PACARAN: komitmen yang bias

Terkadang, bahkan sering kita mengalami masa kritis pada hubungan asmara yang kita jalin sekalipun sudah dijalani bertahun-tahun. Pada hubungan yang disebut pacaran, pun tidak selamanya indah sekalipun pada masa ini biasanya para pasangan merasakan manisnya hubungan asmara lebih dominan daripada pahitnya. Pada masa pacaran, tugas, hak serta kewajiban menjadi bias karena tidak ada hukum yang bisa kita pegang sebagai pedoman, tidak ada hukum yang mengatur ataupun melindungi diri kita dalam status sebagai seorang pacar. Lalu pada fase ini, apakah yang sebenarnya ingin kita capai?dan apa yang dapat dijadikan pedoman saat kita menjalanainya?

Pada saat ini, masa dimana pacaran menjadi sangat populer, akan sangat sulit bagi kita yang berjiwa muda menghindari atau menolaknya, karena populernya pacaran menawarkan berbagai hal yang indah menawarkan “madu” yang sangat manis sehingga kita bisa terbuai bahkan merasa ketagihan. Namun, apa jadinya ketika indahnya pacaran sudah sulit kita dapatkan? saat menjadi sulit mendapatkan perhatian yang lebih dari pasangan kita, saat kita tidak lagi diantar kemanapun kita mau, saat kita tidak diberi pelukan saat kita sedih, tidak diberi semangat di saat kita mulai putus asa, tidak mendapatkan dukungan untuk hal-hal yang kita sukai dan kita inginkan, diacuhkan saat kita benar-benar butuh didengar, bukan hanya itu, bahkan kita mendapat hardikan, tamparan, pukulan, ancaman, saat kita membuat kesalahan dan tidak menjalani segala aturan yang dia buat. Hingga suatu saat, kita merasa terus menerus disakiti, terus menerus berusaha keras untuk mengubah sifat buruknya, terus menerus berusaha untuk sekedar mendapat perhatian, diberi belaian kasih sayang, namun tetap saja tidak mendapatkannya, sampai datang rasa lelah dan rasa tidak kuat lagi mejalani hubungan. Lalu apa yang akan kita perbuat? Minta “istirahat”, mencari alternative baca:selingkuh? Atau bahkan putus?

Pada saat seperti ini, ada baiknya kita mempertanyakan kembali pada diri kita, apa sesungguhnya tujuan awal dalam menjalin hubungan pacaran, dan coba memposisikan diri dengan baik.

Ada baiknya kita mulai bertanya pada nurani, Apakah pasangan atau yang biasa disebut pacar kita itu harus bertanggung jawab atas segala kesulitan yang kita alami? Apakah saat pacaran mereka sudah saat nya menerima tanggung jawab atas diri kita? Atau sudah berhak kah mereka mengatur kita? Sudah berhak kah kita atas nafkah mereka? Sudah berhak kah mereka membatasi siapa saja yang boleh menjadi teman kita? Dan disaat kita menuntut mereka untuk selalu “tutup mata” pada lawan jenis agar mereka bisa terus terfokus kepada kita dan hanya setia kepada kita, apakah mereka sudah berkewajiban atas hal tersebut? Lalu dari pihak kita, kita sering kali meminta waktu untuk sekadar bercengkrama di akhir pekan, meminta pasangan kita untuk setidaknya memberi pesan singkat sekali dalam sehari, berharap diberi kado istimewa saat hari ulang tahun kita tiba, Apakah kita sudah benar-benar berhak atas itu semua?

Pacaran memang belajar tentang komitmen, belajar mengenal lebih baik watak dan sifat pasangan kita, belajar memahami kesukaan pasangan kita, belajar mendukung tiap langkah yang ia ambil untuk gapai cita-cita nya, belajar menerima kekurangannya, belajar menerima konsekuensi dari segala kelebihan yang dimiliki pasangan kita (kecantikannya, kecerdasannya, kemudahan dia dalam bergaul, dsb), belajar mengenal dan memahami latar belakang nya, belajar bersikap di saat dia butuh sosok kita sebagai orang yang bisa diandalkan, belajar menjadi pelindung nya, belajar menjadi “rumah” saat dia ingin pulang, belajar menjaga sikap di saat kita bergaul dengan lawan jenis, belajar menjaga harga diri dan kehormatan, belajar memberi kesenangan kepada pasangan, belajar menjaga nama baik pasangan kita, belajar menjaga nama baik diri kita sendiri, belajar menjadi orang yang dapat membuatnya tenang saat kita tidak di sisinya, balajar, dan terus saja belajar untuk mengenal satu sama lain, belajar yang tujuannya agar dapat menjadi “modal” saat kita menikah nanti, belajar tetap pada koridor pengenalan, belajar tidak melampaui batas selama belum ada ikatan suci, belajar tidak melampaui batas dalam meminta, belajar tidak melamapui batas dalam memberi, karena untuk mencapai apa yang kita inginkan untuk mencapai kebaikan, tentu kita membutuhkan dan harus melalui proses.

Saat kita pacaran, porsi kita sebenarnya hanya teman, hanya saja ada sisipan komitmen di dalamnya karena kita mempunyai ketertarikan satu sama lain. Namun, tetap saja pada fase pacaran kita hanya dapat berjalan di dalam koridor pertemanan, separti layaknya teman, ia tidak meminta dan memberi secara berlebihan, jalankan lah lebih santai namun tetap fokus pada tujuan menjalin hubungan ini, yaitu menikah. Dengan demikian semoga apa yang kita pelajari dari pasangan kita selama pacaran dapat bermanfaat saat menapaki jenjang pernikahan nanti.

Please follow and like us: