Movie Review : Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Kali ini saya mau review film yang juga banyak mendapatkan nominasi Oscar 2018 dan membawa pulang dua piala yaitu untuk kategori Actress in a leading role dan Actor in a supporting role
Awalnya saya ragu nonton film ini karena judulnya panjang amat ? dan baca sinopsisnya kayaknya suram. Tapi akhirnya saya putuskan untuk nonton karena mau lihat akting Frances McDormand yang mengalahkan Saoirse Ronan, Margot Robbie, Sally Hawkins dan Meryl Streep di kategori Actress in a leading role Academy Awards 2018.

Plot
Film ini berkisah tentang seorang ibu (Mildred Hayes diperankan oleh Frances McDormand) yang marah dan depresi pasca kematian putrinya yang meniggal karena diperkosa dan dibakar. Kemarahan Hayes makin menjadi karena setelah 7 bulan kasus kematian putrinya, belum juga tertangkap pelakunya.

Akhirnya suatu ketika Hayes punya ide untuk menyewa 3 billboard tua yang sudah 20 tahun tidak pernah lagi ada yang pakai. Ketiga billboard ini berjejer di perbatasan Kota Ebbing, Missouri. Lokasi billboard ini juga merupakan lokasi diperkosanya si anak. Pesan di billboard tersebut merupakan sindirian untuk kepolisian setempat dan khususnya untuk Kepala Polisinya (William Willoughby yang diperankan oleh Woody Harrelson). Pesan dalam billboard tersebut adalah:

Billboard 1 :

“RAPED WHILE DYING”

Billboard 2 :

“AND STILL NO ARREST?”

Billboard 3

“HOW COME CHIEF WILLOUGHBY?”

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Mildred Hayes bersama 3 billboard yang disewanya

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Pesan pada Billboard yang disewa Mildred Hayes

Inti dari pesan di Billboard tersebut adalah bahwa Mildred Hayes mengkritik keras kinerja kepolisian  setempat yang dinilai lamban dan tidak serius menyelidiki kasus yang menimpa anaknya. Dan benar saja, akibat billboard-billboard tersebut, kepolisian seperti “kebakaran jenggot” khususnya bagi Chief William Willoughby dan kaki tangannya Dixon, yang merupakan polisi junior di kepolisian tersebut.

Film ini membawa kritik terhadap beberapa isu yang menurut saya sangat cerdas:

Keseriusan suatu lembaga dalam dalam menjalankan tugasnya

Pada film ini diperlihatkan kondisi kantor kepolisian daerah yang isinya polisi-polisi malas dan tidak bergairah. Akibatnya, masyarakat kurang respect sama aparat kepolisian. Mereka diperlihatkan “berani” sama polisi terutama semenjak Mildred Hayes memasang pesan-pesan sindiran di Billboard.

Penyalah-gunaan wewenang atau kekuasaan yang dicerminkan oleh sikap “mentang-mentang” karena berkuasa maka boleh semena-mena kepada kaum lemah

Dixon, junior Chief Willoughby mencerminkan sikap semena-mena seorang polisi yang berkuasa. Suka menindas yang lemah dan yang dia nggak suka tanpa perlu alasan.

Jangan pernah main main sama emak. Film ini tuh sebenernya tentang The Power of Emak-Emak ?

Yes, bener banget. Jangan pernah main-main sama emak-emak atau hidup lo bakalan kacau. Mildred Hayes merupakan ibu yang sangat marah dan mampu melakukan apa saja untuk mengungkap kasus anaknya.

Jangankan polisi, penjahatnya aja kalo ketemu berani dia lawan

STOP MISSERABLING YOUR LIFE

Sekalipun depresi, Mildred Hayes tidak menunjukkan kedepresiannya tersebut dengan mengasihani dirinya berlarut-larut. Kalau di awal ketika baca sinopsisnya saya ragu mau nonton karena lagi nggak selera nonton film-film sedih, ternyata saya salah. Mildred Hayes cerminan seseorang yang tangguh. Depresinya ditunjukkan dengan aksi yang tidak pernah lelah untuk menuntut keadilan. Keliatan banget kalau dia strong woman. Nggak pernah sekalipun dia menangis di film ini sekalipun dengan bahasa tubuhnya, terlihat kalau dia depresi

AKTING

3 pemain film ini mendapatkan nominasi Oscar, bahkan 2 aktor mendapat nominasi yang sama di satu kategori yaitu aktor pendukung terbaik.

Untuk kategori Actress in a leading role, film ini membawa pulang Oscar.

Akting Frances di sini memang luar biasa. Dia berhasil membawakan karakter ibu yang sedih dan marah tanpa harus menangis tersedu-sedu dan marah ngamuk-ngamuk. Tapi sebagai penonton, saya sangat yakin kalau dia sedang sangat marah dan depresi. Ini pasti akting yang sulit.

Dua peran polisi yaitu Willoughby dan Dixon, mendapatkan tempat di kategori  Actor in a supporting role. Dan Oscar akhirnya dibawa pulang oleh Dixon yang diperankan oleh Sam Rockwell ???

Berikut adalah gambar cuplikan scene di film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Midred bersama Chief Willoughby

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Mildred bersama Dixon

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Wajah depresinya Mildred Hayes

Hasil gambar untuk Three Billboard Outside Ebbing, Missouri

Dixon si polisi yang semena-mena

Membawa pulang dua Oscar
Sekalipun tidak menang di dua kategori yaitu Best Picture dan Best Sound Editing, namun film ini berhasil membawa pulang dua oscar. Alhamdulillah lah ya..

Selamat buat Frances McDorman dan Sam Rockwell. Your work was awesome.

Hasil gambar untuk frances mcdormand oscar

Hasil gambar untuk sam rockwell oscar

Please follow and like us:

I, Tonya Movie Review

I, Tonya Movie Review

Saya mau mereview lagi salah satu film terbaik di tahun 2017. Film ini berjudul I, Tonya. Film ini merupakan film yang berdasarkan kisah nyata yaitu tentang atlet figure skating Amerika yang kontroversial, Tonya Harding.

Di tahun 90an, nama Tonya Harding menjadi sangat terkenal bukan hanya karena prestasi yang ditorehnya namun karena skandal penyerangan terhadap rivalnya di cabang olah raga tersebut yaitu Nancy Kerrigan. Akibat skandal tersebut, Tonya Harding didepak dari asosiasi figure skating di Amerika dan tidak diperbolehkan lagi mengikuti pertandingan apapun. Dan semenjak itu, nama Tonya Harding jadi “bulan-bulanan”/ bahan makian/ joke / bulian di dunia sport amerika. Tragis ya…

Namun walaupun kisahnya tragis, justru kisah Tonya Harding ini sangat menarik untuk diangkat. Karena bagaimanapun masyarakat membencinya, Tonya Harding adalah atlet perempuan Amerika pertama yang melakukan Triple Axel di Olimpiade (lompatan paling sulit di cabang olah raga tersebut). Tonya jelas menoreh sejarah untuk Amerika dan hal tersebut tidak bisa dipungkiri seburuk apapun citra dirinya di mata dunia.

Film ini memang sangat kontroversial karena dinilai sebagai aksi “bela diri” nya Tonya Harding atas tragedi tersebut.

Namun kalau dari perspektif saya sih, film ini idenya keren banget, terserah lah ya dibilang kisah yang nggak valid karena subjektifitasnya tinggi. Tapi ya selama ini juga penilaian terhadap Tonya Harding banyak yang subyektif. Berita juga simpang siur. Jadi saya rasa film ini merupakan momentnya Tonya Harding. Alam semesta sedang berpihak kepadanya. Ya.. gantian dong, sekarang kita membicarakan fakta dari perspektif pelakunya. Biar berita yang selama ini beredar menjadi imbang.

Plot

Film ini dimulai dengan adegan wawancara terhadap Tonya Harding masa sekarang (usia 40an) dan semua orang yang terlibat dengan kisah hidupnya yaitu, ibu, pelatih, reporter media sport, mantan suaminya dan bodygueardnya. Baik Tonya dan orang-orang tersebut diminta untuk menceritakan perjalanan karir Tonya Harding dari perspektif masing-masing.

Hasil gambar untuk I tonya

Tonya Harding yang diperankan oleh Margot Robbie

Tonya Harding memulai karirnya sejak usia dini yaitu 3 tahun dan memenangkan perlombaan Skate untuk pertama kalinya di usia 4 tahun mengalahkan lawan-lawan yang usianya lebih tua darinya. Tonya awalnya ditolak oleh pelatihnya karena terlalu muda. Namun karena skillnya yang udah jago banget di usia tersebut, Tonya akhirnya diterima jadi murid Diane Rawlinson.

Tonya dididik oleh ibu yang keras dan kasar. Ibunya hanya seorang pelayan restoran yang menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk Tonya latihan skate. Maksud si ibu ini bagus sih, tapi caranya abusive. Ibunya ini juga menjahit sendiri semua kostum lomba Tonya karena tidak punya uang untuk membeli apalagi membayar desainer. Namun hubungan mereka tidak berjalan baik. Ibunya digambarkan tidak pernah mengapresiasi segala prestasi Tonya dan kalau Tonya kalah tanding, ibunya akan marah dan menghujaninya dengan caci maki.

Ibu Tonya Harding, Lavona Golden diperankan oleh Allison Janey yang berhasil membawa pulang Oscar atas peran ini. Kalo saya rasa sih ibunya Tonya ini sebenarnya orangnya realistis. Mau anaknya punya nasib lebih baik, mau anaknya juara, tapi karena si ibu nggak pernah punya cara yang lembut atau paling tidak wajar, hubungan antara anak dan ibu ini nggak pernah berjalan mulus. Tonya memutuskan keluar dari rumah dan berpisah dengan ibunya sebelum dia lulus SMA. Sejak itu, Tonya tidak pernah sekolah lagi dan memutuskan fokus di Figure Skating.

Hasil gambar untuk lavona i tonya

Tonya Harding dan Lavona Golden in real life

Hasil gambar untuk lavona i tonya

Tonya Harding kecil bersama ibunya, Lavona Golden di film I, Tonya

Heart-breaking story

Cerita tentang Tonya Harding ini penuh dengan kisah yang heart breaking. Mulai dari ibu yang abusive, keluarga broken home, miskin, suami yang juga abusive dan karir yang hancur.

Keputusannya menikahi sang pacar yang suka mukulin dia menjadi awal petaka untuk karir Tonya.

Pernikahan dengan Jeff Gillooly

Setelah memutuskan pisah dengan ibunya, Tonya tinggal bersama pacarnya yaitu Jeff Gillooly. Karakter Jeff ini agak-agak psyco gitu. Suka mukul trus nanti minta maaf dan sayang lagi. Si Tonya ini kok ya apes terus. Udah ibunya suka mukul, pacarnya juga gitu. Tapi sudah tau begitu, Tonya tetep balik-balik lagi ke pelukannya Jeff bahkan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Mungkin karena si Tonya ini kurang figur ayah. Ketika dia kecil, ayahnya pergi karena perceraian dengan ibunya.

Hasil gambar untuk lavona i tonya

Tonya dan Jeff di film I, Tonya

Hasil gambar untuk tonya harding wedding with jeff gillooly

Tonya dan Jeff in real life

Triple Axel

Sejak menikah, karir Tonya terus melonjak. Tonya yang nggak punya pilihan selain menjadi yang terbaik di bidangnya, totally fokus mengejar impiannya dengan latihan selama 8 jam setiap hari. Namun,  karakter Tonya dinilai kurang cocok untuk merepresentasikan cabang olah raga figure skating yang punya citra berkelas, anggun, klasik, manner, dan lain-lain yang bukan Tonya banget. Akibatnya, Tonya jarang mendapatkan score yang layak di setiap perlombaan yg diikutinya bukan dikarenakan kurang skillful tapi ada penilaian lain yang membuatnya tidak unggul yaitu presentasi. Presentasi di sini maksudnya adalah tampilan (baju, riasan, dan personalitas yang terlihat ketika skating).

Namun semua itu tidak menyurutkan semangatnya. Tonya terbukti mahir di bidang ini dengan pencapaiannya.

“After climbing the ranks in the U.S. Figure Skating Championships between 1986 and 1989, Harding won the 1989 Skate America competition. She was the 1991 and 1994 U.S. champion before being stripped of her 1994 title, and 1991 World silver medalist.[4] In 1991, she earned distinction as being the first American woman to successfully land a triple axel in competition, and only the second woman to ever do so in history (behind Midori Ito). She is also a two-time Olympian and a two-time Skate America Champion” (sumber wikipedia)

Pada tahun 1991 Tonya menoreh sejarah dengan melakukan lompatan triple axel di kompetisi figure skating.

Hasil gambar untuk I tonya

Hasil gambar untuk I tonya

Hasil gambar untuk Tonya Harding

momen saat berhasil landing triple axel

Selain itu, Tonya juga setelah musim gugur tahun 1991, Tonya tercatat menoreh sejarah sebagai wanita pertama:

  • The first woman to complete a triple axel in the short program;
  • The first woman to successfully execute two triple axels in a single competition;
  • The first ever to complete a triple axel combination with the double toe loop.

Tragedy penyerangan Nancy Kerrigan

Karir Tonya Harding hancur ketika dia dituduh terlibat penyerangan atas Nancy Kerrigan. Nancy Kerrigan adalah rivalnya yang sama sama mewakili US untuk olimpiade 1994 di Norwegia. Sekalipun tidak terbukti terlibat dan mendalangi penyerangan tersebut, Tonya Harding tetap dinyatakan bersalah karena dianggap mengetahui rencana penyerangan tersebut namun tidak melapor.

Ironisnya, karena kejadian itu, Tonya Harding dibanned atau tidak diperbohkan mengikuti kompetisi Figure Skating apapun dan dikeluarkan dari Asosiasi Figure Skating USA.

Hm… tragis bener ya..

Tapi sekali lagi, bagi saya film ini merupakan moment buat Tonya Harding untuk meluruskan persepsi orang terhadap dirinya. Kalau saya pribadi, i stand for her because she represents poor people who are willing to reach their dreams.

Bagi saya, perjuangan Tonya Harding cukup inspiratif dalam hal dia bukan anak siapa – siapa dan bukan dari keluarga kaya namun bisa berprestasi di bidang olah raga yang dikenal mahal dan berkelas.

Kesan terhadap film I, Tonya

Yang jelas, habis nonton film ini rasanya langsung kepo sama kehidupan karirnya Tonya Harding. Jadi browsing-browsing dan mulai membandingkan antara pemeran di kisah nyata dan di film. Emang pada mirip-mirip banget sih, pinter emang si Craig Gillespie. Terutama yang jadi Jeff dan Shawn. Sumpah mirip banget

Hasil gambar untuk jeff i tonya

kiri Jeff di film, kanan Jeff asli

Hasil gambar untuk jeff gillooly

ini Jeff di film diperankan oleh Sebastian Stan

Hasil gambar untuk jeff gillooly

Jeff Asli

Hasil gambar untuk shawn i tonya

Shawn Eckardt di film vs real life

Mirip kaaaan?

Kalau Margot Robbie sih emang kurang mirip sama Tonya Harding tapi aktingnya duh bagus banget…. apalagi saat – saat terakhir film. Ini nih yang sedih banget. Saat mau tampil di Olimpiade 1994 yang akhirnya jadi olimpiade terakhir dia

Hasil gambar untuk i tonya margot robbie

disini Margot Robbie berhasil banget ngebawain depresi-nya jadi atlet yang sedang dilanda kasus tapi harus tetap tanding dan tersenyum.

Tapi sayangnya di beberapa part, Margot Robbie masih kerasa kayak Harley Quinn di Suicide Squad. Mungkin agak susah kali ya lepas dari karakter yang kuat banget macam Harley Quinn.

But Overall, film ini menurut saya bagus. Menyentuh dan Margot Robbie keren abis…….

 

 

 

Please follow and like us: