“I can smell your Fear” : a Justice League Review

Bagi penggemar komik DC, pasti film ini sudah dinanti-nanti. Terutama untuk generasi yang lahir di tahun 70-80 an, film DC pasti punya arti tersendiri karena mereka tumbuh bersama karakter-karakter dalam film DC yang bisa dinikmati baik dalam wujud serial TV  maupun layar lebar. Coba kita urut, mulai dari ragam film Superman yang sudah mulai dibuat dari tahun 70an. Kemudian, Batman yang juga terus dibuat dari tahun 80 an sampai sekarang. Wonder Woman sendiri pada tahun 90an dibuat TV serinya yang sayapun masih ingat, serial ini ditayangkan oleh RCTI setiap hari selasa pukul 14.00 WIB.

Oke, kembali ke Justice League. Jadi film yang disutradarai oleh Zack Snyder ini bercerita tentang bangkitnya  Steppenwolf and his army of Parademons ke dunia setelah ribuan tahun “mati” akibat kalah pada perang melawan Olympian Gods, Amazons, Atlanteans, ancient humans, and Green Lanterns. Pada perang tersebut, Steppenwolf bermaksud untuk menaklukkan bumi dengan cara menyatukan kekuatan dari tiga sumber energi yang disebut motherboxes. Setelah kekalahan ini, motherboxes disembunyikan terpisah di beberapa lokasi di dunia yaitu; 1 disembunyikan di Negeri Amazon asalnya Diana Prince, 1 di Negeri Atlanteans asalnya Arthur Curry (Aquaman) dan satu lagi di Negeri manusia.

Kematian Superman di film sebelumnya (Batman Vs Superman : Dawn of Justice) menyebabkan ketiga Mother Boxes ini bereaksi kembali.  Reaksi tersebut menyebabkan  bangkitnya Steppenwolf dan pasukannya yang ingin kembali menyatukan motherboxes tersebut untuk menaklukkan dunia.

Untuk menyelamatkan bumi, Bruce Wayne a.k.a Batman berinisiasi mengumpulkan makhluk-makhluk yang memiliki kekuatan super untuk bergabung melawan Steppenwolf. Seperti pada taglinenya: “You can’t save the world alone”.

Makhluk super yang pertama bergabung adalah Diana Prince a.k.a Wonder Woman. Kenapa saya bilang makhluk? karena beberapa dari mereka bukan manusia. Bahkan satu-satunya manusia tulen cuma si Bruce Wayne yang nggak punya kekuatan apa-apa selain kekayaannya. Hehe. Kemudian Barry Allen a.k.a The Flash menyusul untuk gabung. Disusul oleh Victor Stone a.k.a Cyborg dan terakhir Arthur Curry a.k.a Aquaman.

Oke, saya mau membahas satu-persatu elemen dalam film ini berdasarkan perspektif saya sebagai penikmat film (bukan orang di bidang perfilman).

Sinematografi

Sinematografi Justice League ini khasnya film-film DC yang emang memanjakan visual dengan nuansa yang agak agak “dark” gitu seperti di film trilogi Batman. Dalam hal ini, Zack Snyder berhasil membuat Interpretasi visual yang indah namun serius. Nuansa warna, pengambilan gambar dan pemilihan background seolah membawa kita ke alam  lain yang “magical”, yang nggak akan kita jumpai dalam kehidupan nyata. Setting yang paling saya suka adalah Rumah Kent Family beserta landscapenya  yang dikelilingi ilalang. That screen was totally blew me away. Ditambah dia bermesra-mesraan pula sama Lois Lane di halaman rumah dengan suasana sore-sore menjelang maghrib gitu. Aww.. so sweet.

justice-league-superman-clark-kent-1034722-1280x0
Halaman rumah Clark Kent

Visual Effect

Bagian inilah yang membuat saya ketagihan dan nggak mau ketinggalan nonton film-film DC. Dan harus nonton di bioskop. Kalau via DVD player apalagi online streaming, ya.. gimana kerasa serunya?

Dalam urusan visual effect, somehow saya merasa film-film DC sejak Trilogi Batman seperti memasang standart untuk film science-fiction dan seperti selalu selangkah lebih maju dibanding film science fiction lainnya bahkan produksi Marvel sekalipun. Kalau sudah lihat film ini, sci-fi movies yang lain jadi berasa ecek-ecek. Itu juga yang saya rasakan ketika menonton Man of Steel yang diputar tidak lama setelah Ironman 3. Ironman 3 jadi terasa sangat amatir compare to Man of Steel.

Mulai dari efek tinju-tinjuannya terutama yang dilakukan oleh para dewa (Diana Prince, Kal el, dan Arthur Curry) memang berasa itu pukulan dari dimensi lain, interpretasi pukulan ke”dewa”annya tergambarkan dengan sangat baik. Efek jatuh, efek hancur, efek flooding, Sampai ke lambaian sayap Kal-el yang ternyata CGI memang benar-benar bikin bengong tercengang menontonnya. Saya rasa, visual effect adalah bagian terbaik dari film ini.

Cerita

Kalau dari segi cerita, berbanding terbalik dengan film-film Marvel yang selalu kocak dan santai, DC memang selalu menghadirkan suasana yang serius begitupun pada film Justice League ini. Namun, DC pun sejak film Wonder Woman terlihat berusaha untuk menghadirkan humor ke dalam film-filmnya. Kalau dari segi plot cerita, DC sangat berupaya untuk tidak keluar jauh dari pakem komiknya. Nah ini juga yang kurang sesuai dengan “Selera” pasar sehingga kalau penontonnya benar-benar awam dari kisah-kisah komik DC akan mudah merasa bosan.

Dialog

Saya orang yang paling suka memerhatikan dialog dialog pada film. Ada beberapa dialog yang kuat dan akan selalu bikin teringat terutama dialog-dialognya Barry Allen yang karakternya dibuat lucu.

  1. What’s your super power, again? Iam rich (saat Barry Allen ikut Bruce Wayne ke basecamp nya)
  2. They….. are really vanished. Umm, Well that’s rude (Saat Barry Allen baru sadar kalo dia ditinggalin temen-temennya)
  3. I hear you can talk to fish (Percakapan Bruce Wayne ke Arthur Curry)
  4. I can smell fear (ini juga yang bikin terngiang-ngiang karena Steppenwolf bakalan menghabisi siapapun yang merasa takut)

Acting

Casts nya tepat banget. Suka sekali sama Gal Gadot yang berhasil membawakan peran Diana Prince dengan karakter yang punya kecantikan klasik, tegas dan effortless. Wibawa seorang dewi jagoan, dan kesan wanita tangguh sangat meyakinkan dibawakan oleh Gadot. Jadi menurut saya, Gadot itu bukan sekedar aktris cantik yang dipasang jadi jagoan, tapi dia sendiri adalah jagoan tersebut. Akting Gal Gadot membuat saya berpikir bahwa aktris-aktris yang membawakan peran superheroes lain harus berguru sama dia.

Peran Barry Allen dibawakan oleh Ezra Miller membuat saya jatuh cinta sama kekonyolannya. Miller pas banget membawakan karakter teenagers yang innocent dan ngerasa nggak punya kekuatan apa-apa. Begitupun Jason Momoa yang berhasil menginterpretasikan karakter Arthur Curry yang angkuh, narsis, “serem” dan konyol.

Untuk peran Bruce Wayne, Sejujurnya saya susah move-on dari karakter Batman yang dibawakan Christian Bale. Namun dalam film ini, Ben Afleck sangat meyakinkan sebagai superhero yang mulai tua dan tak terlalu berdaya menghadapi kejahatan dunia. Afleck sangat mahir membawakan karakter yang desperate namun berusaha tetap optimis.

Moral Story

Terakhir, saya ingin menyampaikan Moral of the story yang saya dapat dari film ini. Seperti yang saya tulis pada judul yaitu “I can smell your fear” merupakan pesan yang sangat kuat untuk kita semua agar tidak mudah takut dalam menghadapi rintangan. Bahwasanya ketakutan kita bisa mudah tercium musuh dan ketakutan kita sendiri lah yang seringkali membuat kita kalah. Film ini menasehati kita untuk tidak takut menghadapi kekacauan sekalipun kekacauan tersebut terasa di luar kemampuan kita.

Sekian review saya tentang film Justice League, bagi yang belum menonton, segeralah menonton karena Justice League worth it banget untuk ditonton. And i give 5 outta 5.

 

Please follow and like us: