Movie Review : Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Kali ini saya mau review film yang juga banyak mendapatkan nominasi Oscar 2018 dan membawa pulang dua piala yaitu untuk kategori Actress in a leading role dan Actor in a supporting role
Awalnya saya ragu nonton film ini karena judulnya panjang amat ? dan baca sinopsisnya kayaknya suram. Tapi akhirnya saya putuskan untuk nonton karena mau lihat akting Frances McDormand yang mengalahkan Saoirse Ronan, Margot Robbie, Sally Hawkins dan Meryl Streep di kategori Actress in a leading role Academy Awards 2018.

Plot
Film ini berkisah tentang seorang ibu (Mildred Hayes diperankan oleh Frances McDormand) yang marah dan depresi pasca kematian putrinya yang meniggal karena diperkosa dan dibakar. Kemarahan Hayes makin menjadi karena setelah 7 bulan kasus kematian putrinya, belum juga tertangkap pelakunya.

Akhirnya suatu ketika Hayes punya ide untuk menyewa 3 billboard tua yang sudah 20 tahun tidak pernah lagi ada yang pakai. Ketiga billboard ini berjejer di perbatasan Kota Ebbing, Missouri. Lokasi billboard ini juga merupakan lokasi diperkosanya si anak. Pesan di billboard tersebut merupakan sindirian untuk kepolisian setempat dan khususnya untuk Kepala Polisinya (William Willoughby yang diperankan oleh Woody Harrelson). Pesan dalam billboard tersebut adalah:

Billboard 1 :

“RAPED WHILE DYING”

Billboard 2 :

“AND STILL NO ARREST?”

Billboard 3

“HOW COME CHIEF WILLOUGHBY?”

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Mildred Hayes bersama 3 billboard yang disewanya

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Pesan pada Billboard yang disewa Mildred Hayes

Inti dari pesan di Billboard tersebut adalah bahwa Mildred Hayes mengkritik keras kinerja kepolisian  setempat yang dinilai lamban dan tidak serius menyelidiki kasus yang menimpa anaknya. Dan benar saja, akibat billboard-billboard tersebut, kepolisian seperti “kebakaran jenggot” khususnya bagi Chief William Willoughby dan kaki tangannya Dixon, yang merupakan polisi junior di kepolisian tersebut.

Film ini membawa kritik terhadap beberapa isu yang menurut saya sangat cerdas:

Keseriusan suatu lembaga dalam dalam menjalankan tugasnya

Pada film ini diperlihatkan kondisi kantor kepolisian daerah yang isinya polisi-polisi malas dan tidak bergairah. Akibatnya, masyarakat kurang respect sama aparat kepolisian. Mereka diperlihatkan “berani” sama polisi terutama semenjak Mildred Hayes memasang pesan-pesan sindiran di Billboard.

Penyalah-gunaan wewenang atau kekuasaan yang dicerminkan oleh sikap “mentang-mentang” karena berkuasa maka boleh semena-mena kepada kaum lemah

Dixon, junior Chief Willoughby mencerminkan sikap semena-mena seorang polisi yang berkuasa. Suka menindas yang lemah dan yang dia nggak suka tanpa perlu alasan.

Jangan pernah main main sama emak. Film ini tuh sebenernya tentang The Power of Emak-Emak ?

Yes, bener banget. Jangan pernah main-main sama emak-emak atau hidup lo bakalan kacau. Mildred Hayes merupakan ibu yang sangat marah dan mampu melakukan apa saja untuk mengungkap kasus anaknya.

Jangankan polisi, penjahatnya aja kalo ketemu berani dia lawan

STOP MISSERABLING YOUR LIFE

Sekalipun depresi, Mildred Hayes tidak menunjukkan kedepresiannya tersebut dengan mengasihani dirinya berlarut-larut. Kalau di awal ketika baca sinopsisnya saya ragu mau nonton karena lagi nggak selera nonton film-film sedih, ternyata saya salah. Mildred Hayes cerminan seseorang yang tangguh. Depresinya ditunjukkan dengan aksi yang tidak pernah lelah untuk menuntut keadilan. Keliatan banget kalau dia strong woman. Nggak pernah sekalipun dia menangis di film ini sekalipun dengan bahasa tubuhnya, terlihat kalau dia depresi

AKTING

3 pemain film ini mendapatkan nominasi Oscar, bahkan 2 aktor mendapat nominasi yang sama di satu kategori yaitu aktor pendukung terbaik.

Untuk kategori Actress in a leading role, film ini membawa pulang Oscar.

Akting Frances di sini memang luar biasa. Dia berhasil membawakan karakter ibu yang sedih dan marah tanpa harus menangis tersedu-sedu dan marah ngamuk-ngamuk. Tapi sebagai penonton, saya sangat yakin kalau dia sedang sangat marah dan depresi. Ini pasti akting yang sulit.

Dua peran polisi yaitu Willoughby dan Dixon, mendapatkan tempat di kategori  Actor in a supporting role. Dan Oscar akhirnya dibawa pulang oleh Dixon yang diperankan oleh Sam Rockwell ???

Berikut adalah gambar cuplikan scene di film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Midred bersama Chief Willoughby

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Mildred bersama Dixon

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Wajah depresinya Mildred Hayes

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Dixon si polisi yang semena-mena

Membawa pulang dua Oscar
Sekalipun tidak menang di dua kategori yaitu Best Picture dan Best Sound Editing, namun film ini berhasil membawa pulang dua oscar. Alhamdulillah lah ya..

Selamat buat Frances McDorman dan Sam Rockwell. Your work was awesome.

Hasil gambar untuk frances mcdormand oscar

Hasil gambar untuk sam rockwell oscar

Please follow and like us:

I, Tonya Movie Review

I, Tonya Movie Review

Saya mau mereview lagi salah satu film terbaik di tahun 2017. Film ini berjudul I, Tonya. Film ini merupakan film yang berdasarkan kisah nyata yaitu tentang atlet figure skating Amerika yang kontroversial, Tonya Harding.

Di tahun 90an, nama Tonya Harding menjadi sangat terkenal bukan hanya karena prestasi yang ditorehnya namun karena skandal penyerangan terhadap rivalnya di cabang olah raga tersebut yaitu Nancy Kerrigan. Akibat skandal tersebut, Tonya Harding didepak dari asosiasi figure skating di Amerika dan tidak diperbolehkan lagi mengikuti pertandingan apapun. Dan semenjak itu, nama Tonya Harding jadi “bulan-bulanan”/ bahan makian/ joke / bulian di dunia sport amerika. Tragis ya…

Namun walaupun kisahnya tragis, justru kisah Tonya Harding ini sangat menarik untuk diangkat. Karena bagaimanapun masyarakat membencinya, Tonya Harding adalah atlet perempuan Amerika pertama yang melakukan Triple Axel di Olimpiade (lompatan paling sulit di cabang olah raga tersebut). Tonya jelas menoreh sejarah untuk Amerika dan hal tersebut tidak bisa dipungkiri seburuk apapun citra dirinya di mata dunia.

Film ini memang sangat kontroversial karena dinilai sebagai aksi “bela diri” nya Tonya Harding atas tragedi tersebut.

Namun kalau dari perspektif saya sih, film ini idenya keren banget, terserah lah ya dibilang kisah yang nggak valid karena subjektifitasnya tinggi. Tapi ya selama ini juga penilaian terhadap Tonya Harding banyak yang subyektif. Berita juga simpang siur. Jadi saya rasa film ini merupakan momentnya Tonya Harding. Alam semesta sedang berpihak kepadanya. Ya.. gantian dong, sekarang kita membicarakan fakta dari perspektif pelakunya. Biar berita yang selama ini beredar menjadi imbang.

Plot

Film ini dimulai dengan adegan wawancara terhadap Tonya Harding masa sekarang (usia 40an) dan semua orang yang terlibat dengan kisah hidupnya yaitu, ibu, pelatih, reporter media sport, mantan suaminya dan bodygueardnya. Baik Tonya dan orang-orang tersebut diminta untuk menceritakan perjalanan karir Tonya Harding dari perspektif masing-masing.

Hasil gambar untuk I tonya

Tonya Harding yang diperankan oleh Margot Robbie

Tonya Harding memulai karirnya sejak usia dini yaitu 3 tahun dan memenangkan perlombaan Skate untuk pertama kalinya di usia 4 tahun mengalahkan lawan-lawan yang usianya lebih tua darinya. Tonya awalnya ditolak oleh pelatihnya karena terlalu muda. Namun karena skillnya yang udah jago banget di usia tersebut, Tonya akhirnya diterima jadi murid Diane Rawlinson.

Tonya dididik oleh ibu yang keras dan kasar. Ibunya hanya seorang pelayan restoran yang menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk Tonya latihan skate. Maksud si ibu ini bagus sih, tapi caranya abusive. Ibunya ini juga menjahit sendiri semua kostum lomba Tonya karena tidak punya uang untuk membeli apalagi membayar desainer. Namun hubungan mereka tidak berjalan baik. Ibunya digambarkan tidak pernah mengapresiasi segala prestasi Tonya dan kalau Tonya kalah tanding, ibunya akan marah dan menghujaninya dengan caci maki.

Ibu Tonya Harding, Lavona Golden diperankan oleh Allison Janey yang berhasil membawa pulang Oscar atas peran ini. Kalo saya rasa sih ibunya Tonya ini sebenarnya orangnya realistis. Mau anaknya punya nasib lebih baik, mau anaknya juara, tapi karena si ibu nggak pernah punya cara yang lembut atau paling tidak wajar, hubungan antara anak dan ibu ini nggak pernah berjalan mulus. Tonya memutuskan keluar dari rumah dan berpisah dengan ibunya sebelum dia lulus SMA. Sejak itu, Tonya tidak pernah sekolah lagi dan memutuskan fokus di Figure Skating.

Hasil gambar untuk lavona i tonya

Tonya Harding dan Lavona Golden in real life

Hasil gambar untuk lavona i tonya

Tonya Harding kecil bersama ibunya, Lavona Golden di film I, Tonya

Heart-breaking story

Cerita tentang Tonya Harding ini penuh dengan kisah yang heart breaking. Mulai dari ibu yang abusive, keluarga broken home, miskin, suami yang juga abusive dan karir yang hancur.

Keputusannya menikahi sang pacar yang suka mukulin dia menjadi awal petaka untuk karir Tonya.

Pernikahan dengan Jeff Gillooly

Setelah memutuskan pisah dengan ibunya, Tonya tinggal bersama pacarnya yaitu Jeff Gillooly. Karakter Jeff ini agak-agak psyco gitu. Suka mukul trus nanti minta maaf dan sayang lagi. Si Tonya ini kok ya apes terus. Udah ibunya suka mukul, pacarnya juga gitu. Tapi sudah tau begitu, Tonya tetep balik-balik lagi ke pelukannya Jeff bahkan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Mungkin karena si Tonya ini kurang figur ayah. Ketika dia kecil, ayahnya pergi karena perceraian dengan ibunya.

Hasil gambar untuk lavona i tonya

Tonya dan Jeff di film I, Tonya

Hasil gambar untuk tonya harding wedding with jeff gillooly

Tonya dan Jeff in real life

Triple Axel

Sejak menikah, karir Tonya terus melonjak. Tonya yang nggak punya pilihan selain menjadi yang terbaik di bidangnya, totally fokus mengejar impiannya dengan latihan selama 8 jam setiap hari. Namun,  karakter Tonya dinilai kurang cocok untuk merepresentasikan cabang olah raga figure skating yang punya citra berkelas, anggun, klasik, manner, dan lain-lain yang bukan Tonya banget. Akibatnya, Tonya jarang mendapatkan score yang layak di setiap perlombaan yg diikutinya bukan dikarenakan kurang skillful tapi ada penilaian lain yang membuatnya tidak unggul yaitu presentasi. Presentasi di sini maksudnya adalah tampilan (baju, riasan, dan personalitas yang terlihat ketika skating).

Namun semua itu tidak menyurutkan semangatnya. Tonya terbukti mahir di bidang ini dengan pencapaiannya.

“After climbing the ranks in the U.S. Figure Skating Championships between 1986 and 1989, Harding won the 1989 Skate America competition. She was the 1991 and 1994 U.S. champion before being stripped of her 1994 title, and 1991 World silver medalist.[4] In 1991, she earned distinction as being the first American woman to successfully land a triple axel in competition, and only the second woman to ever do so in history (behind Midori Ito). She is also a two-time Olympian and a two-time Skate America Champion” (sumber wikipedia)

Pada tahun 1991 Tonya menoreh sejarah dengan melakukan lompatan triple axel di kompetisi figure skating.

Hasil gambar untuk I tonya

Hasil gambar untuk I tonya

Hasil gambar untuk Tonya Harding

momen saat berhasil landing triple axel

Selain itu, Tonya juga setelah musim gugur tahun 1991, Tonya tercatat menoreh sejarah sebagai wanita pertama:

  • The first woman to complete a triple axel in the short program;
  • The first woman to successfully execute two triple axels in a single competition;
  • The first ever to complete a triple axel combination with the double toe loop.

Tragedy penyerangan Nancy Kerrigan

Karir Tonya Harding hancur ketika dia dituduh terlibat penyerangan atas Nancy Kerrigan. Nancy Kerrigan adalah rivalnya yang sama sama mewakili US untuk olimpiade 1994 di Norwegia. Sekalipun tidak terbukti terlibat dan mendalangi penyerangan tersebut, Tonya Harding tetap dinyatakan bersalah karena dianggap mengetahui rencana penyerangan tersebut namun tidak melapor.

Ironisnya, karena kejadian itu, Tonya Harding dibanned atau tidak diperbohkan mengikuti kompetisi Figure Skating apapun dan dikeluarkan dari Asosiasi Figure Skating USA.

Hm… tragis bener ya..

Tapi sekali lagi, bagi saya film ini merupakan moment buat Tonya Harding untuk meluruskan persepsi orang terhadap dirinya. Kalau saya pribadi, i stand for her because she represents poor people who are willing to reach their dreams.

Bagi saya, perjuangan Tonya Harding cukup inspiratif dalam hal dia bukan anak siapa – siapa dan bukan dari keluarga kaya namun bisa berprestasi di bidang olah raga yang dikenal mahal dan berkelas.

Kesan terhadap film I, Tonya

Yang jelas, habis nonton film ini rasanya langsung kepo sama kehidupan karirnya Tonya Harding. Jadi browsing-browsing dan mulai membandingkan antara pemeran di kisah nyata dan di film. Emang pada mirip-mirip banget sih, pinter emang si Craig Gillespie. Terutama yang jadi Jeff dan Shawn. Sumpah mirip banget

Hasil gambar untuk jeff i tonya

kiri Jeff di film, kanan Jeff asli

Hasil gambar untuk jeff gillooly

ini Jeff di film diperankan oleh Sebastian Stan

Hasil gambar untuk jeff gillooly

Jeff Asli

Hasil gambar untuk shawn i tonya

Shawn Eckardt di film vs real life

Mirip kaaaan?

Kalau Margot Robbie sih emang kurang mirip sama Tonya Harding tapi aktingnya duh bagus banget…. apalagi saat – saat terakhir film. Ini nih yang sedih banget. Saat mau tampil di Olimpiade 1994 yang akhirnya jadi olimpiade terakhir dia

Hasil gambar untuk i tonya margot robbie

disini Margot Robbie berhasil banget ngebawain depresi-nya jadi atlet yang sedang dilanda kasus tapi harus tetap tanding dan tersenyum.

Tapi sayangnya di beberapa part, Margot Robbie masih kerasa kayak Harley Quinn di Suicide Squad. Mungkin agak susah kali ya lepas dari karakter yang kuat banget macam Harley Quinn.

But Overall, film ini menurut saya bagus. Menyentuh dan Margot Robbie keren abis…….

 

 

 

Please follow and like us:

Lady Bird Review

Lady Bird Movie Review

Film besutan Greta Gerwig ini mendapatkan 4 nominasi di Academy Awards 2018. Untuk film yang mengangkat tema remaja sekolahan, bagi saya pencapaian tersebut sangat luar biasa. Lady Bird mendapatkan nominasi untuk Best Performance by an Actress in a Leading Role, Best Performance by an Actress in a Supporting Role, Best Achievement in Directing dan Best Original Screenplay. This movie was so close to Oscar! tapi  yah namanya belum rejeki. Jadi cukup puas jadi Nominee aja.

Bagi saya film ini sangat bagus karena mengangkat tema remaja dengan cara yang berbeda. Kalau biasanya tema-tema remaja yang diangkat ke film adalah cerita-cerita romantis yang topiknya “dangkal”, Lady Bird  mengangkat topik tentang permasalahan khas remaja ke level yang lebih esensial. It got me thinking that i was also in that situation, everybody was also in that situation where people at that age felt the urgency to determine what kind of future they wanted to pursue. And to make it come true, kita butuh persetujuan “universe” (baca: orang tua) hehe. Ternyata bukan di Indonesia aja ya permasalahan gitu muncul, di Amerika juga.

Plot

Oke kita mulai ceritanya ya.. Lady Bird atau Christine (diperankan oleh Saoirse Ronan), adalah anak sekolah tingkat akhir yang berencana untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi (kalau di Indonesia setara sama anak kelas 12). Christine berasal dari Sacramento, sebuah kota kecil di California. Secara administratif, Sacramento ini adalah Capital City-nya California namun punya citra yang kurang “modern” di mata penduduk US. Sacramento sekalipun ibukota namun cost livingnya rendah dibanding kota-kota lain di California. Banyak yang bilang kota ini boring, terlalu tradisional, dan seperti ngga ada yang menarik bisa dilakukan di sana. Christine hates the fact that she is from Sacramento. Mungkin karena di pikirannya, dia takut dinilai seperti ini. (People from Sacramento areactually country bumpkins)

Country Music

Sebenernya bukan benci juga, tapi dia menginginkan kota yang dia pikir lebih relevan untuk masa depan dan personalitasnya yang menurut dia east-coast banget.

Christine mendambakan bisa kuliah di kampus-kampus east-coast namun “universe” seolah menentang. Pertama, ibunya yang berpikir bahwa mereka tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan Christine di sana. Kedua, lingkungannya (baik lingkungan sekolah maupun keluarganya) menganggap Christine tidak cukup pintar untuk bisa diterima di sekolah-sekolah impiannya.

Film ini menceritakan bagaimana anak dari keluarga yang kurang mampu dan dengan intelektualitas rata-rata bisa mewujudkan impiannya untuk sekolah jauh dari orang tua dan di kota yang dianggap keren (ada yang pernah ngalamin situasi seperti ini? Kalau saya sih pernah banget). Selain permasalahan tersebut, dia juga masih harus berurusan dengan permasalahan-permasalahn khas remaja seperti pubertas, persahabatan, sekolah, eks-kul, pacaran, jati diri, dan juga hubungan dengan orang tua.

What’s the meaning of Lady Bird?

Nah, kenapa atau apa sih Lady Bird itu? Maksudnya apa kok judul film ini “Lady Bird”?

Jadi Lady Bird itu nama yang Christine kasih untuk dirinya sendiri. Karakter Christine digambarkan sebagai remaja yang deterministik, berusaha menentang apa yang orang bilang harus dia terima sebagai nasibnya termasuk namanya sendiri. Dia nggak mau terima begitu aja nama yang dikasih oleh orang tuanya, makanya dia tambahin “Lady Bird” di akhir namanya ( Christine “Lady Bird”). Menurutnya, nama itu adalah “hadiah” untuk dirinya sendiri. Agak ajaib emang pemikirannya, namun menurut saya ini suatu keunikan yang dimiliki Christine karena dia mencintai dirinya. Jarang lho, anak remaja yang sebegitu sayang sama diri sendiri. Biasanya malah pengen jadi orang lain/krisis identitas. Christine tipe anak yang sangat tau apa yang dia mau dan apa yang ingin dituju.

Humor : Lady bird movie is fulfilled with humor

Buat kamu yang lagi pengen nonton film bagus dan pengen banyak ketawa, Lady Bird pilihan yang cocok. Menurut saya film ini banyak mengandung humor mulai dari yang cerdas sampai sarkastik. Nuansa humor sudah terasa di beberapa menit film ini mulai ketika Christine dan ibunya berdebat di dalam mobil. Dalam adegan tersebut Christine yang nggak tahan dengan omelan ibunya, secara spontan melempar dirinya keluar dari mobil yang sedang berjalan. Adegan ini bisa dilihat di trailernya 👇🏻

Hasil dari adegan itu, sepanjang film tangan Christine dibalut gips karena patah. Image result for lady bird awards

Karakter Christine ini digambarkan sebagai karakter yang spontan dan nggak pikir panjang ala anak remaja. Salah satu permasalahan besar yang harus dia hadapi adalah kenyataan bahwa dia tidak pintar terutama di bidang matematika. Kondisi ini tuh bukti bahwa susah banget jadi anak dengan otak ala kadarnya. Tenang Christine, been there done that. Yes sama kok, saya juga dulu begitu..sering menyesali kenapa nggak terlahir pintar :))

Ada adegan dimana dia mendapatkan kesempatan emas (nggak sengaja melihat setumpuk berkas nilai matematika dan diam-diam mengambil dan membuangnya agar mendapat kesempatan memperoleh nilai yang lebih baik). Karena berkas nilai hilang, guru Matematikanya jadi mendata ulang nilai muridnya dengan dipanggil satu-satu dan ditanya berapa nilai mereka dengan mengandalkan kejujuran. Ketebak kan ini gimana endingnya dari situasi ini? Jelas saja Christine ngaku nilainya lebih besar dari yang tertulis di berkas asli yg sudah hilang.

Saya jadi mikir sih, kenapa dulu waktu SMA nggak “secerdas” si Lady Bird ini.. siapa tau kan nilai di Raport jadi berubah :))

Ada juga adegan di mana Christine nekad nyuri majalah di supermarket karena nggak dibeliin sama ibunya padahal harganya sangat murah

Hasil gambar untuk lady bird movie scene

(ini dia ekspresinya)

Love-hate relationship with her mother

Bagian yang ini, sepertinya semua remaja cewek bisa ngalamin dimana rasanya emak kita itu baweeeeel banget tapi kita juga sayaaaang banget. Christine dan ibunya punya karakter yang sama-sama keras. Jadi mereka tiap hari berantem.

Si ibu punya perangai yang keras bukan karena benci sama anaknya namun karena terlalu sayang. Christine disekolahkan di sekolah swasta katolik yang biayanya mahal sementara ibunya ini kerja sendirian. Jadi wajar sih si ibu ini jadi sering sensi kalo anaknya bertingkah. Karena ibunya harus kerja double shift untuk bisa membiayai Christine sekolah di sekolah yg dianggap ibunya paling aman dan terbaik untuk anaknya. Ah, so sweet….

Walaupun sering berantem, si ibu selalu mendukung kegiatan anaknya ini. Seperti ketika anaknya mau kencan, ibunya bantuin Christine cari gaun di toko pakaian bekas dan memermaknya sendiri di rumah.

Hasil gambar untuk lady bird movie scene

Acting

Saya rasa, akting aktor dan aktrisnya di film ini wonderful banget. Nggak heran baik Saoirse Ronan (Christine) dan Laurie Metcalf (ibunya) dapet nominasi Oscar. Film ini sangat menghormati kemampuan akting Ronan yang nggak pernah mengecewakan. Laurie Metcalf di sini “dapet” banget bawain karakter seorang ibu penyayang tapi ngomel-an. Chemistry ibu-anak di film ini terasa meyakinkan dan natural. Kehadiran  Lucas Hedges  dan  Timothée Chalamet juga mencuri perhatian. Lucas Hedges cocok banget meranin remaja country side yang relijius. Emang tampangnya tuh, gimana ya…. semacam country banget gitu. Oya, sekalipun hanya mendapat peran kecil namun 2 film di mana Lucas terlibat, masuk semua jadi nominasi Oscar (Lady Bird dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri).

Moral of the story

Kesan yang saya dapat dari film ini adalah, jadi bikin throwback ke masa-masa mau pilih kuliah. Bukan tentang sayanya sih, tapi jadi teringat sama teman-teman yang pada waktu itu struggle untuk bisa meraih impiannya. Ada yang di sekolah pintar namun kurang beruntung untuk bisa kuliah (akhirnya malah nggak kuliah), ada yang sudah keterima SPMB (Duh ketauan banget umurnya) di kota lain namun nggak jadi berangkat karena orang tuanya nggak punya biaya untuk ngongkosin ke luar kota. Ada juga teman yang gila-gilaan berusaha masuk ke salah satu kampus swasta di Bandung sampai 4 kali tes. Banyak sekali cerita yang akhirnya teringat dan membuat makin bersyukur. Karena banyak teman kita yang tidak se beruntung kita yang pada akhirnya bisa masuk ke kampus impian di kota impian.

Pintar dan kaya bukan “segalanya”. Yg penting gigih kayak Lady Bird. InsyaAllah tujuan bisa tercapai.

😉

Please follow and like us:

Film yang tidak disangka bagus

Memang akan selalu ada waktu dimana kamu punya waktu luang namun tidak ada film bagus di bioskop. Tidak ada box office movies pun tdk ada film-film yang bereputasi oscar. Tapi pada waktu tersebut, kamu udah ngebet banget duduk di bioskop sambil ngunyah popcorn dan menghilang sejenak dari kehidupan nyata.

Pada waktu seperti demikian, saya biasanya random aja pilih film yang ada di list bioskop.  Biasanya saya pilih berdasarkan sinopsis / aktornya terkenal atau enggak / cuma bermodal feeling aja dari lihat posternya (liat trailernya juga enggak). Dan nothing to loose aja, mau bagus atau jelek, ya dicoba dinikmati aja. Ternyata memang ada beberapa film yang zonk banget ceritanya. Sebaliknya ada yg nggak disangka-sangka bagus seperti yang tertulis di bawah ini.

Spy (2015)

Nonton ini semata-mata hanya karena ada Jude Law dan nggak ada film lain yang bisa dipilih. Eh ternyata film ini sangat menghibur. Apalagi dalam kondisi kejiwaan yang sangat kusut dan bumi seolah “meludahi” kita bertubi-tubi. Nonton film ini dari baru mulai sampai selesai, nggak akan bikin berhenti tertawa. Memang “bungkus”nya adalah film action yang menceritakan pekerjaan para Spy. Namun, kalau menurut saya, film ini full comedy.

Film ini punya cita rasa humor yang alami, ringan dan universal. Siapapun yang menontonnya akan sangat mudah terhibur. Gaya dialognya juga natural banget dengan celetukan-celetukan spontan yang sejadi-jadinya makin lucu ketika dibawakan oleh Melissa McCarthy sebagai Susan Cooper. Sekalipun banyak mengandung unsur-unsur  Slapstick, namun sutradara Paul Feig mampu menakarnya dalam komposisi yang pas sehingga terkesan tidak berlebihan dan masih ampuh memancing tawa berat para penonton. Jadi nonton ini berasa nonton film-film Warkop DKI di tahun 80-90an. Walaupun banyak adegan jatuh-jatuh, tertimpa barang, kepleset, namun tetap saja menggelikan.

Hitman’s bodyguard

Kalau film ini saya juga awalnya nggak pernah dengar gaungnya. Ketika cek di IMDB, ratingnya juga cuma 7. Kebetulan lewat XXI dan di salah satu poster filmnya ada Ryan Reynolds! Awww… my favorite actor. Nggak ragu lagi, langsung beli tiket saat itu juga. Karena ini bukan film box office, jadi kemungkinan cuma diputar 1 minggu di bioskop bahkan bisa kurang dari itu jika penontonnya sedikit. Jadi, karena ini idola saya yang main, saya langsung bisa merasakan kalau ini  bakalan worth to watch!

Sama seperti Spy, film ini merupakan film beraliran comedy action. Film ini menceritakan tentang Michael Bryce (diperankan oleh Ryan Reynolds) seorang mantan detektif CIA yang dipecat dan beralih profesi menjadi Bodyguard para penjahat kelas kakap. Dia sangat menikmati profesi barunya sampai suatu ketika, ia harus menjadi bodyguard untuk musuh bubuyutannya yang seringkali ingin membunuhnya. Musuh bubuyutannya ini adalah Darius Kinkaid yang diperankan oleh Samuel L Jackson. 

Chemistry antara Reynold dan Jackson di depan layar terasa sangat intense. They’re just naturally being sarcasm to each other, seenaknya mengumpati dan menertawakan satu sama lain, ingin membunuh satu sama lain namun disatu sisi, merekapun tidak tahan untuk melindungi satu sama lain. Ya, film ini mengeksplorasi love-hate relationship antara sesama penjahat yang saling membenci namun dalam suatu kondisi yang tidak terelakkan, mereka harus berkompromi untuk menjadi satu tim.

Dialog-dialog dalam film ini kasar, namun baik Reynolds dan Jackson terasa ringan bangeeet mengeluarkan kata-kata tesebut. Memang saya rasa Reynolds ini natural banget sarkastik dan rude-nya. Itulah yang saya suka dari dia dengan gaya-gaya selengeannya. Begitupun Jackson, dia di sini sukses berat menampilkan penjahat era lama yang skill-nya penuh kespontanan (tanpa perhitungan, tanpa rencana, tanpa teknologi, langsung hajar aja).

Darius Kinkaid: You know, when life gives you shit, you make Kool-Aid.

Michael Bryce: That’s not really how that expression works.

Darius Kinkaid: That’s the beauty of that motherfucker. Life.

Michael Bryce: Yeah, well… life, I mean, life doesn’t usually give you shit and then turn into a beverage.

Ini bagian dialog yang sangat saya suka 

Yang lebih surprising lagi, ada Salma Hayek yang turut hadir sebagai salah satu karakter yang paling mengocok perut. Perempuan secantik itu bisa melucu sampai nggak kesisa lagi sisi girly-nya. Aktingnya “lepas” banget dalam membawakan peran sebagai tahanan perempuan yang juga seorang istri penjahat. Hayek  mampu mebawakan karakter yang bersifat paradoxical yaitu bengis tapi romantis dan rude namun humoris.

The Accountant

Film ini agak beda dengan ke dua film yang saya bahas sebelumnya, Film ini serius dengan genre thriller. Nonton ini juga karena yg main terkenal, yaitu Ben Affleck dan Anna Kendrik sekalipun eksistensi film ini sendiri, di bioskop-bioskop Tanah Air tidak terlalu populer.

Ternyata bagus namun memang butuh konsentrasi saat menontonnya karena alurnya banyak di-twist. Menceritakan tentang seorang Akuntan jenius yang menderita autisme. Namun bukan hanya seorang akuntan biasa, Christian Wolf yang diperankan oleh Ben Affleck, juga (diam-diam) seorang ahli tembak.

Film ini sarat pesan moral dalam mengarungi hidup, on bitter side, off course.  Mengajarkan kita cara memaknai arti keluarga dengan kehilangannya dan memberi pesan untuk melepas persepsi atas batasan diri dalam meraih sesuatu. Intinya kita tidak boleh percaya kalau kita ini lemah. Wow ya, what a motivation!

Film ini juga mengajarkan untuk tidak meremehkan orang lain, karena orang yang biasa kamu remehkan itu seringkali jauh lebih baik dan hebat dibanding kamu.

Sekian review dari saya. Kalau punya waktu luang dan bingung mau ngapain, jangan lupa tonton film-film ini.

See ya!

Please follow and like us: