saya niatin deh ikut kursus. Kursus ini bukan berarti kita downgrading harga diri (ih udah tua kok masih les aja), sumpah jangan mikir gitu.. les itu guru-gurunya dipilih yang memang sudah pernah menaklukkan tes IELTS dan banyak sekali materi yang bermanfaat yang nggak akan kita dapet jika kita belajar sendiri maupun belajar online. Tatap muka sama gurunya itu berharga banget buat kamu yang emang niat banget belajar. Enakan tanya-tanya sama manusial ternyata daripada sama om Google. hehe.. Tempat kursus saya waktu itu di Central Education Lampung, paket kursus IELTS 3 bulan dengan biaya 1,7 jt sudah dapet pre dan post test. Itu harga tahun 2018 ya.. kalo sekarang saya nggak update lagi harga kursusnya.

  1. Tes

Di tempat saya kursus, Central Education juga menyediakan tes IELTS dari IDP yang biayanya 2,9 jt. Oiya biaya kursus nggak termasuk biaya tes IELTS nya. Enaknya di Central Education ini jg kalau kita sudah memutuskan untuk ikut tes IELTS mereka akan kasih full simulasi sebelum tes beneran berlangsung.

Apakah nilai saya jadi naik setelah les? tentu!! di awal overall tidak sampai 5, setelah les, saya 2 kali ikut tes IELTS. Nilai pertama dapet overall 6,5 dan yang ke dua dapat overall 7 (Listening 7,5, Reading 7, Speaking 7 dan Writing 6). Nah ini hasilnya

IELTS pertama

IELTS ke 2

Jadi, buat kamu-kamu yang lagi berjuang meningkatkan nilai IELTS, semangat.. jangan putus asa karena sekalipun tes ini mahalnya sangat mencekik, tapi sifatnya bisa diulang. Maksudnya? ya nggak kayak IPK yang udah cuma bisa sekali aja tertulis di transkrip nilai. Kalo transkrip kan udah nggak akan bisa diulang lagi, kecuali kamu ngulang kuliah di tempat yang berbeda, hehe. Berita baiknya, IELTS masih sangat bisa diulang jika kamu tidak puas akan nilainya.

Satu lagi, jangan sayang sama uang untuk les. Sayanglah sama biaya kegagalan kamu kalo nggak ikut les.

Semoga bermanfaat 🙂

Please follow and like us:

Architecture Studio Challenge: The Relevance of Heavy Assignment

In many years, architecture school has been facing reality which might confuse both lecturers and students such as, a great deal of school assignment-demand and the least yet low-paid job which future offers. This reality makes the architecture curriculum purposes bias since the hard work does not always contribute to the higher opportunity which students will get in the future. However, some of faculty members still believe that great deal of assignments are still needed in order to achieve particular standard of competency.  

Studio-based subjects, for a long time, are the greatest contributor of endless and heavy assignments. Like it or not, lecturers should be honest of the fact that not many students are well-motivated to finish studio-based subjects assignments in strictly limited of time. In our case, we face difficulties on finding the studio-learning formula since the one who achieve pleasing grade, let say, the successful student, is the one who is passionate of becoming architect while the others are easily losing motivation because of the exhaustion and the trauma of doing the work. Thus, this kind of success is not a result of a great studio formula; the well-motivated students will always be motivated while the low-motivated maintains low performance. Hence, the point of heavy assignments is questioned since they fail to motivate low-motivated students to make any improvement.

Another issue, the job which available in architecture field in recent days are no longer promising. The availability is limited so does the salary. As compensation, a big amount of alumni getting the job outside architecture field. 

As conclusion, the formula of studio program should be as to the reality in professional world. Perhaps, the studio formula needs to be unique each year in order to fit student’s potential. Or, lecturers need to map student’s strength first before planning assignment any further. It is not unlikely that a new studio formula will appear.

by: Shofia Islamia Ishar

Please follow and like us:

Balkrishna Doshi memenangkan Pritzker Prize di usianya yang ke-90 tahun

Balkrishna Doshi memenangkan Pritzker Prize di usianya yang ke-90 tahun

Awal Maret ini, dunia arsitektur dikejutkan dengan berita pemenang Pritzker Prize. Dia adalah Balkrishna Doshi, arsitek dari India. Berita ini merupakan fakta yang menarik mengingat ini pertama kalinya sepanjang sejarah Pritzker, pemenangnya berasal dari Asia Selatan yang sekaligus juga yang pertama bagi India.

Doshi membuktikan bahwa Age doesn’t matter! Walaupun sudah berusia lanjut yaitu 90 tahun, Doshi membuktikan bahwa ia layak memenangkan penghargaan paling tinggi di bidang arsitektur ini. Doshi juga menjadi pemenang Pritzker pertama yang tidak mempunyai proyek internasional (semua bangunan hasil desain Doshi berada di India)

Proyek – proyek Doshi sangat memerhatikan kontekstualitas terhadap tempat (tradisi orang India). Bagi Doshi, tradisi setempat harus tetap dipertahankan dan dieksplorasi sebagai ciri khas suatu karya arsitektur di mana pun karya tersebut berada. Walaupun demikian, proyek-proyek Doshi sangat relevan terhadap teknologi.

Berikut adalah desain-desain Balkrishna Doshi,

Institute of indology, 1962

kamala house, 1963

Premabhai hall, 1976

Kamala house, 1963

Centre for environmental planning & technology, 1966-2012

Indian institute of management, 1977-1992

(All pictures are taken from https://www.designboom.com/architecture/balkrishna-doshi-projects-pritzker-prize-round-up-03-12-2018/)

 

Dengan melihat karya-karya tersebut, saya langsung merasakan bahwa semua yang beliau katakan di video-videonya sangat tercermin dalam setiap desain yang dibuatnya. Berikut adalah salah satu video yang saya ambil dari Youtube dan ada beberapa pesan yang saya rasa cukup mengena yaitu,

“Young architect should understand technology..”

“Young architect should connect to the world”

Kesannya memang klise tapi itu pesan yang sangat pas di era manapun kita hidup. Bagi saya, pesan tersebut memberi saran betapa pentingnya being up-to-date sama jaman dan bidang yang kita geluti. Selain itu, kita sebagai arsitek muda juga harus bisa connect to the world yang berarti, harus bisa menembus “pergaulan” internasional supaya memiliki pengetahuan yang luas dan pola pikir yang terbuka.

Congratulation, Doshi..

 

Please follow and like us:

Pengalaman “Pindahan” dari Windows ke Apple 

Sekitar tahun lalu, saya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa kerja laptop saya setelah 9 tahun saya pakai. Kenapa diberhentikan? Tentu karena :

1. Sering ngadat

2. Sering kena virus

3. Adaptor sering rusak

4. Baterai tak lagi fungsional

5. Ya sudah lah ya..memang sudah waktunya.

Sy pakai laptop Lenovo sejak tahun 2009 dengan berbagai love-hate relationship sama laptop bersejarah ini. Dan akhirnya sayapun harus rela kerja ekstra keras untuk bisa beli laptop baru.

Pilihan saya jatuh pada The New Macbook (rose gold) tahun 2016. Berhubung pekerjaan saya sekarang lebih menuntut mobilitas yang tinggi, saya butuh laptop yg ekstra ringan. Karena lokasi antara gedung kantor dan gedung kelas, agak penuh rintangan. Naik ke bangunan 4 lantai dengan membawa laptop yg lama berukuran 15,4″ cukup merepotkan dan menyebabkan sakit pundak 😄. Maka, ketika lihat si Macbook yg tipis ini, sy jatuh hati. Berikut testimoni saya setelah menggunakan Macbook:

1. Tipis dan sangat ringkas. Ringan sekali dan bisa masuk ke dalam tote bag. Jd nggak perlu bawa 2 tas lagi. Karena bawa-bawa 2 tas itu somehow less fashion 😄😄😄. Ini penampakan tipisnya The New Macbook. Dia lebih tipis dari Macbook Air

20171120_082359.jpg
Penampakan dalam kondisi terbuka

20171120_082457.jpg
Penampakan dalam kondisi terbuka

2. Aplikasi-aplikasi bawaan yang super user friendly dan lecturer friendly. Aplikasi-aplikasi tsb jg bisa didapatkan di Macbook dengan jenis lain. Aplikasi tsb adalah : Keynote (aplikasi untuk presentasi), Pages (aplikasi untuk menulis), dan Number (Aplikasi perhitungan). Karena saya adalah pemula sebagai pengguna Mac, 3 aplikasi ini sangat membantu sekali dalam menjalankan tugas sebagai dosen dan peneliti. Terdapat template dengan desain yang lucu-lucu pada masing-masing aplikasi tersebut sehingga, kita tdk perlu lagi pusing-pusing memikirkan estetika layout saat bekerja. Tinggal ketik saja, dan..voilaaa.. presentasi materi kuliah menjadi cantik.

3. Waktu start up dan shut down yang cepat. Ini membantu sekali, mengingat laptop lama saya kalau sedang start up bisa saya tinggal mandi, sholat, makan, jalan-jalan, pergi umroh, baru deh nyala 😄

4. Kemudahan penggunaan aplikasi numbers untuk template penilaian. Ini refers ke poin ke dua. Numbers ini seperti MS Excel, namun dilengkapi fasilitas template yg banyak. Mulai dari simple table, perhitungan margin, rencana finansial, baby growth chart dan yang paling saya suka adalah Grade Book template. Yaitu template untuk dokumentasi dan penghitungan nilai murid. Mengingat saya selalu kelabakan ketika rekap nilai di akhir semester dengan bolak balik memasukkan rumus ke dalam tabel, maka template ini sangat menggiurkan. Tinggal masukin aja nilainya dan voila… hasil akhir A,B,C,D nya langsung keluar. Nggak perlu dihitung-hitung lagi. Plus, kalau kita buka tab di dalam template ini, ada each student report. Ini semacam raport per anak. Jd pada tab ini, kita tinggal ketik nama murid, dan keluarlah grafik proses pembelajaran dia dari awal sampai akhir. Aaah, Me likey….. 😄😄

Screen Shot 2017-11-20 at 8.27.32 AM
Template untuk penilaian (Grade book) pada Aplikasi Numbers

Screen Shot 2017-11-20 at 8.27.37 AM
Student Report pada template Grade Book

5. Kompatibilitas antara Pages dan Numbers. Pages adalah semacam Ms. Word kalau di Windows. Numbers adalah Ms. Excelnya. Enaknya, kedua app ini kompatibilitasnya juara sekali. Jd kalau kita bikin tabel di word, maka tabel tersebut bekerja sebagaimana dia bekerja di numbers. Kita bisa masukkan macam-macam rumus ke tabel tersebut. Jd nggak perlu buka dua aplikasi lagi.

6. Macbook minim peluang kena virus

7. Material yang bagus, bukan berbahan dasar plastik seperti laptop sebelumya. Jd pertimbangannya akan lebih awet.

Nah itu kelebihannya. Apakah tidak ada kekurangan? Ya tentu ada. Apa saja itu?

1. Macbook ini terasa sangat enak apabila kita kerja secara individu namun kurang enak kalau kerja tim. Mengingat mayoritas kolega masih memakai windows bahkan sistem web di kemenristekdikti untuk penelitian dosen, masih sangat berpihak pada windows. Duh. Saya agak repot ketika harus bolak balik pindah-pindahin file. Karena file dari macbook sekalipun bisa dikonvert misalnya ke format docx, namun di windows tampilannya akan tetap berbeda. Yg aman adalah ketika dalam kerja tim, yg dibutuhkan hanya format pdf.

2. Macbook keluaran baru, rata-rata hanya punya satu lubang colokan. Yaitu USB C. Ini sebenarnya bukan kekurangam juga sih karena memang Apple mau bikin yg tipis jadi konsekuensinya adlh meminimalisir port. Nah kekurangan dalam hal ini adalah extra budget. Kita harus beli kabel untuk sambung VGA dan kabel untuk sambung USB. Dan ini harganya lumayan sekali ya.. 😄. Berikut gambar untuk sambungan USB dan VGA.

3. Tidak ada Adobe Photoshop dan Corel draw. Buat orang yg sangat bergantung dgn kedua software ini, sy lumayan kerepotan. Namun, kerepotan ini membawa hikmah. Sy jadi lebih kreatif dlm mencari software-open source yg bisa diakses di Macbook. Dan untuk pengganti Photoshop saya pakai GIMP. Sedangkan untuk pengganti Corel Draw, saya pakai Inkscape. Kedua Software ini bisa diunduh gratis di internet (klik link pada ke dua nama tersebut di post ini)

4. Harga yang mahal. Ya memang harganya lumayan menguras kantong sampe nggak bersisa. Tapi, worth it sekali. Saya pemegang prinsip, selama barang tsb digunakan untuk sesuatu yang produktif, maka sah sah saja kalau kita pilih yang bagus. Dan harga nggak pernah bohong.

5. Tidak ada aplikasi maupun software yang setara dengam MS Access. Ini jg yang bikin saya kesusahan setiap mengisi laporan Beban Kerja Dosen di setiap akhir semester. Ini lah yg saya bingung, padahal untuk di Perguruan Tinggi Negeri, kemenristekdikti sudah buatkan sistem online untuk pengisian BKD. Langsung diisi diweb. Namun untuk di Perguruan Tinggi Swasta yang dikoordinir oleh Kopertis, mengapa pengisian BKD ini masih sangat begantung dgn MS Access??!! Kenapa nggak langsung isi di web saja? Sungguh ter..la…lu 😬

Nah, itu tadi pengalaman saya yang masih anak baru dalam memakai produk laptopnya Apple. Kalau ada yang punya masalah yang sama dan mau tanya lebih lanjut, don’t bother to comment below. ☺

~Shofia

Please follow and like us:

Enak nggak sih jadi dosen?

Karena sering sekali ditanya teman dan kerabat seputar profesi dosen dan beberapa kali mendapatkan pertanyaan “enak nggak sih jadi dosen?”, saya memutuskan menuliskan ini di blog. Tujuannya supaya kalau ada yang tanya lagi via Whatsapp, tinggal saya kasih aja linknya. Jadi nggak perlu nulis panjang lebar. Hehe.

Kalau ditanya enak atau nggak? Alhamdulillah jawaban saya “enak”. Ya masak mau dijawab nggak enak? Kesannya nggak bersyukur banget gitu. Tapi ya namanya pekerjaan, di mana pun nggak akan ada yang sempurna.

Supaya jawaban “enak” tersebut bisa masuk akal, kita perlu rinci dulu kriteria enak ini apa aja sih? Job desk yang ringan? Gaji yang besar? Fleksibilitas waktu kerja? Peluang peningkatan karir yang jelas?

Baiklah kita jabarkan masing-masing kriteria tersebut dari profesi dosen

Job desk

Seringkali ada miss – understanding di sini. Rumornya jadi dosen itu kerjanya hanya mengajar terus pulang, dapet gaji besar, kemudian kalau mahasiswa libur, kita ikutan libur.

Hehe..indah banget ya hidup kayak begitu?

Pernyataan di atas tidak sepenuhnya salah juga. Namun, ada beberapa pekerjaan yg tidak pernah terlintas di benak awam.

Jadi apa saja sih pekerjaan dosen itu? Secara garis besar, dosen harus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi:

1. Bidang Pendidikan dan pengajaran.

Pada bidang ini, dosen harus melakukan kegiatan pendidikan (sekolah ke jenjang yg lebih tinggi), dan bidang pengajaran yaitu mengajar seperti yg diketahui orang banyak. Nah ternyata, mengajar ini baru salah satu dari tupoksi dosen pada Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan pengajaran selain mengajar juga meliputi, mempersiapkan bahan ajar, membuat modul ajar, mengawas ujian, mengoreksi (tugas mingguan, tugas besar, UTS dan UAS), membimbing dan menguji Tugas Akhir. (Ngos-ngosan).

2. Bidang penelitian.

Karena dosen itu ilmunya harus terbarui terus, maka dosen diwajibkan melakukan penelitian dan setiap semester harus melaporkan kinerja tsb. Penelitian ini pun harus dipublikasikan. Terserah gimana caranya, penelitian dosen harus terpublikasi di jurnal. Tapi penelitian ini sifatnya beda dengan mengajar yg jadwalnya harian. Penelitian bisa dilakukan di sela-sela jam mengajar dan dilaporkan hanya satu kali dalam 1 semester (hanya? Bisa digaplok temen sesama dosen. ? )

3. Bidang pengabdian kepada masyarakat

Sama halnya dengan kegiatan penelitian, kegiatan ini juga diwajibkan dan dilaporkan setiap semesternya. Bagian ini susah-susah gampang karena kita harus berhadapan langsung dengan masyarakat dan memberikan servis untuk mereka sesuai dengan bidang kita.

4. Bidang penunjang

Belum cukup 3 poin di atas, dosen juga harus punya kegiatan lain. Mungkin maksudnya agar dosen2 nggak botak kepalanya ngoreksi tugas dan bikin laporan penelitian dan pengabdian kali ya? Jadi disuruhlah kami ini melakukan hal-hal lain yang sifatnya soft skill seperti bergaul. Bergaul ini dapat berupa berorganisasi, ikut serta dalam kepanitiaan kegiatan akademik maupun non akademik, menjadi juri, menjadi pejabat struktural, dan lain lain (selain 3 poin sebelumnya). Poin ini juga dilaporkan setiap semester 1 kali.

Gaji

Gaji ini sifatnya agak mistis ya. Standarnya beda-beda tiap kampus. Ada yang kecil banget, ada yang gede banget (yg ini yg maksud saya mistis. Semacam nggak nyata gitu, tapi ada).

Saya kasih kisi-kisi, kalau uang masuk ke kampus tersebut harganya selangit, bisa jadi bayaran dosennya jg tinggi. Namun ini berlaku untuk dosen PTS saja ya. Kalo dosen di PTN biasanya bayarannya sudah ikut standar pemerintah. Begitupun sebaliknya, kalau uang masuk kampus rendah, ya jangan harap bayaran dosennya besar. Jd kalau anda barusan mau jadi dosen, survei dulu berapa uang masuk untuk mahasiswa baru disana. Dari situ anda bisa mulai mengira-ngira, kira-kira anda nanti dibayar berapa.

Sama seperti kerja menjadi karyawan, gaji bulanan dosen terdiri dari beberapa komponen. Yaitu:

1. Gaji pokok

2. Uang makan dan transport

3. Honor mengajar

4. Tunjangan jenjang jabatan akademik (apabila sudah punya)

5. Tunjangan jabatan (apabila menjabat)

Itu yang pasti tiap bulannya walaupun jumlah honor mengajar bisa fluktuatif tergantung berapa kali kita masuk kelas dan berapa jumlah kelas yang kita ajar.

Selain gaji tersebut, pemerintah kita tanpa memandang bahwa seorang dosen itu dosen PTS atau PTN, dosen diberi tunjangan profesi (kalau sudah lulus tes sertifikasi).

Memang sih, kalau hanya dilihat dari besaran gaji yang didapat, penghasilan dosen mungkin tidak seberapa dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lain di perusahaan besar. Namun, dosen punya peluang pos pemasukan selain yang tersebut di atas, seperti mendapatkan hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hibah ini sifatnya kompetitif. Jadi kalau mau punya uang, harus siap berkompetisi untuk memenangkan hibah.

Fleksibilitas waktu kerja

Ini memang keunggulan profesi dosen dibanding profesi manapun. Dan ini pula yang bikin saya jatuh cinta pada profesi ini. Karena fleksibilitas waktu yang besar, saya bisa nonton film di jeda waktu antara mengajar mata kuliah satu dgn mata kuliah lainnya. Hahaha. Enak kaan? Jadi, bagian ini yang paling saya suka dari menjadi dosen. Kalau bagian kegiatan  lainnya, bacanya aja sudah ngos-ngosan, apalagi ngelakuinnya? ???

Tapi dosen itu butuh lho banyak-banyak nonton film. Apalagi dosen teknik, biar gaul gitu sama perkembangan teknologi. Dan biar bu guru juga nggak jenuh tenggelam dalam lembaran koreksian dan tumpukan file penelitian pengabdian. #alasan ?

Jenjang karir

Dosen itu jelas sekali akan mengalami peningkatan karir. Apabila si dosen rajin. Nah, jenjang karir ini yang menentukan bakalan naik atau enggaknya ya dosen itu sendiri. Dengan tertib melaksanakan 4 poin kinerja dosen yg saya tulis di atas dan mau mengurus kenaikan pangkat/jenjang akademik, maka jenjang karir ini insyaAllah akan naik. Sekali lagi, kalau kita mau ngurus. Banyak juga dosen yang jenjang akademiknya stuck karena alasan, “ribet ngurusnya”. ??

Tahapan jenjang akademik seorang dosen adalah sebagai berikut:

1. Asisten Ahli

2. Lektor

3. Lektor kepala

4. Guru besar

Nah untuk bisa naik, kita sendiri yang menentukan dengan keaktifan kita dalam melaksanakan 3 Dharma Perguruan Tinggi. Semakin naik jenjang akademik kita, semakin banyak pula beban pekerjaan kita. Berbanding lurus dengan hal tsb, penghasilan juga otomatis bertambah.

Bisa sekolah (lagi) gratisan

Karena dosen dituntut untuk bergelar doktor, maka peluang untuk sekolah lagi dengan beasiswa terbuka lebar. Tinggal gimana kitanya aja mengejar beasiswa tsb. Untuk di dalam negeri sendiri, dosen yang ber NIDN, dapat kemudahan untuk mendapatkan beasiswa dari Kemenristekdikti dan Kemenkeu yang dikenal dengan sebutan beasiswa BUDI.

Ilmu yang bermanfaat

Nah, ini nih the best part dari menjadi seorang dosen. Yang menurut saya inilah bayaran tertinggi yang tidak dapat dinilai dengan materi sebesar apapun. Bukan sok bijak tapi memang rasanya bangga sekali apabila melihat mahasiswa berhasil. Bangga melihat ilmu yang kita transfer, bisa mereka pakai untuk mengejar cita-cita.

Ilmu yang bermanfaat ini amalannya tidak akan putus selama ilmunya masih dipakai. Inilah tabungan akhiratnya. Karena ini jugalah saya selalu merasa berterimakasih kepada guru dan dosen-dosen saya. Karena ilmu dari mereka saya bisa menjadi seperti sekarang ini.

Please follow and like us: