Architecture Studio Challenge: The Relevance of Heavy Assignment

In many years, architecture school has been facing reality which might confuse both lecturers and students such as, a great deal of school assignment-demand and the least yet low-paid job which future offers. This reality makes the architecture curriculum purposes bias since the hard work does not always contribute to the higher opportunity which students will get in the future. However, some of faculty members still believe that great deal of assignments are still needed in order to achieve particular standard of competency.  

Studio-based subjects, for a long time, are the greatest contributor of endless and heavy assignments. Like it or not, lecturers should be honest of the fact that not many students are well-motivated to finish studio-based subjects assignments in strictly limited of time. In our case, we face difficulties on finding the studio-learning formula since the one who achieve pleasing grade, let say, the successful student, is the one who is passionate of becoming architect while the others are easily losing motivation because of the exhaustion and the trauma of doing the work. Thus, this kind of success is not a result of a great studio formula; the well-motivated students will always be motivated while the low-motivated maintains low performance. Hence, the point of heavy assignments is questioned since they fail to motivate low-motivated students to make any improvement.

Another issue, the job which available in architecture field in recent days are no longer promising. The availability is limited so does the salary. As compensation, a big amount of alumni getting the job outside architecture field. 

As conclusion, the formula of studio program should be as to the reality in professional world. Perhaps, the studio formula needs to be unique each year in order to fit student’s potential. Or, lecturers need to map student’s strength first before planning assignment any further. It is not unlikely that a new studio formula will appear.

by: Shofia Islamia Ishar

Please follow and like us:

Balkrishna Doshi memenangkan Pritzker Prize di usianya yang ke-90 tahun

Balkrishna Doshi memenangkan Pritzker Prize di usianya yang ke-90 tahun

Awal Maret ini, dunia arsitektur dikejutkan dengan berita pemenang Pritzker Prize. Dia adalah Balkrishna Doshi, arsitek dari India. Berita ini merupakan fakta yang menarik mengingat ini pertama kalinya sepanjang sejarah Pritzker, pemenangnya berasal dari Asia Selatan yang sekaligus juga yang pertama bagi India.

Doshi membuktikan bahwa Age doesn’t matter! Walaupun sudah berusia lanjut yaitu 90 tahun, Doshi membuktikan bahwa ia layak memenangkan penghargaan paling tinggi di bidang arsitektur ini. Doshi juga menjadi pemenang Pritzker pertama yang tidak mempunyai proyek internasional (semua bangunan hasil desain Doshi berada di India)

Proyek – proyek Doshi sangat memerhatikan kontekstualitas terhadap tempat (tradisi orang India). Bagi Doshi, tradisi setempat harus tetap dipertahankan dan dieksplorasi sebagai ciri khas suatu karya arsitektur di mana pun karya tersebut berada. Walaupun demikian, proyek-proyek Doshi sangat relevan terhadap teknologi.

Berikut adalah desain-desain Balkrishna Doshi,

Institute of indology, 1962

kamala house, 1963

Premabhai hall, 1976

Kamala house, 1963

Centre for environmental planning & technology, 1966-2012

Indian institute of management, 1977-1992

(All pictures are taken from https://www.designboom.com/architecture/balkrishna-doshi-projects-pritzker-prize-round-up-03-12-2018/)

 

Dengan melihat karya-karya tersebut, saya langsung merasakan bahwa semua yang beliau katakan di video-videonya sangat tercermin dalam setiap desain yang dibuatnya. Berikut adalah salah satu video yang saya ambil dari Youtube dan ada beberapa pesan yang saya rasa cukup mengena yaitu,

“Young architect should understand technology..”

“Young architect should connect to the world”

Kesannya memang klise tapi itu pesan yang sangat pas di era manapun kita hidup. Bagi saya, pesan tersebut memberi saran betapa pentingnya being up-to-date sama jaman dan bidang yang kita geluti. Selain itu, kita sebagai arsitek muda juga harus bisa connect to the world yang berarti, harus bisa menembus “pergaulan” internasional supaya memiliki pengetahuan yang luas dan pola pikir yang terbuka.

Congratulation, Doshi..

 

Please follow and like us:

“hadiah” dari dua makluk “luar angkasa”

tim-okeh-banget

Masih nyambung ke post sebelumnya, kami bertiga adalah bagian dari Tim sayembara. Dan yang di sebelah kiri gue (pake baju putih-item) adalah Ami (nickname dari Fahmi) dan yang di sebelah kanan gue (pake baju abu-abu) adalah gembong (nama asli memang gembong) mereka adalah kenalan baru gue yang super aneh dan juga super hebat. Ami yang bisa apa saja.. dari mengoperasikan segala macem software design (3d’s max, maya, sketch up, teknik render pake atlantis, v-ray, maxwell) dan anehnya.. JAGO!!
Read More …

Please follow and like us:

sayembara rest area

Akhirnya matrix ada guna nya juga!! setelah berabad-abad unggah gambar.. kesampean juga nih gambar ada di blog gue. Ini hasil kerja tim untuk ikut sayembara IAI bertajuk “Desain Arsitektur Gerbang Tol Area Istirahat Jalan Tol Kanci-Pejagan”. Sebagai ketua tim adalah Baskoro Tedjo, dan mengekor di belakang nya adalah…. yak.. siapa itu??
Read More …

Please follow and like us:

Blend in into Nature : Sebuah Persuasi Untuk Membumi

concept-xingle4

Proyek ini merupakan proposal desain untuk tugas studio 1 yang TOR nya adalah demikian:

  1. Membangun community place di kawasan hijau Kota Bandung yang itu Babakan Silihwangi (yang sebentar lagi akan dibangun Mall oleh pemerintah)
  2. Tidak mengeksploitasi kawasan tersebut dengan mempertahankan sebanyak mungkin ke”hijau-annya”
  3. Tidak boleh menebang satu pun Pohon yang berada di dalam nya.

maka konsep saya adalah demikian:

  • “membumi” secara arsitektur dengan cara melebur kepada alam
  • “membumi” secara sosial dengan cara melebur dengan komunitas

Pengaplikasian konsep membumi secara arsitektural adalah dengan cara menerapkan prinsip-prinsip arsitektur sunda dalam merancang. Langkah langkahnya adalah: membuat rumah panggung (dimana daerah “kolong” tetap bisa bermanfaat sebagai sirkulasi udara dan daerah resapan air), pemolaan massa secara organik, tidak mengubah bentuk kurva kontur, dan mentransformasikan “anyaman” kedalam bentuk kisi kisi kayu sebagai bukaan yang dapat memudahkan peradaaran  udara di dalam bangunan.

Sedangkan aplikasi untuk konsep “membumi” secara sosial yang akan berguna untuk membuat Community center ini berhasil yaitu dengan cara: menerapkan pola tatanan massa arsitektur sunda, dimana bentuk nya adalah radial dengan pusat ruang bersama (pada desain ini  ditransformasikan kedalam ruang pertunjukan bersama) dan penerapan Zonasi dimana tingkatannya adalah ruang bersama sebagai daerah publik, ruang pertunjukan tertutup sebagai daerah semi privat, dan bangunan-bangunan komunitas sebagai daerah privat.

Please follow and like us: