Cara Mendapatkan Supervisor untuk Studi Doktoral di Luar Negeri (Australia)

Setelah di postingan sebelumnya saya sudah berjanji untuk menceritakan pengalaman saya untuk mendapatkan profesor/supervisor, maka, di tulisan ini saya akan berikan penjelasan yang mendetail dari proses mapping profesor sampai ke surat-menyurat melalui email.

Proses pencarian profesor ini adalah tahap yang cukup menantang karena kita nggak kenal secara langsung dengan profesor tersebut, yang bisa kita lakukan sebagai langkah awal hanyalah mencari info sebanyak-banyaknya melalui web kampus tujuan dan kanal-kanal jurnal internasional. Namun, saya pribadi lebih banyak melakukan survei via web kampus tujuan karena detail deskripsi tentang profesor beserta link-link publikasinya juga tersedia di sana.

Pada tulisan ini, yang akan saya bahas hanyalah untuk profesor di kampus-kampus, khususnya yang ada jurusan Environmental Design/Architecture, dan di negara Australia. Karena saya hanya melamar profesor ke negara itu saja. Nah, di Australia, beberapa kampus (ada juga yang tidak) menyaratkan untuk kita kontak faculty member (istilah untuk dosen-dosen atau profesor yang bekerja di kampus bersangkutan) dulu baru bisa apply secara resmi ke website kampus. Nah, proses ini merupakan proses yg cukup panjang bagi saya karena ternyata susah! Susahnya yaitu alangkah terbatasnya dosen-dosen yang minat risetnya sehati sama kita.

Untuk mempermudah, saya melakukan mapping Profesor. Mapping ini maksudnya saya menyusun data terkait kampus mana saja yang punya program sesuai dengan bidang saya, profesornya yang kira-kira seminat sama saya dan persyaratan lain yang harus saya penuhi.

Saya data satu persatu nama profesor yg bidang risetnya sejalan dan saya catat alamat emailnya. Fyi, kalau website kampus-kampus yang bereputasi itu, data tentang dosennya sangat jelas dan rinci. Ada deskripsi minat dosen, topik riset, mata kuliah yang diampu, riwayat studi dan juga alamat email.

Seperti ini mapping yang saya buat

Sudah dapat daftar nama profesor yang akan dilamar, alamat email juga sudah, lalu bagaimana lagi?

Mulai dari tahap ini, fase real struggle dimulai. Karena kita harus menyusun dokumen yang cukup meyakinkan untuk memberi impresi pada profesor yg kita incar. Juga, proposal riset dan CV kita juga harus sudah jadi, tertulis rapi dan terstruktur sebaik mungkin. Sebenarnya proposal saya juga biasa-biasa aja sih, masih banyak kurangnya. Tapi yang penting adalah jadi dulu, daripada menunggu proposal sempurna. Anggap saja uji jimat, kalaupun misalnya nggak dapat respon dari profesor, ya berarti proposal kita memang jelek. Hahah

Proposal sudah, CV sudah, wah artinya kita sudah siap tempur! hehe. Namun, masih ada satu PR lagi. Kita harus mempersiapkan kata-kata “maut” untuk menyurati profesor incaran kita. Jadi, proses mencari profesor ini saja udah bikin saya evolve, rasanya luar biasa banget bisa memotivasi diri dengan senang hati, eh tanpa sadar, bisa mengembangkan potensi kita di luar dugaan.

Ok, kita serius ke bagian penulisan surat.

Saya dinasihati teman kalau profesor-profesor itu pasti menerima ratusan email setiap harinya. Jadi, buatlah judul email yg tidak standar dan “menggiurkan” walaupun ya baru janji manis saja. Seperti:

“PHD Supervisor for Fully-Funded Indonesian Lecturer”

Nah dari judul tersebut kan ada kandungan “janji manis” yaitu Fully-Funded, meskipun ya kita belum mendapatkan funding apapun tapi paling tidak kita menarget diri kita untuk mendapatkan beasiswa yang fully funded. Judul seperti itu cukup mempan mengundang respon profesor sekalipun responnya rata-rata menolak. hahaahha sabar.. sabar…

Badan surat : sebenarnya di badan surat ini saya banyak nyontoh emailnya temen saya sih ke profesornya. Hihi.. tp ternyata mempan! Makasih ya Tita. Awalnya dia marah sih, tapi kayaknya udah nggak sih karena akhirnya dia juga udah dapet profesor bahkan beasiswa sekaligus. Asekk..

Intinya dalam badan surat ini, kita harus mengungkapkan secara jelas kita siapa, latar belakang pendidikan kita, latar belakang pekerjaan kita dan benang merahnya terhadap riset yang mau kita kerjakan serta kenapa harus dia yang supervisi kita. Tunjukkan bahwa kita prospektif dalam mendapatkan beasiswa karena pihak kampus si profesor kan juga butuh mahasiswa yang bisa bayar ya…

Kita perlu menjelaskan bagaimana rencana kita untuk membiayai program doktoral ini, jadi perlu dicantumkan nama beasiswa yang akan kita lamar, peluang kita dan kapan kira-kira kita bisa mendapatkan beasiswa tsb.

Karena saya dosen, jadi saya menyebutkan kalau saya akan melamar beasiswa dari pemerintah Indonesia karena pemerintah Indonesia mempunyai beberapa program beasiswa yang dikhususkan untuk dosen. Jadi, dengan kata lain, status dosen saya adalah peluang keberhasilan dalam meraih beasiswa tersebut. Jangan lupa untuk sering-sering memeriksa tulisa kita di email. Jangan sampai ada kata-kata yang kurang sopan atau typo.

Nah, setelah draft surat sudah jadi, Nah tinggal disebar deh.. ke alamat email profesor yang sudah kita map di atas.

Kira-kira seperti ini email yg saya buat waktu itu:

Dalam proses penebaran lamaran ke profesor, kira-kira lebih dari 20 nama sudah saya email. Namun, yang merespon positif pada waktu itu hanya 1, yaitu profesor dari Canberra University, itupun saya harus mengganti topik riset saya jika ingin tetap dibimbing beliau. Sisanya menolak dan tidak merespon. 

Berusahalah untuk tetap sabar dan santai sambil ya.. tetap coba cari alamat email baru lagi.

Namun akhirnya, setelah 1 bulan proses tebar email ke profesor-profesor, akhirya saya dapat email balasan dari profesor di UNSW Sydney. Di surat yang saya jadikan contoh di atas, bisa terlihat kalau saya menyurati profesor tersebut pada tanggal 10 April, namun, baru dibalas pada tanggal 10 Mei. Agak kaget karena saya pikir kalau sudah terlalu lama mengemail seseorang, harapan akan dibaca semakin tipis. Tapi ternyata rejeki memang nggak kemana, Alhamdulillah, email saya dibalas.

Sejak itu, saya intense berkomunikasi dengan profesor tersebut sampai ke tahap skype, asistensi proposal dan malah, si profesor sudah nanya-nanya terus kapan saya pindah ke Sydney padahal saya belom pasti dapat beasiswa. Hehe

Begitulah pengalaman saya waktu mencari profesor sebagai salah satu tahap dalam mencari beasiswa. Semoga membantu dan bermanfaat.

Please follow and like us:

Architecture Studio Challenge: The Relevance of Heavy Assignment

In many years, architecture school has been facing reality which might confuse both lecturers and students such as, a great deal of school assignment-demand and the least yet low-paid job which future offers. This reality makes the architecture curriculum purposes bias since the hard work does not always contribute to the higher opportunity which students will get in the future. However, some of faculty members still believe that great deal of assignments are still needed in order to achieve particular standard of competency.  

Studio-based subjects, for a long time, are the greatest contributor of endless and heavy assignments. Like it or not, lecturers should be honest of the fact that not many students are well-motivated to finish studio-based subjects assignments in strictly limited of time. In our case, we face difficulties on finding the studio-learning formula since the one who achieve pleasing grade, let say, the successful student, is the one who is passionate of becoming architect while the others are easily losing motivation because of the exhaustion and the trauma of doing the work. Thus, this kind of success is not a result of a great studio formula; the well-motivated students will always be motivated while the low-motivated maintains low performance. Hence, the point of heavy assignments is questioned since they fail to motivate low-motivated students to make any improvement.

Another issue, the job which available in architecture field in recent days are no longer promising. The availability is limited so does the salary. As compensation, a big amount of alumni getting the job outside architecture field. 

As conclusion, the formula of studio program should be as to the reality in professional world. Perhaps, the studio formula needs to be unique each year in order to fit student’s potential. Or, lecturers need to map student’s strength first before planning assignment any further. It is not unlikely that a new studio formula will appear.

by: Shofia Islamia Ishar

Please follow and like us:

Balkrishna Doshi memenangkan Pritzker Prize di usianya yang ke-90 tahun

Balkrishna Doshi memenangkan Pritzker Prize di usianya yang ke-90 tahun

Awal Maret ini, dunia arsitektur dikejutkan dengan berita pemenang Pritzker Prize. Dia adalah Balkrishna Doshi, arsitek dari India. Berita ini merupakan fakta yang menarik mengingat ini pertama kalinya sepanjang sejarah Pritzker, pemenangnya berasal dari Asia Selatan yang sekaligus juga yang pertama bagi India.

Doshi membuktikan bahwa Age doesn’t matter! Walaupun sudah berusia lanjut yaitu 90 tahun, Doshi membuktikan bahwa ia layak memenangkan penghargaan paling tinggi di bidang arsitektur ini. Doshi juga menjadi pemenang Pritzker pertama yang tidak mempunyai proyek internasional (semua bangunan hasil desain Doshi berada di India)

Proyek – proyek Doshi sangat memerhatikan kontekstualitas terhadap tempat (tradisi orang India). Bagi Doshi, tradisi setempat harus tetap dipertahankan dan dieksplorasi sebagai ciri khas suatu karya arsitektur di mana pun karya tersebut berada. Walaupun demikian, proyek-proyek Doshi sangat relevan terhadap teknologi.

Berikut adalah desain-desain Balkrishna Doshi,

Institute of indology, 1962

kamala house, 1963

Premabhai hall, 1976

Kamala house, 1963

Centre for environmental planning & technology, 1966-2012

Indian institute of management, 1977-1992

(All pictures are taken from https://www.designboom.com/architecture/balkrishna-doshi-projects-pritzker-prize-round-up-03-12-2018/)

 

Dengan melihat karya-karya tersebut, saya langsung merasakan bahwa semua yang beliau katakan di video-videonya sangat tercermin dalam setiap desain yang dibuatnya. Berikut adalah salah satu video yang saya ambil dari Youtube dan ada beberapa pesan yang saya rasa cukup mengena yaitu,

“Young architect should understand technology..”

“Young architect should connect to the world”

Kesannya memang klise tapi itu pesan yang sangat pas di era manapun kita hidup. Bagi saya, pesan tersebut memberi saran betapa pentingnya being up-to-date sama jaman dan bidang yang kita geluti. Selain itu, kita sebagai arsitek muda juga harus bisa connect to the world yang berarti, harus bisa menembus “pergaulan” internasional supaya memiliki pengetahuan yang luas dan pola pikir yang terbuka.

Congratulation, Doshi..

 

Please follow and like us:

“hadiah” dari dua makluk “luar angkasa”

tim-okeh-banget

Masih nyambung ke post sebelumnya, kami bertiga adalah bagian dari Tim sayembara. Dan yang di sebelah kiri gue (pake baju putih-item) adalah Ami (nickname dari Fahmi) dan yang di sebelah kanan gue (pake baju abu-abu) adalah gembong (nama asli memang gembong) mereka adalah kenalan baru gue yang super aneh dan juga super hebat. Ami yang bisa apa saja.. dari mengoperasikan segala macem software design (3d’s max, maya, sketch up, teknik render pake atlantis, v-ray, maxwell) dan anehnya.. JAGO!!
Continue reading ““hadiah” dari dua makluk “luar angkasa””

Please follow and like us:

sayembara rest area

Akhirnya matrix ada guna nya juga!! setelah berabad-abad unggah gambar.. kesampean juga nih gambar ada di blog gue. Ini hasil kerja tim untuk ikut sayembara IAI bertajuk “Desain Arsitektur Gerbang Tol Area Istirahat Jalan Tol Kanci-Pejagan”. Sebagai ketua tim adalah Baskoro Tedjo, dan mengekor di belakang nya adalah…. yak.. siapa itu??
Continue reading “sayembara rest area”

Please follow and like us:

Rumah impian

Waktu masih jadi pengangguran, iseng ngedesain rumah tinggal.. anggaplah rumah impian. Sambil belajar 3d’s max (waktu itu masih bener-bener belajar dan memang minim pengetahuan 3d, dan sekarang tetep blom jago juga), jadi deh kayak begini..
Continue reading “Rumah impian”

Please follow and like us:

Blend in into Nature : Sebuah Persuasi Untuk Membumi

concept-xingle4

Proyek ini merupakan proposal desain untuk tugas studio 1 yang TOR nya adalah demikian:

  1. Membangun community place di kawasan hijau Kota Bandung yang itu Babakan Silihwangi (yang sebentar lagi akan dibangun Mall oleh pemerintah)
  2. Tidak mengeksploitasi kawasan tersebut dengan mempertahankan sebanyak mungkin ke”hijau-annya”
  3. Tidak boleh menebang satu pun Pohon yang berada di dalam nya.

maka konsep saya adalah demikian:

  • “membumi” secara arsitektur dengan cara melebur kepada alam
  • “membumi” secara sosial dengan cara melebur dengan komunitas

Pengaplikasian konsep membumi secara arsitektural adalah dengan cara menerapkan prinsip-prinsip arsitektur sunda dalam merancang. Langkah langkahnya adalah: membuat rumah panggung (dimana daerah “kolong” tetap bisa bermanfaat sebagai sirkulasi udara dan daerah resapan air), pemolaan massa secara organik, tidak mengubah bentuk kurva kontur, dan mentransformasikan “anyaman” kedalam bentuk kisi kisi kayu sebagai bukaan yang dapat memudahkan peradaaran  udara di dalam bangunan.

Sedangkan aplikasi untuk konsep “membumi” secara sosial yang akan berguna untuk membuat Community center ini berhasil yaitu dengan cara: menerapkan pola tatanan massa arsitektur sunda, dimana bentuk nya adalah radial dengan pusat ruang bersama (pada desain ini  ditransformasikan kedalam ruang pertunjukan bersama) dan penerapan Zonasi dimana tingkatannya adalah ruang bersama sebagai daerah publik, ruang pertunjukan tertutup sebagai daerah semi privat, dan bangunan-bangunan komunitas sebagai daerah privat.

Please follow and like us: