A Stubborn Lover

I am gonna make a little mess in me

Like I am gonna feel the pain inside me

Like I am gonna sit still under the tree

Like I am gonna drink a sip of a bitter tea

And I am gonna capture you in my brain

feeling your gaze, trying to understand

speaking my love without any bargain

relish your abstain, again and again

And i know,

from the first time your eyes flashed mine, i was on fire

from the first time my heart told me so, i wasn’t a liar

from the first time i felt this ache, i felt admire

But then I wish,

you don’t mind,

Cause my heart, is already blind

can only capture you from behind

imagine our scene, and then rewind

Bandar Lampung, December 18, 2017

Please follow and like us:

What a beautiful Moment..

(Disclaimer: Tulisan ini saya buat pada tahun 2007 di blog pertama di blogspot yang saya sudah tidak tahu lagi passwordnya. Tulisan ini ceritanya lagi mengenang masa-masa indah kuliah di Malang. Namun ditulis setelah saya lulus dan sudah bekerja)

Waktu jaman-jamannya kerja kelompok untuk ngerjain tugas-tugas kuliah, secara alami terbentuklah sekelompok orang aneh yang nggak pernah bisa serius barang satu jam ajah.. sialnya lagi-lagi kami sekelompok hampir di tiap mata kuliah dan hampir di tiap semester! (bener-bener kutukan), saking ga ada lagi yang mau sekelompok sama kami ini.. hiks.

Tiap kali pulang kuliah dan berencana untuk kerja kelompok di tempat kos salah satu anggota kelompok (pokoknya yang kamarnya paling gede) nomor satu yang dicari pasti makanan, nomor 2, filem. Alhasil, sampe tempat tujuan, kami makan dan nonton VCD sewaan, abis itu semua cari-cari posisi untuk yah, apalagi kalo bukan molor! yah, memang begitu adanya.. tapi herannya prestasi kerjaan kami cukup memuaskan kok, walopun jadinya bener-bener mepetttttt banget sama deadline.

Kalo inget masa-masa kerja kelompok di kampus rasanya indah banget..

Saking solidnya nih kelompok belajar, kami sampe janjian foto bareng di studio dengan dresscode warna biru. Tapi, adaaaa aja kendala nya! pertama, waktu mau foto ceritanya janjian di himpunan jam 10, gue dan Brina (yang kebetulan satu kos) udah dateng dengan dandanan cantik (bener-bener niat foto dah) dateng ke kampus. Dan sesampainya di sana.. ga da orang!

Lama-lama terkumpul sedikit demi sedikit, Rahma, Nophe, Uut, Imel, Irma, dan Tita, dateng.. cewek nya doang nih yang baru dateng kecuali Nikie! nih anak emang susah banget dicari. Sedangkan kaum pria nya, humf… sama sekali blom ada yang dateng!

Ada yang masih tidur lah, ada yang bingung nyari baju warna biru, ada yang tidak terdeteksi keberadaanya.. pokoknya adaaaa ajah! sampe akhirnya cape nunggu, temen-temen cewek pada main ke kos gw untuk solat dzuhur.

Abis Dzuhur balik lagi ke kampus untuk tetep mengukuhkan niat pengen foto bareng, sampe akhirnya terkumpullah seluruh anggota “Cincong Community”.

Namun masalah belum usai sampai di sini.. Panitia foto bersama salah menghitung jumlah orang dan jumlah motor yang tersedia. Motor kurang satu lagi! alhasil temen-temen repot nyari pinjaman motor, namun akhirnya berhasil minjem salah satu motor yang diparkir di himpunan (ntah motor siapa)..

Gw kira masalah sudah usai nih ye.. ternyata cobaan untuk foto bersama adaaa ajah, helm kurang! waktu itu kayaknya tinggal Nikie yang blom pake helm.. agak lupa nih ceritanya, kayaknya waktu itu minjem helm yang lagi nagkring di himpunan tanpa ijin.

Fuh, akhirnya motor lengkap, personil lengkap, helm pun juga lengkap. Pergilah kami kayak konvoi (6 motor jalan beriringan) mencari studio foto. Dapet di sekitar jalan Kawi sebuah studio foto, maka berhentilah kami. Diutus Shofi dan Rahma nyamperin tuh studio untuk nanya harga, ternyata (bukannya mahal banget) tapi pada saat itu harga yang ditawarkan studio tdk sesuai dengan kemampuan finansial kami. Foto untuk 11 orang (waktu itu ber 11 sih) harganya sekitar 60-100.000 rupiah. Shofi dan Rahma liat-liatan dengan wajah agak aneh dan sepakat melirik ke arah sebrang jalan tempat teman-teman pada markirin motor.

Dilihat dari kejauhan, kok teman-temanku pada melas mukanya, tampang nggak punya duit udah mendominasi tampang mereka..yah maklumlah, tugas-tugas kuliah di sekolah Arsitektur sungguh menguras kantong kami, dari urusan beli kertas, ngeplot, benerin rapido, bikin maket, ngeprin tugas kelompok, tugas pribadi, ampun.. pokoknya pengeluaran mmg banyak benget! Akhirnya dengan tampang tak berdosa rahma mengakhiri proses penawaran keorang studio, dan shofi dengan sigap memberi kode ke sebrang jalan (tempat temen-temen parkir) dengan melambaikan tangan dan menggerakkan bibir berbentuk (GAK JADI, MAHAL), temen-temen dengan muka lemas menghidupkan kembali mesin motor dan kami siap mencari tempat lain.

Akhirnya dapet! studio yang lokasinya agak jauh dari wilayah kampus di daerah blimbing (deket rumah rahma). Namanya Else studio, tarifnya murah bo! foto ber 11 harganya 22.000 (urgghhh) dengan satu kali jepreeet… (itupun udah ditawar) dan outdoor, karena studio indoor ga ada yang muat menampung jumlah kami. yah, gapapa.. sing penting FOTO!! WIS NGELUUUUU…


Nah.. jadi deh foto kayak gini.. hm, benernya cuma satu kali jeprett, cuma pas waktu itu shofi bawa camera, dan temen-temen mulai merayu si photografer untuk jepretin lagi pake kamera Shofi.

dari kiri depan: Uut, Shofi, Nophe, Rahma, Nikie,
dari kiri belakang: Tita, Imel, Ipul, Dwi, Nanjar, Irma, Gembil, Brina
(dress code biru? hm, kayaknya nggak kesampe’an tuh)

Foto itu bener-bener foto kenangan yang paling indah deh, karena sekarang kami telah satu tahun kehilangan salah satu personil kami yaitu almarhumah uut.. kadang nggak percaya dia telah tiada. Tapi, yang namanya umur.. gada yang bisa nebak kan? we miss you Uut..

yang ini tambahan dari mas fotografer
dari depan: Nophe, Rahma
baris ke dua: Uut (alm), Irma, Imel, Brina
baris ke tiga: Shofi, Nikie dan Tita

Kalo yang ini waktu masih nyari motor dan helm (posisi di depan himpunan lama)
di foto ini alm uut di tengah, dia jadi vocal point di foto ini..

(Membaca kembali tulisan ini membuat hati miris. Di tulisan tersebut, ada seorang dari kami yang sudah “berpulang” ke Rahmatullah ketika kami sedang di tingkat akhir kuliah. Dan pada awal tahun 2018, Imel, satu lagi teman kami di foto itu “berpulang” juga. May you rest in peace, Uut dan Imel)

Please follow and like us:

Bagaimana meningkatkan nilai IELTS?

Hai, buat kalian yang sedang berjuang meraih beasiswa untuk bisa sekolah ke luar negeri atau ingin sekolah ke luar negeri yang berbahasa Inggris atau yang ingin pindah domisili ke luar negeri, Nilai IELTS itu sangat penting. Namun, dalam tulisan ini, fokusnya pada nilai IELTS untuk keperluan beasiswa dan sekolah ke luar negeri.

Meningkatkan nilai IELTS berdasarkan pengalaman saya ada beberapa cara:

  1. Lakukanlah Pre tes

Perlu diketahui, biaya untuk ikut test IELTS ini lumayan mahal, jadi alangkah lebih bijak kalau kita lakukan Pre-Test dulu supaya tahu kira-kira nilai kita berapa. Pre test ini tujuannya supaya kita nggak overestimate atau underestimate kemampuan kita. Menurut pengalaman saya, orang-orang yang nggak familiar sama jenis soal IELTS, nilai pretest-nya biasanya kurang bagus sekalipun mereka memang orang jurusan B.Inggris atau yang B. Inggrisnya jago banget sekalipun. Saya punya teman bahkan sudah doktor dari bidang B. Inggris, namun dia tidak pernah punya pengalaman ikut tes IELTS, nilai pre-testnya hanya 6,5. Harapan kita kalau lihat orang jago B. Inggris gitu minimal dapetnya 7 lah yaa.. tp ya jago atau nggak jago, dalam urusan tes kadang nggak terlalu ngaruh. Yang ngaruh itu seberapa familiar kita dengan jenis soal.

Nilai saya sendiri pertama kali ikut pretes malah nggak sampai 5 overall nya, dengan rincian sebagai berikut:

Di simulasi ini nggak ada Speaking karena pihak tempat kursusnya nggak menyediakan simulasi Speaking di pretest.

2. Les

Tips untuk les ini penting banget menurut saya karena bagi saya there is no other way. Saya udah pernah ngalamin jungkir balik belajar Autodidak waktu saya masih mengejar nilai Toefl dan ternyata tidak berhasil. Oiya, fyi, sebelum memutuskan mau punya sertifikat IELTS, saya awalnya mengejar Toefl namun nilai nggak naik-naik. Singkat cerita, saya patah hati sama Toefl dan mencoba peruntungan ke IELTS. Kebetulan ada tempat kursus yang baru buka waktu itu dan mereka datang ke kampus untuk promosi termasuk memberikan fasilitas pretest bagi dosen-dosen yang berminat untuk kursus. Nah sejak itu saya niatin deh ikut kursus. Kursus ini bukan berarti kita downgrading harga diri (ih udah tua kok masih les aja), sumpah jangan mikir gitu.. les itu guru-gurunya dipilih yang memang sudah pernah menaklukkan tes IELTS dan banyak sekali materi yang bermanfaat yang nggak akan kita dapet jika kita belajar sendiri maupun belajar online. Tatap muka sama gurunya itu berharga banget buat kamu yang emang niat banget belajar. Enakan tanya-tanya sama manusial ternyata daripada sama om Google. hehe.. Tempat kursus saya waktu itu di Central Education Lampung, paket kursus IELTS 3 bulan dengan biaya 1,7 jt sudah dapet pre dan post test. Itu harga tahun 2018 ya.. kalo sekarang saya nggak update lagi harga kursusnya.

  1. Tes

Di tempat saya kursus, Central Education juga menyediakan tes IELTS dari IDP yang biayanya 2,9 jt. Oiya biaya kursus nggak termasuk biaya tes IELTS nya. Enaknya di Central Education ini jg kalau kita sudah memutuskan untuk ikut tes IELTS mereka akan kasih full simulasi sebelum tes beneran berlangsung.

Apakah nilai saya jadi naik setelah les? tentu!! di awal overall tidak sampai 5, setelah les, saya 2 kali ikut tes IELTS. Nilai pertama dapet overall 6,5 dan yang ke dua dapat overall 7 (Listening 7,5, Reading 7, Speaking 7 dan Writing 6). Nah ini hasilnya

IELTS pertama

IELTS ke 2

Jadi, buat kamu-kamu yang lagi berjuang meningkatkan nilai IELTS, semangat.. jangan putus asa karena sekalipun tes ini mahalnya sangat mencekik, tapi sifatnya bisa diulang. Maksudnya? ya nggak kayak IPK yang udah cuma bisa sekali aja tertulis di transkrip nilai. Kalo transkrip kan udah nggak akan bisa diulang lagi, kecuali kamu ngulang kuliah di tempat yang berbeda, hehe. Berita baiknya, IELTS masih sangat bisa diulang jika kamu tidak puas akan nilainya.

Satu lagi, jangan sayang sama uang untuk les. Sayanglah sama biaya kegagalan kamu kalo nggak ikut les.

Semoga bermanfaat 🙂

Please follow and like us:

PENGALAMAN MENGURUS PASSPORT ANAK

Jadi baru-baru ini saya mengurus passport untuk ke dua anak saya, Ilyasa (7 thn) dan Benjamin (3 thn) di Kantor Imigrasi Kota Bandar Lampung. Nah tahun 2019 katanya sudah harus daftar lewat Online, jadi perkiraan saya, wah sudah canggih dong ya? keren…keren.. malah kita bisa milih kapan kita akan datang ke kantor imigrasi. Kalau tidak sesuai datangnya dengan tanggal yang kita pilih di aplikasi, kita nggak akan dilayani.

Namun, sayangnya sesampainya di kantor imigrasi di hari yang sudah saya pilih, tidak banyak terdapat perubahan dari jaman di mana sistem pendaftaran masih manual. Hiks… ekspektasi saya ketinggian ternyata.

Ada beberapa hal yang menurut saya tetap saja merepotkan, seperti:

  1. Ketika kita masuk, kita diarahkan untuk mengisi form pendaftaran secara manual padahal kita sudah isi di aplikasi. Jadi kerja 2x dong.. apalagi anak saya ada dua, kemeng banget tangan ini nulis manual. Padahal ekspektasinya bakalan ada mesin scanner barcode yang bisa langsung ngeprint nomer antrian, trus tinggal duduk deh nunggu dipanggil nomer antriannya. Kenyataannya.. masih jauh, say… kita harus nulis tangan dulu dan banyak banget yang diisi sampai selesai baru deh kita dikasih nomer antrian. Hmm…
  2. Selain form pendaftaran, kita juga disuruh isi satu form lagi (blanko) yang isinya seperti surat pernyataan orang tua dan tujuan keberangkatan. Namun, yang saya takjub, form tersebut harus beli di fotokopian (w.o.w). Ini kenapa sistemnya sebegini repot di era 4.0?? dan lagi-lagi harus diisi dengan tulisan tangan 
  3. Barcode yang kita dapat melalui aplikasi, nggak ada yang kasih tau lho kalau itu harus diprin. Di aplikasipun nggak dibilang. Jadi merasa terjebak harus nyari tempat printer. Tp jangan khawatir, kesulitan ini pasti ada solusinya kan? lagi-lagi, mari kita datangi tempat fotokopian kantor imigrasi untuk ngeprin barcode tsb. Saya bingung, buat apa barcode diprin selain di mesin barcode? mau nangis deh… haha ya kan barcode itu fungsinya untuk discan ya sayang? dan diprinnya ya hanya di mesinnya dong? ya nggak sih? ini diprin di printer biasa, di tempat fotokopi dengan harga yang lumayan mahal hanya untuk menunjukkan tanggal kita datang sesuai apa tidak dengan di barcode. OMG.

Jadi, penggunaan aplikasi itu hanya untuk supaya kita punya barcode yang tertulis nama pendaftar passpor, lokasi pendaftaran dan tanggal kedatangan ke kantor imigrasi. Barcodenya sendiri sepertinya tidak terpakai. Correct me if I am wrong yah.. tp seingat saya memang nggak dipakai barcodenya karena nggak ada mesin pemindai (Scan) barcode di sana. hemmm

Oiya, untuk persyaratannya membuat passport anak, nggak jauh beda dengan dewasa. Bedanya kalau anak, ada surat pernyataan orang tua, melampirkan surat nikah dan KTP orang tua. Dokumen yang harus dibawa tertulis semua di aplikasi, seperti akte kelahiran, surat nikah ortu, KTP ortu, KK dll.. (baiknya dicek lagi di aplikasi siapa tau ada yang kelewat). Dan sebaiknya dokumen asli dibawa karena nanti ditanya ketika foto.

Biaya Passport dibayar langsung ke Bank Lampung seharga Rp. 350.000 per orang dan akan jadi selama 7 hari kerja. Untuk proses pengambilan, alhamdulillah sangat mudah, hanya menunjukkan bukti pembayaran saja dan passport bisa langsung diambil.

Tips: 

  • Supaya nggak terlalu capek nulis manual, ada baiknya sebelum waktu yang kita pilih di aplikasi, kita dateng aja ke kantor imigrasi (kalo deket rumah) kemudian minta form pendaftaran dan blanko pernyataan ortu dan tujuan keberangkatan. Setelah itu, tulis aja dulu di rumah sambil santai..
  • Bawa materai
  • Bawa dokumen asli dan kopiannya
  • Untuk anak di bawah 5 tahun, dapat antrian foto prioritas. Jadi lumayan lah ya nunggunya nggak lama buat si Benjamin yang usianya 3 thn. Tapi kakaknya, ya harus antri biasa karena sudah usia 7 tahun. Jadi harus siap-siap si anak bakal bosan dan lapar nunggu antrian. Hehe
  • Terakhir, jangan terlalu berharap banyak akan kepraktisan dengan adanya sistem online.

Semoga bermanfaat

Please follow and like us:

The End Of The Story

Saya tidak tahu sudah berapa lama saya terpaku di atas kasur ini. Memandang nanar ke layar laptop itu, menunggu jawaban yang selama ini saya tunggu. Mungkin lebih tepatnya menunggu akhir dari cerita ini, cerita yang sudah larut dan membuat saya mengantuk.

Ya, kisah percintaan saya dengan Akbar

Saya harap begitu, paling tidak, cerita ini punya akhir seperti layaknya cerita lainnya. Sekalipun ada juga cerita yang dibiarkan koma, tapi saya ingin ini semua ada titiknya. Terserah mau manis atau pahit, saya tidak peduli. Cerita ini sudah terlalu lama terbang di udara. Saya ingin segera mendarat sekalipun berat.

Saya tidak mau lagi seperti sebelumnya, lagi-lagi memberinya kesempatan untuk mengulur-ngulur waktu. Memberinya ruang untuk membuat saya kecewa untuk ke sekian kalinya.

Paling tidak, begitu rencananya. 

Continue reading “The End Of The Story”

Please follow and like us:

Eco Park Ancol Review: A Child-Friendly Tourism Destination in Jakarta

Are you planning to visit Jakarta with your children and still wonder a proper place to hang out? Here is one of recently renowned tourism destinations which will make your family happy, Eco Park Ancol. This place offers a  different experience during your stay in Jakarta.

Jakarta which known as a “concrete jungle” city, seems to be the place where green space is barely available. However, the statement is not completely true, Eco Park will please your eyes with endless green sceneries and natural views. The thought that one can enjoy natural atmosphere in Jakarta is absolutely promising. So, do not hesitate to visit this place!

Location

Located inside a complex of Taman Impian Jaya Ancol, Eco Park can be accessed by private or public transportation. If you’re riding private vehicle, you can simply type  “Ancol” on map application on your GPS or smartphone and the map will guide you right away. But if you want to use public transportation, here are the options:

  1. KRL Commuter
  2. Trans Jakarta Bus
  3. Regular Bus

As you reach Taman Impian Jaya Ancol, follow the signage to Fauna Land, Eco Park as the map below

You need to observe the operational hour of Eco Park before you go. So here it is :

Operational Hour

Thursday 06.00–18.00
Friday 06.00–18.00
Saturday 06.00–18.00
Sunday 06.00–18.00
Monday 06.00–18.00
Tuesday 06.00–18.00
Wednesday 06.00–18.00
Price
The ticket cost IDR 80.000/ person (2018)

What to do

Ecopark offers several activities namely, strolling around the Mini Zoo, watching animal show, photographing, and animal feeding. There is also a mini farm where your kids can plant plantations (but i didn’t go there)

 

So.. here are activities i have experienced in Eco Park, Ancol

 

  1. Strolling around mini zoo

The zoo has several groups of animals like birds group, cattles, and wild animals.

 

 

 

2. Donkey Feeding

Your kids will be happy to do this activity. They are allowed to feed these cute donkeys with carrots.

3. Photographing

There are a lot of photo spots that you can explore and directly post to your social media.


There are other activities like Cycling, Bird Show Watching, Boating, Farming and Organics shopping in Ecopark Ancol that you can enjoy. All of them are children friendly. Do not hesitate to leave your question if you have something to ask.

 

Enjoy your stay in Jakarta

Bye.

 

Please follow and like us: